Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengajak seluruh keluarga di Indonesia untuk mengubah pola pikir keluarga dalam menerapkan pola pengasuhan dan pola asupan makanan bergizi, terutama bagi anak-anak pada fase 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). “Ternyata anak itu template-nya terbentuk pada 5 tahun usia pertamanya, lebih khusus lagi pada usia 1.000 hari pertama. Ini menjadi template yang membentuk sifat-sifat dasar anak, kemampuan anak dan juga optimal atau tidaknya pertumbuhan dan perkembangan anak,” ujar Hasto saat membuka acara Kelas Orang Tua Hebat (Kerabat) Kehamilan Sehat vs Kehamilan Berisiko Stunting secara daring, Selasa (24/1)
Hasto menjelaskan, stunting banyak terjadi di rentang usia enam sampai 24 bulan atau 1.000 HPK. Karena itu, mengubah pola pikir bahwa protein hewani itu harus dan tidak mahal untuk mengatasi stunting penting untuk dimiliki oleh seluruh keluarga di Indonesia. Pentingnya protein hewani dalam menu sehari-hari harus dikenalkan kepada keluarga, remaja yang akan menikah, juga kepada stakeholder lainnya. “Semangat untuk isi piringku dan kampanye isi piringku yang kaya protein menjadi penting. Satu butir telur sehari itu sudah bisa mengatasi stunting.”
Telur yang mengandung protein, kolin,selenium, yodium, fosfor, besi, seng, serta vitaminA, B, D, dan K, menurut dia, bisa digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan nutrisi anak selama masa pertumbuhan. Selain telur, protein hewani juga bisa diperoleh dari bahan pangan, seperti aneka makanan laut, daging ayam, daging ayam, daging bebek, dan daging sapi. Protein hewani memiliki keunikan dan manfaat yang sebagian besar sulit didapatkan oleh bahan pangan lain, seperti asam amino, jenis vitamin dan mineral tertentu, serta asam lemak. Nilai manfaat biologis protein hewani lebih bagus diserap tubuh.
Keunikan pangan hewani lainnya adalah membentuk hormon dan tulang, baik tulang keras maupun rawan, karena kaya akan kolagen dari asam amino, lemak, dan energi. Nutrisi-nutrisi ini amat sangat penting bagi bayi di bawah satu tahun dan akan lebih baik bila protein hewani dikonsumsi secara variatif. Namun, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2002 melaporkan bahwa asupan protein di Indonesia secara umum masih terbilang rendah. Bahkan, penelitian dari Food and Agriculture Organization of United States menyebut Indonesia adalah salah satu negara dengan pengonsumsian daging dan susu terendah di dunia.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








