Armada sipil dan kemanusiaan terbesar sejak blokade Israel di Gaza dimulai siap berlayar menuju Jalur Gaza. Armada ini dikenal sebagai Global Sumud Flotilla, gabungan dari empat gerakan besar: Freedom Flotilla Coalition, Global March to Gaza, Sumud Convoy, dan Asian Sumud Nusantara.
Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, yang turut serta dalam armada ini, menegaskan bahwa misi tersebut bukan sekadar pelayaran, melainkan bentuk perlawanan terhadap genosida dan upaya Israel menghapus bangsa Palestina. Armada ini membawa aktivis dari puluhan negara, termasuk anggota parlemen Eropa, dokter, jurnalis, dan tokoh publik seperti mantan Wali Kota Barcelona, Ada Colau.
Menurut penyelenggara, tujuan misi ini adalah mengirimkan bantuan kemanusiaan langsung ke rakyat Gaza yang sedang menghadapi kelaparan resmi menurut IPC, sekaligus menantang blokade Israel yang melanggar hukum internasional. “Ini bukan hanya kapal yang membawa makanan dan obat-obatan, tapi juga harapan jutaan manusia,” kata Melanie Schweizer, pengacara dan anggota komite pengarah.
Namun, di sisi lain, Israel justru menyiapkan rencana keras untuk menghadang armada tersebut. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dikabarkan mengusulkan strategi baru yang lebih represif daripada penangkapan dan deportasi sebelumnya. Rencana itu mencakup pemenjaraan para aktivis dengan kondisi keras, penyitaan kapal untuk dijadikan armada polisi, hingga tuduhan keterkaitan dengan “terorisme”.
Israel berusaha membenarkan langkahnya dengan dalih bahwa para aktivis melanggar “zona militer tertutup”. Narasi ini sering dipakai untuk melegitimasi tindakan kekerasan terhadap misi damai sebelumnya.
Meski demikian, kehadiran ribuan aktivis dari 44 negara dalam Global Sumud Flotilla menunjukkan bahwa solidaritas dunia terhadap Palestina kian meluas. Di tengah ancaman represi Israel, armada ini menjadi simbol bahwa suara kemanusiaan tidak bisa dibungkam.
sumber:
Global Sumud Flotilla to Sail Toward Gaza Today to Break Israeli Blockade








