Belajar dari Gaza, Kota Para Penghafal Al-Qur’an
Tujuh tahun ke belakang, acara “Hafidz Indonesia” yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Ia menjadi salah satu acara yang digemari keluarga Indonesia. Hal ini berpengaruh pula terhadap visi pendidikan anak dalam keluarga, yaitu untuk memiliki anak yang mampu menghafal dan memahami Al-Qur’an.

https://drive.google.com/drive/u/0/folders/1mPP18dF6KdtfaJW5siciK4OC1Owaa_JH
Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, banyak sekolah yang menawarkan hafalan Al-Qur’an sebagai salah satu program unggulan. Lembaga Al-Qur’an mulai menjamur dengan menawarkan berbagai metode. Begitu pula dengan pelatihan-pelatihan Al-Qur’an yang semakin umum untuk diikuti berbagai kalangan. Bahkan, banyak beasiswa diberikan kepada mereka yang menghafal Al-Qur’an.
https://drive.google.com/file/d/1Z0cv89B8B1yI4R8DsrAlifm8aFM8s6V6/view?usp=sharing
Banyak keluarga yang semakin menyadari bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu pintu keberkahan. Mereka berharap di rumahnya terdapat penghafal Al-Qur’an, sehingga akan hadir kebaikan yang berlipat bagi tempat tinggal mereka. Kebaikan yang berlipat tak hanya berupa materi, melainkan hadirnya ketenangan di jiwa.
Ternyata, ada sebuah kota di belahan bumi luas ini yang sejak dahulu senantiasa menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada anak mereka. Kota apakah itu?
Ia Gaza, kota yang dijuluki kota penghafal Al-Qur’an. Apa yang membuat Gaza digelari julukan tersebut?
- Hampir seluruh penduduknya menghafal Al-Qur’an
Kota Gaza memiliki prinsip, “1 Keluarga, 1 Penghafal Al-Qur’an”. Hal inilah yang menjadikan mereka bersemangat dan berlomba-lomba menghafal al-Qur’an. Pada 2019, lebih dari 700 orang diwisuda karena berhasil menyelesaikan hafalan 30 Juz. Saat ini, total penduduk Gaza yang sudah hafal Al-Qur’an adalah sekitar 50.000 orang. Sementara, sekitar 300.000 penduduknya sedang menghafalkannya. Angka ini menunjukkan tingginya perhatian warga Gaza untuk menghafal Al-Quran
- Para pemimpin Gaza adalah penghafal Al-Qur’an
Sejak di blokade pada peristiwa Nakbah 1948, Gaza terus melahirkan para penghafal Al-Qur’an, tak terkecuali para pemimpinnya. Karena bagi rakyat Gaza, Al-Qur’an merupakan ruh utama perjuangan mereka.
- Para muslimah penghafal Al-Qur’an
Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Agaknya, hal inilah yang menjadi jawaban kenapa anak-anak Gaza memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an dengan cepat. Ibu mereka adalah penghafal Al-Qur’an. Bukan hal yang istimewa jika di Gaza terdengar pengumuman ada seorang ibu, bahkan lansia sekalipun, menjadi penghafal Al-Qur’an. Bagi rakyat Gaza, menghafal Al-Qur’an bukanlah soal usia, melainkan tentang seberapa tinggi kemauan.
- Para tawanan penghafal Al-Qur’an
Himpitan, tekanan, dan siksaan, tidak pernah memupus semangat rakyat Gaza yang ditawan untuk terus menghafal. Mereka memenuhi penjara dengan lantunan tilawah dan setoran hafalan. Tak terhitung jumlah tawanan yang memiliki sertifikat hafalan, sebab sejatinya yang dibatasi oleh jeruji penjara hanya fisik mereka, sementara kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an melewati segala keterbatasan yang sedang dialami.
Dr. Ahmad Bahar yang merupakan wakil Parlemen Gaza mengatakan, “Palestina bangga memiliki 100 ribu tentara yang semuanya telah hafal Al- Qur’an”
- Anak-anak Palestina penghafal Al-Qur’an.
Muhind, seorang anak Palestina yang belum menginjak usia 10 tahun, mampu menghafal Al-Qur’an selama 26 hari. Tidak jauh berbeda dengan Ahmad, temannya, yang berhasil menghafalkannya selama 27 hari.

Kecintaan warga Gaza terhadap Al-Qur’an, sungguh membuat tercengang. Seluruh penduduknya menghafalkannya, tidak peduli usia dan dari kalangan mana mereka berasal. Dalam kondisi yang serba terbatas, yaitu blokade yang tidak berkesudahan, sulitnya akses terhadap berbagai fasilitas, juga diputuskannya hubungan dengan dunia luar, mereka mampu menghadirkan semangat untuk terus menghafalkan Al-Qur’an. Bahkan, dalam kondisi paling mengerikan sekalipun, saat diteror oleh bom, mereka melantunkan Al-Qur’an untuk mengurangi ketakutan. Mereka juga menjadikan Al-Quran sebagai trauma healing bagi segala hal-hal buruk yang mereka alami.
Dari Gaza kita belajar bahwa kesulitan sebesar apa pun, bukanlah halangan untuk menghafal Al-Qur’an. Kota yang sedang mereka tinggali, memang dipenuhi teror dan jauh dari kata nyaman, tetapi keberkahan hidup, tidak dapat diukur hanya dengan hal-hal yang terlihat. Optimisme rakyat Gaza akan masa depan negara mereka yang tengah dijajah, terpancar dari senyuman mereka di tengah segala himpitan. Optimisme itu dapat sesungguhnya dapat dimulai dari rumah kita, dari kita sendiri.
Penulis
Izzatur Rifdah Ismail, Lc.
Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina.
Ia telah menyelesaikan pendidikan strata 1 di Lipia dan sedang menempuh pendidikan tafsir di Universitas Quran Omdurman, Sudan.








