Musim dingin memperketat cengkeramannya di Gaza. Kombinasi cuaca buruk, kurangnya tempat berlindung yang memadai, dan blokade Israel terhadap bantuan kemanusiaan, telah menciptakan situasi yang mencekik bagi ratusan ribu warga Palestina yang terlantar. Suhu dingin, hujan tanpa henti, dan angin kencang telah mengubah tempat penampungan darurat menjadi ruang yang hampir tidak layak huni dan tidak bisa memberikan perlindungan.
Pembatasan Israel pada pengiriman bantuan – baik dalam hal kuantitas dan jenis – juga menambah krisis di musim dingin. Pada fase pertama gencatan senjata, seharusnya 600 truk bantuan diizinkan memasuki Gaza setiap hari dan perbatasan Rafah akan sepenuhnya dibuka kembali dalam waktu seminggu. Namun, menurut Hosni Mahna, juru bicara Kotamadya Gaza, jumlah truk yang datang setiap hari jauh dari yang dibutuhkan.
“Gaza membutuhkan 500-600 truk per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar minimumnya, tetapi apa yang sebenarnya masuk tidak melebihi 100 hingga 150,” kata Mahna. Menurut Mahna, Israel tidak hanya membatasi jumlah truk yang diizinkan masuk tetapi juga menentukan jenis bantuan yang diizinkan, yang menyebabkan kekurangan pasokan penting seperti obat-obatan, bahan makanan, dan bahan bakar yang diperlukan untuk mengoperasikan toko roti dan rumah sakit.
“Sistem kesehatan sudah hancur. Malnutrisi meningkat. Risiko kelaparan terus berlanjut,” tambah Hanan Balkhy, direktur regional untuk Mediterania Timur di Organisasi Kesehatan Dunia. Keluarga, termasuk anak-anak dan lansia, tidur di lantai tanah atau semen tanpa isolasi, meningkatkan risiko infeksi dan penyakit. Angin kencang menyobek-nyobek tenda darurat, sementara hujan lebat membanjiri seluruh kamp penampungan, menjadikannya tidak dapat dihuni.
Ketika suhu turun, penyakit yang berhubungan dengan dingin telah menyebar luas di seluruh Gaza, membawa tekanan tambahan pada sistem perawatan kesehatan yang sudah lumpuh. Orang-orang tidak dapat mengganti pakaian basah mereka atau mengeringkan selimut mereka. Pusat-pusat penampungan yang penuh sesak menjadi tempat penularan penyakit karena kurangnya air bersih dan sanitasi yang layak.
Kifah Abunada, seorang dokter Palestina di Gaza, juga menyoroti krisis kesehatan mental di antara pengungsi Gaza: “Kasus kecemasan yang parah, serangan panik, dan buang air kecil yang tidak disengaja telah meningkat karena ketidakstabilan yang konstan dan kurangnya keamanan. Selain itu, anak-anak juga mengalami masalah psikologis, trauma, bermanifestasi dalam PTSD, depresi, dan tekanan emosional jangka panjang.”
Sumber: https://www.aa.com.tr
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








