Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan Palestina mengungkapkan bahwa otoritas penjara Israel memberlakukan kondisi yang keras dan merendahkan martabat terhadap tawanan anak Palestina di Penjara Megiddo. Perlakuan ini mencerminkan taktik hukuman yang juga diberlakukan terhadap tawanan dewasa sejak dimulainya genosida Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023.
Dalam pernyataannya pada Rabu (13/8), komisi tersebut menyebut para tawanan anak ditempatkan di sel-sel kosong dengan isolasi yang sangat ketat dan dilarang menerima kunjungan keluarga, sebagaimana dialami ribuan tawanan lainnya. Pihak administrasi Penjara Megiddo secara sengaja membawa anak-anak yang ditahan ke ruang kunjungan dengan tangan dan kaki dibelenggu, mata ditutup kain, dan kepala ditutupi kantong hitam.
Setelah berada di ruang kunjungan, penutup mata dilepas, tetapi tangan mereka tetap diborgol sehingga sulit memegang telepon, sementara kaki tetap dirantai. Meskipun ada tuntutan hukum berulang untuk melepaskan borgol selama kunjungan, pihak penjara menolak memenuhinya.
Seorang pengacara komisi yang baru-baru ini mengunjungi para tawanan anak melaporkan bahwa ruang tawanan tidak memenuhi standar minimum internasional untuk hak anak maupun hak tawanan. Sel-sel tersebut kotor, dipenuhi serangga, memiliki ventilasi dan pencahayaan yang buruk. Para tawanan anak juga mengalami pelecehan verbal setiap hari, pemukulan, kurungan isolasi, pelecehan seksual, dan hukuman kolektif.
Komisi juga memperingatkan kembalinya wabah kudis di Penjara Gurun Negev akibat pemindahan tawanan secara acak, larangan penggunaan perlengkapan tidur pribadi, serta pemaksaan penggunaan ranjang bekas tawanan yang terinfeksi. Selain itu, para tawanan, termasuk perempuan, harus menanggung kondisi yang tak tertahankan di tengah gelombang panas ekstrem, dengan sel-sel penjara yang berubah menjadi “oven pembakar.”
Sumber:
Rights group: Palestinian minors in Megiddo prison face abuse, isolation, inhumane conditions







