Seorang mantan pejabat Otoritas Palestina mengatakan bahwa bantuan ekonomi yang akan datang selama kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Timur Tengah tidak akan dapat menggantikan hak-hak sah rakyat Palestina. Presiden AS rencananya akan bertemu dengan Presiden PA Mahmoud Abbas. Rencana tersebut akan berlangsung pada hari Jumat di Betlehem, di Tepi Barat yang Israel jajah.
“Akan menyenangkan memiliki akses internet 4G [seperti yang duta besar AS Thomas Nides janjikan],” kata Mohammed Mustafa, mantan wakil perdana menteri PA dan mantan kepala eksekutif Paltel, operator telekomunikasi terbesar di wilayah Palestina, “namun, itu jelas bukan pengganti untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar seperti Al-Quds (Yerusalem), kedaulatan, atau kebebasan. Israel berpikir orang akan melupakan hal yang lebih besar.”
Menurut Al-Sharq al-Awsat, kunjungan Biden juga dapat memungkinkan AS untuk memulihkan dana ke rumah sakit di Al-Quds (Yerusalem) Timur yang Israel jajah. Secara historis, rumah sakit tersebut melayani warga Palestina. Namun, Mustafa tidak sendirian dalam berpikir bahwa diplomasi AS bermaksud untuk menekankan manfaat ekonomi di atas isu-isu inti dari konflik tujuh dekade Israel-Palestina.
Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengadopsi pendekatan “menyusutkan konflik” dengan “meningkatkan peluang ekonomi”. Hal tersebut berlaku terutama di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diblokade. Salah satu kebijakan kunci yang mereka terapkan adalah dengan meningkatkan izin bagi warga Palestina, termasuk penduduk yang berasal dari Gaza, untuk mencari pekerjaan yang relatif menguntungkan di Israel.
“Pemerintahan Biden telah jatuh ke dalam perangkap Israel, yang memecah-belah semua hak Palestina di bawah hukum internasional. Mereka kemudian menggunakannya sebagai kartu remi, seolah-olah mereka memberikan konsesi kembali kepada Palestina,” Al-Sharq Al-Awsat mengutip perkataan pengusaha terkemuka Palestina-Amerika Sam Bahour. “Palestina dapat terkelola dengan internet yang lebih lambat, tetapi bukan tanpa status kenegaraan,” tambahnya, “kami tidak membutuhkan 4G. Kami membutuhkan generasi keempat Palestina untuk tidak hidup di bawah penjajahan militer.”
Sumber:
https://www.#/20220713-palestinians-refuse-to-bargain-their-rights-in-exchange-for-us-economic-aid/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







