Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa Indonesia tengah menghadapi risiko tinggi Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio, padahal sebelumnya Indonesia telah menerima sertifikat bebas polio dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO pada 2014. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Maxi Rein Rondonuwu mengatakan penyebabnya adalah cakupan imunisasi polio yang rendah di 30 provinsi dan 415 kabupaten/kota. Catatan ini berdasarkan data dua tahun sebelumnya. Imunisasi merupakan satu-satunya cara untuk mencegah polio.
Meningkatnya risiko KLB ini muncul setelah satu kasus polio di Kabupaten Pidie, Aceh. Pasien dilaporkan mengalami gejala demam pada awal Oktober lalu. Keluhan tersebut juga dibarengi dengan kelemahan otot tubuh yang membuat tubuh pasien sulit bergerak. Diketahui juga bahwa pasien tersebut belum pernah mendapatkan imunisasi polio.
Polio diakibatkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf sehingga dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Penyakit ini menyerang saraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan, sulit bernapas, hingga yang paling fatal adalah kematian. Sekitar 1 dari 200 infeksi polio bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Di antara pasien yang mengalami kelumpuhan, sekitar 5-10 persen meninggal dunia saat otot pernapasan tak bisa bergerak.
Berdasarkan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polio umumnya menyerang anak-anak usia di bawah 5 tahun. Namun, siapa saja yang belum mendapatkan imunisasi polio tetap memiliki risiko terkena. Meski dapat menyebabkan kelumpuhan, beberapa kasus polio tidak menimbulkan rasa sakit yang kentara. Mengutip laman Mayo Clinic, beberapa pasien bahkan tak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi.
Virus polio menular terutama melalui tinja, dan berkembang di saluran pencernaan. Oleh karena itu, lingkungan yang tidak bersih dapat mempermudah penyebaran virus polio. Ketika mengamati perilaku masyarakat di wilayah sekitar lokasi penemuan kasus di Aceh, tim Kemenkes mendapati masih ada penduduk yang buang air besar ke sungai, dan meskipun tersedia toilet lubang, pembuangannya langsung mengalir ke sungai. Sungai tersebut menjadi sumber aktivitas penduduk, termasuk tempat bermain anak-anak.
Penyakit polio dapat dicegah dengan imunisasi pada usia balita. Ada dua jenis vaksin polio yang termasuk dalam program imunisasi dasar. Pertama, vaksin polio tetes atau OPV yang diberikan saat bayi berusia 1, 2, 3, dan 4 bulan. Kedua, vaksin polio suntik atau IPV yang diberikan saat bayi berusia 4 dan 9 bulan.
Maxi menerangkan, dua tahun pandemi Covid-19 telah menghambat program imunisasi dasar. Program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) yang diselenggarakan pemerintah pada Mei dan Agustus lalu juga gagal mencapai target di luar Jawa, ujarnya. Menurut catatan Kemenkes, terjadi penurunan tren cakupan imunisasi OPV dan IPV di Aceh dalam 10 tahun terakhir. Data cakupan imunisasi OPV selama empat tahun ke belakang menunjukkan jumlah kabupaten/kota di Aceh yang diberi status merah, artinya cakupan imunisasi di bawah 50%, terus bertambah. Adapun IPV lebih parah lagi. Pada 2022, seluruh kabupaten/kota di Aceh mendapat status merah.
Kemenkes bersama WHO melakukan survei cepat menyusul penemuan kasus polio di Aceh. Mereka menemukan bahwa dari 30 anak di 25 rumah tangga, baru sejumlah kecil yang sudah mendapat vaksinasi OPV dan tidak ada satu pun yang sudah mendapat IPV. Namun, situasi daerah-daerah lain juga tidak jauh lebih baik. Cakupan imunisasi OPV4 di seluruh Indonesia pada 2021 mencapai 80,2%, turun dari tahun sebelumnya sebanyak 86,8%. Sementara cakupan IPV sudah meningkat dari 37,7% pada tahun 2020 menjadi 66,2% pada 2021, tetapi masih di bawah target.
Menanggapi penemuan kasus ini, Kemenkes berencana melaksanakan imunisasi massal kepada semua anak berusia 13 tahun di Aceh, dimulai dari Kabupaten Pidie pada 28 November mendatang. Pemerintah juga akan meningkatkan imunisasi rutin secara nasional, kata Maxi. “Kita sudah suruh tarik ke Dukcapil. (Imunisasi) setiap desa kita lakukan satu minggu, dan kemudian seluruh Aceh mulai 5 Desember dan dilakukan sebanyak 2 putaran,” jelas Maxi.
Kemenkes juga akan meningkatkan upaya penemuan kasus lumpuh layuh akut di masyarakat. “Kita juga melakukan surveilans yang aktif ke faskes-faskes (fasilitas Kesehatan) untuk melihat jangan-jangan ada yang belum terlaporkan, untuk melihat anak-anak di bawah 15 tahun yang mengalami lumpuh akut secara mendadak,” ujarnya.
Maxi juga melakukan edukasi dan menggerakkan masyarakat untuk mencegah penularan virus polio. Selain itu, pentingnya imunisasi rutin bagi anak serta menerapkan juga hidup yang sehat dan bersih juga menjadi perhatiannya. Maxi mengingatkan bahwa penyakit polio ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kelumpuhan dan tidak ada obatnya. Maka dari itu dia berharap agar masyarakat dapat menjalani hidup sehat dengan mencuci tangan pakai sabun dan menggunakan air matang untuk makan dan minum.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








