Delapan LSM internasional mengatakan mereka akan menolak memberikan informasi tentang staf mereka di Gaza dan Tepi Barat kepada Israel. Mereka menentang persyaratan pendaftaran baru, sementara Tel Aviv terus membatasi aliran bantuan ke wilayah yang terkepung tersebut.
Delapan organisasi tersebut yaitu: ActionAid, Alianza por la Solidaridad, Médecins du Monde, Médicos del Mundo, Première Urgence Internationale, American Friends Service Committee, medico international, dan Medical Aid for Palestines. Sikap mereka sejalan dengan keputusan serupa dengan sikap Oxfam dan Doctors Without Borders (MSF).
Langkah ini mereka ambil setelah Israel mencabut izin operasional 37 kelompok bantuan pada Januari. Sebelumnya, mereka menolak untuk membagikan informasi rinci tentang staf, operasional, dan pendanaan yang Israel minta. Israel mengatakan bahwa alasan mereka meminta data tersebut adalah untuk “keamanan dan transparansi”. Data yang Israel minta mencakup detail pribadi tentang anak-anak dan kerabat anggota staf, informasi paspor, dan CV.
Warga Palestina dan kelompok hak asasi manusia telah lama memperingatkan bahwa informasi semacam itu dapat Israel gunakan untuk menargetkan pekerja kemanusiaan dan semakin menghambat operasi bantuan. Israel telah membunuh setidaknya 550 pekerja bantuan di Gaza sejak awal genosida di Jalur Gaza, termasuk 15 anggota staf MSF.
Pekan lalu, badan amal Oxfam yang berbasis di Inggris telah menolak untuk mengungkapkan detail pribadi stafnya kepada Israel. Mereka menyatakan bahwa alasan penolakan mereka adalah serangan berulang Israel terhadap pekerja kemanusiaan.
“Kami tidak akan mentransfer data pribadi yang sensitif kepada pihak yang terlibat dalam konflik. Sebab, hal ini akan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan, kewajiban untuk berhati-hati, dan kewajiban perlindungan data,” kata organisasi tersebut. Mereka juga menyerukan kepada Israel untuk menghentikan tindakan-tindakan yang menargetkan LSM.
Sumber: The New Arab








