Rekonstruksi dan pemulihan Gaza setelah agresi brutal Israel selama 15 bulan diperkirakan membutuhkan lebih dari $50 miliar, menurut laporan yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, dan Bank Dunia pada Selasa (18/2). Laporan tersebut merupakan bagian dari Interim Rapid Damage and Needs Assessment (IRDNA), yaitu penilaian cepat terhadap kerusakan dan kebutuhan akibat suatu bencana atau konflik yang dilakukan sementara sebelum penilaian lebih komprehensif. Mereka menyebutkan bahwa total kebutuhan mencapai $53,2 miliar dalam kurun waktu 10 tahun, dengan $20,5 miliar diperlukan untuk upaya pemulihan jangka pendek dalam tiga tahun pertama.
Serangan Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 48.000 korban jiwa, menurut pejabat kesehatan Gaza, serta menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut. Laporan IRDNA mencatat bahwa lebih dari 292.000 rumah hancur atau mengalami kerusakan parah, sementara 95% rumah sakit tidak berfungsi. Sektor ekonomi juga terpukul berat dengan penurunan sebesar 83%.
Selain itu, data dari UNOSAT menunjukkan bahwa hingga 1 Desember 2024, hampir 69% bangunan di Jalur Gaza rusak atau hancur, dengan total 170.812 bangunan terdampak. UNICEF juga melaporkan bahwa setidaknya 496 sekolah mengalami kerusakan, atau sekitar 88% dari total 564 fasilitas pendidikan yang terdaftar, dengan 396 sekolah terkena serangan langsung.
Di sektor pertanian, laporan UNOSAT yang dirilis pada 26 September 2024 mengungkapkan bahwa 68% lahan pertanian Gaza mengalami kerusakan akibat agresi, setara dengan 103 kilometer persegi. Tingkat kehancuran di wilayah Gaza utara mencapai 79%, sementara di Rafah mencapai 57%. Kerusakan juga meliputi aset pertanian seperti sistem irigasi, peternakan, kebun, mesin, dan fasilitas penyimpanan, dengan estimasi kehilangan mencapai 80–96% pada awal 2024.
Jaringan transportasi juga mengalami kehancuran signifikan. Berdasarkan analisis awal UNOSAT pada 18 Agustus 2024, sekitar 68% dari total jalan di Gaza, atau sepanjang 1.190 kilometer, mengalami kerusakan berat.
Laporan IRDNA memperingatkan bahwa meskipun kebutuhan rekonstruksi sangat mendesak, kondisi saat ini belum memungkinkan untuk memulai pemulihan berskala besar. Ketidakjelasan mengenai bagaimana Gaza akan dikelola setelah perang serta keamanan yang belum terjamin, menjadi hambatan utama.
Dari total dana yang dibutuhkan, sekitar $29,9 miliar dialokasikan untuk memperbaiki bangunan dan infrastruktur, termasuk $15,2 miliar khusus untuk pembangunan kembali permukiman. Sementara itu, $19,1 miliar lainnya akan digunakan untuk memulihkan sektor sosial dan ekonomi yang terdampak, termasuk layanan kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan industri.
Meskipun laporan ini memberikan langkah-langkah bagi pemulihan jangka pendek hingga menengah, implementasinya akan sangat bergantung pada stabilitas politik dan keamanan di Gaza. Tanpa solusi jangka panjang yang menjamin perlindungan bagi warga sipil serta akses yang memadai untuk bantuan kemanusiaan, rekonstruksi Gaza akan tetap menjadi tantangan besar pada tahun-tahun mendatang.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








