Ketika Muhammad Ahmed meninggalkan rumahnya di Kamp Pengungsi Jabalia, utara Gaza, untuk bekerja, istri dan anak-anaknya khawatir dia akan menjadi korban pengeboman Israel.
Sekitar tiga puluh menit setelah istrinya mengirim pesan kepadanya untuk memastikan dia baik-baik saja, dua serangan udara Israel merobohkan bangunan tempat tinggal tiga lantai mereka (11/10). Serangan tersebut menewaskan seluruh keluarganya, termasuk istri dan anak-anaknya, saudara kandungnya, keponakan laki-laki, dan saudara ipar perempuannya.
Israel telah mengebom Jalur Gaza yang padat penduduk sehingga menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina, setengahnya adalah perempuan dan anak-anak.
Israel juga telah memberlakukan blokade penuh terhadap Gaza dengan menyatakan bahwa tidak ada bahan bakar, makanan, air, listrik, atau pasokan yang diizinkan masuk.
Keluarga musnah
Ahmed, yang bekerja memasok air minum ke warga Gaza, mendapati rumahnya telah hancur menjadi puing-puing saat ia kembali. Keempat anaknya – Haidi (1); Qussai (3); Sidra (6); dan Linda (7) – sedang bermain dengan sepupu mereka Ubaida (2), ketika rumah mereka dibom pada pukul 11.30 waktu setempat.
“Sidra sangat ketakutan. Dia merasa ngeri dengan suara bom tersebut. Tapi adiknya, Linda, selalu menghiburnya sepanjang waktu,” kata Ahmed kepada Middle East Eye. “Saat saya berangkat kerja, dia dan ibunya khawatir saya akan terbunuh. Tapi mereka sudah pergi bahkan sebelum aku.”
Ahmed mengatakan bahwa keponakannya yang berusia satu bulan, Yamen, ditemukan dalam posisi sedang menyusu di bawah reruntuhan. Sementara itu, ibunya sedang memberi makan dan menyusui si bayi ketika dia dibunuh.
“Yamen menderita meningitis dan saya membawanya ke dokter sehari sebelumnya. Dia baru berusia satu bulan dan dia sedang disusui ketika serangan udara menghantam rumahnya,” tambah Ahmed. “Tim SAR membutuhkan waktu berjam-jam untuk dapat mengevakuasi jenazah mereka yang tertimpa reruntuhan gedung tiga lantai,” lanjutnya. “Sampai saat ini, jenazah Haifa, adik saya yang berprofesi sebagai insinyur, masih tertimbun reruntuhan.”
Dalam satu hari di Jabalia, jet tempur Israel menghantam puluhan bangunan tempat tinggal, menyebabkan sedikitnya 65 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Karena kewalahan dengan besarnya jumlah korban jiwa, para petugas layanan kesehatan kesulitan untuk mengidentifikasi anak-anak yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan. Akibatnya, anak-anak sering tiba di rumah sakit dengan kondisi terpisah dari orang tua dan keluarga mereka.
Ditarik dari reruntuhan rumahnya di Jabalia, bersama dengan sekitar 100 orang lainnya yang tewas dan terluka, seorang bayi berusia tiga bulan selamat namun tetap tidak teridentifikasi selama berjam-jam. Untuk menyatukan kembali bayi tersebut dengan keluarganya, Kementerian Kesehatan di Gaza merilis video seorang dokter yang mendekatkan bayi tersebut ke kamera dan meminta keluarga untuk menghubungi rumah sakit jika mereka mengenalinya.
“Kami menemukan bayi ini di Jabalia di utara Gaza. Kami masih belum mengetahui keluarga bayi ini. Pesawat tempur Israel mengebom tempat tinggal mereka, membunuh orang tuanya, dan dia tertinggal di antara reruntuhan. Kami menemukannya beberapa waktu lalu dan masih mencari keluarganya,” kata dokter. “Siapa pun dari keluarga bayi ini yang mengenalinya, harap langsung menghubungi Rumah Sakit al-Shifa.”
Diidentifikasi sebagai Qassem al-Kafarna, bayi tersebut akhirnya berhasil bertemu kembali dengan keluarganya beberapa jam kemudian. Menurut kerabatnya, ayah bayi tersebut, saudara laki-lakinya, dan empat sepupunya tewas dalam serangan udara.
Ciuman perpisahan
Di Kamp Pengungsi Khan Younis di Jalur Gaza selatan, pada Rabu (11/10), serangan udara Israel menghantam sebuah rumah tempat keluarga Abutair mencari perlindungan sehari sebelumnya. Serangan tersebut menewaskan dua anak, Firas (14) dan Ahmed (11), sementara saudara ketiga mereka, Kamal, dan ayah mereka, selamat tetapi membutuhkan perawatan intensif.
Duduk di kursi roda dengan lengan terbalut gips panjang, video Kamal beredar di media sosial sambil menangis histeris, mengingat kejadian saat ia dan adiknya tertimpa reruntuhan. “Kami sedang tidur. Saya terbangun karena suara dentuman. Kakakku meneriakkan namaku – ‘Kamal, Kamal’. Aku bersumpah demi Tuhan dia masih hidup, tapi karena ada batu di mulutnya, dia tidak bisa meneriakkan namaku. Dia hanya berkata ‘hmmm, hmmm”, kata anak laki-laki itu.
“Firas, tolong jawab aku, Firas! Aku ingin menciumnya, aku ingin menciumnya,” serunya, sebelum seorang petugas kesehatan membawanya ke tubuh saudaranya dan membantunya mengucapkan selamat tinggal pada saudaranya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








