Lebih dari 150.000 orang, sekitar setengahnya adalah anak-anak, terkena dampak parah banjir di Niger dan Nigeria dalam beberapa pekan terakhir, terang Save the Children (15/9). Hujan deras diperkirakan akan berlanjut di Niger selatan dan Nigeria utara hingga akhir September dan dapat menyebabkan hilangnya lebih banyak rumah, tanaman, dan ternak. Sejak awal Juli, curah hujan yang tinggi telah memengaruhi masyarakat di sepanjang perbatasan Niger-Nigeria. Banjir telah menghanyutkan atau merusak sedikitnya 14.900 rumah, memaksa penduduk terdampak untuk mengungsi. Sebagian besar keluarga pengungsi terpaksa berlindung di sekolah, bangunan terbengkalai, tenda darurat, atau di tempat anggota keluarga.
Banjir telah mendatangkan malapetaka di wilayah Maradi, Zinder, Tillaberi, dan Tahoua di Niger, juga di negara bagian Borno, Yobe, dan Adamawa di Nigeria. Lebih dari 100.000 orang telah terkena dampak di Niger saja.
Konflik dan ketidakamanan selama beberapa dekade, bersamaan dengan kekeringan dan curah hujan yang buruk, telah merusak sumber makanan dan mata pencaharian di seluruh Niger dan Nigeria. Hal tersebut membuat lonjakan tingkat kelaparan, terutama di daerah yang terkena hujan deras. Di negara bagian Yobe, Nigeria, diperkirakan 1,6 juta orang (hampir 40% dari populasi) tidak memiliki makanan. Di Niger, anak-anak di bagian timur dan selatan negara itu, khususnya di Maradi dan Zinder (dua wilayah yang rusak parah akibat banjir) adalah yang paling terkena dampak kelaparan. Diperkirakan 6,3 juta anak balita di Sahel (wilayah luas yang membentang di sepanjang tepi selatan Sahara dari Atlantik hingga Laut Merah, terdiri atas 10 negara Afrika) sudah diprediksi menderita gizi buruk.
Kolera juga menciptakan bahaya tambahan bagi anak-anak. Dengan kasus penyakit yang ditularkan melalui air, jumlah anak yang terpapar kolera melonjak di negara bagian Maradi, Zinder, dan Borno. Lebih dari 90 kasus kolera telah dilaporkan di negara bagian Borno, Nigeria, dengan mayoritas kasus yang diduga menyerang anak-anak di bawah lima tahun.
Menurut pakar iklim PBB, wilayah Afrika, termasuk Sahel kemungkinan akan mengalami peningkatan frekuensi, intensitas, dan/atau kuantitas hujan lebat sebagai akibat dari perubahan iklim. Risiko kejadian hujan lebat ini meningkat seiring dengan naiknya suhu.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







