Diplomat tertinggi Palestina di Jepang pada Selasa (6/8) menggarisbawahi persamaan antara kengerian yang tak tergambarkan dari pengeboman nuklir Hiroshima dan serangan di Jalur Gaza selama Upacara Perdamaian Alternatif di Jepang.
Pemerintah setempat di Hiroshima menjamu diplomat asing, termasuk dari Israel, untuk memperingati pengeboman Jepang oleh AS.
Namun, Waleed Siam dari Palestina tidak diundang oleh pemerintah setempat yang menentang tuntutan publik untuk tidak mengundang pejabat dari Israel yang terlibat dalam serangan yang menghancurkan terhadap Gaza.
AS menjatuhkan bom nuklir di Hiroshima, tempat bom atom pertama di dunia, pada 6 Agustus 1945. Kemudian, AS juga menjatuhkan bom nuklir di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Serangan ini mengakibatkan sedikitnya 140.000 kematian pada akhir tahun itu.
Jepang memperingati hari jadinya yang ke-79 atas peristiwa tersebut tahun ini, dan para peserta acara perdamaian di Hiroshima mengheningkan cipta pada pukul 8.15 pagi, waktu ketika AS menjatuhkan bom nuklir pertama pada tahun 1945.
“Sebagai orang Palestina yang menanggung kenyataan brutal di Gaza, saya berdiri di hadapan Anda dengan amarah yang membara dan tuntutan tanpa henti untuk pembebasan dan kebebasan,” kata Siam dalam pidato virtual di acara yang diselenggarakan oleh para relawan.
Jepang tidak mengakui negara Palestina tetapi menjadi tuan rumah Misi Umum Palestina di Tokyo.
“Keberadaan kami dirusak oleh cengkeraman penindasan Israel yang mencekik, dan penderitaan yang kami hadapi adalah akibat langsung dari penindasan yang kejam selama puluhan tahun,” kata Siam kepada para aktivis perdamaian yang berkumpul di Hiroshima.
Namun, ia mengatakan bahwa rakyatnya tidak akan meninggalkan Gaza.
“Kami tetap teguh, ini tanah kami dan tidak ada kekuatan yang dapat memaksa kami keluar dari tanah kami. Kami akan melawan untuk mengakhiri pendudukan militer yang buruk ini,” katanya.
Menyoroti bagaimana para penyintas pengeboman Hiroshima menjadi saksi kengerian yang tak terlukiskan, Siam berkata, “Kami juga menanggung luka-luka dari kampanye pengeboman tanpa henti untuk menghapus keberadaan kami.”
Tanpa menyebutkan kehadiran perwakilan Israel di acara tersebut, diplomat Palestina menyatakan “kekecewaan dan frustrasi yang mendalam bahwa Kota Hiroshima, simbol perdamaian, telah memilih untuk dibajak oleh para penindas dan pendukung mereka sambil mengecualikan para korban.”
“Undangan yang diberikan kepada mereka yang terus-menerus memperparah penderitaan kami, dan tidak adanya suara kami, melemahkan prinsip keadilan yang diperjuangkan Hiroshima,” kata Siam.
Mengapresiasi keputusan pemerintah daerah Nagasaki yang tidak mengundang pejabat Israel, Siam mengatakan, “Kami menyerukan kepada Kota Hiroshima untuk bersikap jujur terhadap kaum tertindas, untuk menghormati komitmennya terhadap perdamaian dengan mengakui dan mengikutsertakan perspektif kaum tertindas dan mengesampingkan para penindas.”
Diplomat Palestina tersebut mengatakan bahwa tuntutan untuk mengakhiri pendudukan Israel bukanlah “permohonan belas kasihan atau simpati”, tetapi “ini adalah tuntutan keadilan, agar dunia menegakkan prinsip-prinsip yang sering mereka khotbahkan tetapi jarang mereka praktikkan.”
“Sudah saatnya menegakkan aturan hukum dan hukum internasional terhadap Israel,” pungkasnya.
Sumber: https://www.aa.com.tr
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








