Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan terbesar abad ini. Kelaparan tidak hanya merenggut nyawa anak-anak dan warga sipil, tetapi juga menjatuhkan para pekerja kemanusiaan dan jurnalis yang selama ini menjadi saksi dan penyambung suara dari wilayah yang terkepung ini.
PBB mengonfirmasi bahwa dalam 48 jam terakhir, sejumlah stafnya di Gaza pingsan karena kelaparan dan kelelahan. Juliette Touma, Direktur Komunikasi UNRWA, menyatakan bahwa para dokter, perawat, jurnalis, dan pekerja kemanusiaan, termasuk staf PBB, jatuh sakit saat berjuang membantu sesama. “Mencari makanan kini sama mematikannya dengan serangan bom,” ujarnya dari Amman.
Organisasi HAM PBB (OHCHR) mencatat, sejak Gaza Humanitarian Foundation (GHF) mulai beroperasi pada akhir Mei, setidaknya 1.054 warga Palestina telah dibunuh saat berusaha mengakses bantuan pangan. Dari jumlah tersebut, 766 terbunuh di dekat titik distribusi GHF dan 288 lainnya di dekat konvoi bantuan milik PBB atau LSM.
GHF, yang dibentuk oleh otoritas Israel dan AS dengan mengabaikan badan PBB, dikecam UNRWA sebagai “perangkap maut sadis.” Touma menyebut sistem distribusinya sebagai perburuan massal terhadap warga sipil tanpa pertanggungjawaban.
Sementara itu, Agence France-Presse (AFP) mengeluarkan peringatan yang belum pernah terjadi dalam 80 tahun sejarahnya: mereka terancam kehilangan jurnalis karena kelaparan. Sembilan jurnalis lokal mereka di Gaza kini bekerja tanpa makanan, air bersih, atau listrik, berpindah dari kamp ke kamp dengan berjalan kaki atau gerobak keledai demi menghindari serangan udara Israel.
Salah satu reporter senior AFP, Bashar, menulis: “Saya tidak lagi punya tenaga untuk bekerja. Tubuh saya kurus. Saudara saya tumbang karena kelaparan.”
Walaupun gaji mereka dibayar, para jurnalis itu tak bisa membeli apa pun. Toko-toko kosong, harga barang kebutuhan pokok meroket hingga ribuan persen, dan sistem perbankan lumpuh. Bahkan untuk mencairkan uang, mereka harus membayar komisi hingga 40%.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa hanya dalam 24 jam terakhir, 99 orang terbunuh dan lebih dari 650 terluka saat mencoba mengakses truk bantuan. Kini total “Syuhada Roti” mencapai 1.021 orang terbunuh dan lebih dari 6.500 terluka.
Di tengah bencana ini, WHO juga melaporkan bahwa tiga serangan Israel telah menghantam gedung yang menampung staf WHO di Deir al-Balah. Gudang utama WHO hancur, dan staf bersama keluarganya terpaksa melarikan diri ke Al-Mawasi di bawah tembakan tanpa perlindungan.
UNRWA menegaskan bahwa ribuan paket makanan, obat-obatan, dan alat kebersihan kini tertahan di luar Gaza karena Israel menutup akses. Seperempat penduduk Gaza menghadapi kelaparan ekstrem, dan sekitar 100.000 perempuan dan anak-anak menderita malnutrisi akut.
“Bantuan kemanusiaan bukan pekerjaan tentara bayaran,” tegas Touma. “Kami punya pengalaman dan kapasitas untuk menangani ini secara aman dan luas, tapi kami terus diblokade.”
Di tengah dunia yang bungkam, para jurnalis, tenaga medis, dan pekerja kemanusiaan terus bekerja untuk menunjukkan genosida yang dibiarkan terjadi di Gaza.
Sumber:
https://qudsnen.co/un-gaza-aid-workers-fainting-from-hunger-as-humanitarian-access-shrinks/
https://qudsnen.co/afp-since-our-founding-we-lost-journalists-in-war-but-never-to-starvation/








