Dalam rangka perjalanan “Bashmah Journey”, 4 orang dari tim Adara berkesempatan mengunjungi perbatasan Palestina pada Kamis (8/12). Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam dengan jalanan berkelok-kelok di antara bukit-bukit.
Perbatasan itu dikelilingi oleh tembok yang sangat panjang dan tinggi. Pada tembok ini terdapat banyak lukisan yang menggambarkan perjuangan dan cita-cita kemerdekaan bangsa Palestina.
Tim Adara juga berkesempatan menuliskan “Sahabat Adara” dan menggambar bendera Indonesia pada tembok tersebut.
Selain menyusuri tembok, tim juga melihat perbatasan dari atas bukit. Dari atas bukit tersebut kita bisa melihat bagaimana rumah-rumah pemukim tersususn dengan rapi, sangat jauh dengan keadaan kamp para pengungsi Palestina.
Terlihat juga pabrik apel dan perkebunan apel yang menjadi devisa para pemukim Zionis di sana. Apel-apel tersebut telah dieksport ke beberapa negara, padahal tanah dan sumber daya alam itu sebenarnya milik Palestina. Terlihat juga mercusuar yang mengintai setiap orang yang lewat di sekitar perbatasan.
Desa ini merupakan wilayah perebutan antara Zionis Israel dan Lebanon. Sebagian dari penduduk desa dekat perbatasan ini merupakan penduduk Palestina, yang kemudian dianggap sebagai penduduk Lebanon.
Perjalanan ke perbatasan ini membuat kita menyadari bagaimana dampak penjajahan dan kesulitan yang dihadapi bangsa Palestina. Semoga suatu hari nanti Palestina dapat menempati kembali rumah-rumah dan perkebunan tersebut.





![Konferensi pers Palestine Festival yang diselenggarakan di Gudskul, Jagakarsa, pada Ahad [30/11] sebagai rangkaian menuju event kemanusiaan akhir tahun 2025. Acara ini memperkenalkan teater bertema keteguhan rakyat Gaza dalam menghadapi genosida. Konferensi pers turut dihadiri para pemain teater: David Chalik, Bella Fawzi, Robert Chaniago, dan Cholidi Asadil Alam.](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/12/DSC00773-120x86.jpg)

