Usianya masih 24 tahun ketika Abdul Kahar Mudzakkir turut serta sebagai wakil umat Islam Indonesia (Centraal Committee al Islam Surabaya) di forum internasional di Baitul Maqdis, Al-Quds (Yerusalem), Palestina. Forum itu adalah Muktamar ‘Alam Islami yang pertama, sebuah forum persaudaraan yang diadakan pada 1931 oleh utusan dari berbagai negara Islam atau negara berpenduduk muslim yang tengah menapaki ‘masa perjuangan kemerdekaan’, yaitu berjuang melepaskan diri dari penjajah dan meraih kemerdekaan.
Sejak menuntut ilmu di Kairo, Kahar sering berkunjung ke berbagai negara Timur Tengah menghadiri konferensi Islam tingkat dunia, aktif memperkenalkan Indonesia yang sedang berjuang melepaskan diri dari penjajahan. Ia juga mengirimkan tulisan-tulisannya ke surat kabar Mesir seperti al-Ahram, al-Balagh, dan al-Hayat. Hal tersebut membuat namanya dikenal di kalangan aktivis Islam di Mesir. Pada 1931, ia diminta oleh Mufti Besar al-Quds, Sayid Amin al-Husaini untuk menghadiri Muktamar Islam Internasional di Palestina mewakili Asia Tenggara. Kahar pun menyurati Partai Syarikat Islam Indonesia untuk mendapatkan persetujuan kemudian berangkat ke Palestina sebagai peserta termuda. Kesempatan baik itu dimanfaatkan Kahar untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia Islam.
Kahar diundang dan hadir pada forum tersebut bersama Abubakar Al Asy’ari, pemuda Malaya (kelak menjadi negara Malaysia) yang sama-sama sedang belajar di Kairo, Mesir. Bersama ratusan pemuda dari Semenanjung Melayu–ketika itu disebut Djawah, keduanya aktif dalam Organisasi al-Jam’iyah al-Khairiyah al-Azhariyah al-Jawiyah, di bawah pimpinan Djanan Thaib. Melalui wadah tersebut, sejak 1925, mahasiswa Djawah aktif mengobarkan semangat antipenjajahan dan kemerdekaan untuk Indonesia dan Malaya. Gagasan dan suara mereka kemudian dituangkan melalui tulisan-tulisan yang diterbitkan di majalah-majalah yang mereka rintis, yaitu Seruan Azhar, Pilihan Timur, Merdeka, dan Usaha Pemuda.
Pada Muktamar ‘Alam Islami di Baitul Maqdis, panitia memiliki kebijakan untuk memilih dua orang pengurus berdasarkan usia para peserta atau utusan yang hadir. Jabatan ketua dipercayakan kepada peserta dengan kriteria umur tertua, sedangkan sekretaris dipercayakan kepada peserta dengan kriteria umur termuda. Dengan aturan tersebut, terpilihlah Syekh Muhammad Amin al-Husaini yang berasal dari Palestina sebagai ketua (rais), sementara pemuda Indonesia, Abdul Kahar Mudzakkir tepilih sebagai sekretaris (katib).

Ketika itu, usia Al-Husaini 38 tahun, sementara Kahar 24 tahun. Kiranya inilah perjumpaan pertama Muhammad Amin al-Husaini dengan putra Indonesia sekaligus mengenal perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda. Muktamar Islam di Palestina itu telah menyatakan dukungannya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setiap kali dilangsungkan muktamar serupa sebagai kelanjutannya, senantiasa pula dukungan kepada bangsa Indonesia tidak pernah terlupakan. ![]()
Adapun isi atau agenda muktamar pada 1931 itu adalah untuk mencegah zionisme ketika pemerintah Inggris berkuasa di Palestina. Dalam artikel berjudul “Israel Didirikan dengan Melakukan Gerakan-gerakan Teror” disebutkan siasat pemerintah kolonial Inggris ketika berkuasa di Palestina. Artikel tersebut memuat penjelasan mengenai sejarah Palestina yang tidak pernah berdiri sebagai negara Yahudi, tetapi selalu di bawah kekuasaan negara-negara asing seperti Mesir, Babilonia, dan Assiria. Ide negara Yahudi baru muncul melalui gerakan zionisme yang kemudian ditegaskan dengan Deklarasi Balfour untuk memberikan Palestina sebagai tanah air bagi Yahudi.
Siasat kolonial Inggris dengan mengeluarkan Deklarasi Balfour segera disambut oleh Zionis. Pada 1917, ketika Perang Dunia I berakhir, bangsa Yahudi di Palestina hanya berjumlah 50 ribu jiwa di tengah-tengah bangsa Arab yang berjumlah 700 ribu jiwa. Setelah keluarnya Deklarasi Balfour, orang-orang Yahudi dari Barat berdatangan ke Palestina dan menduduki tanah-tanah rakyat Palestina tanpa ada pencegahan dari pihak penguasa Inggris. Teror terus berlangsung terhadap orang-orang Arab, sedangkan penguasa Inggris ketika itu hanya berpangku tangan.
Prof. Vincent Monteil, seorang orientalis dan guru besar Universitas Sorbonne, Paris, berpandangan bahwa masalah Palestina adalah perjuangan dari suatu bangsa yang bertujuan membebaskan negerinya dari pendudukan asing, dan bukan menyangkut masalah agama. Ia bahkan menyebut bahwa Israel sekarang ini bukanlah keturunan Bani Israil sebagaimana termaktub dalam Injil.
“Israel sekarang ini bukan lah keturunan Bani Israil seperti termaktub dalam kitab Injil, melainkan pendatang dari luar, dari negara-negara Barat dengan menggunakan nama agama. Yang dikehendaki oleh penduduk asli negeri itu adalah Palestina harus dijadikan sebagai suatu negara yang berdemokrasi; baik orang Yahudi, Nasrani, maupun Islam dapat hidup berdampingan dalam suasana damai dan tenteram sebagai jalan keluar memecahkan masalah tersebut.”
Kelak, Muktamar umat atau negara Islam pertama di Palestina ini menjadi embrio dan cikal bakal terbentuknya World Moslem Conference atau Muktamar al-’Alam al-Islamy yang secara formal dicetuskan dalam muktamar kedua yang digelar di Karachi, Pakistan, pada 19–20 Februari 1951. Jika pada tahun 1931 hanya negara-negara di semenanjung Laut Merah yang hadir, maka pada muktamar kedua ada 40 negara yang hadir. Hal ini tidak lepas dari situasi dunia Islam yang ketika itu menemukan kembali kepribadiannya karena tercapainya kemerdekaan. Di antara negara yang hadir adalah Afghanistan, Albania, Aljazair, Kamerun, Republik Afrika, Chad, Dahomei, Guinea, Indonesia, Iran, Iraq, Pantai Gading, Jordan, Kuwait, Lebanon, Libya, Malaysia, Mali, Mauritania, Maroko, Niger, Nigeria, Pakistan, Arab Saudi, Senegal, Siera Leone, Republik Somalia, Sudan, Syria, Zanzibar, Togo, Tunisia, Turki, Republik Persatuan Arab, Upper Volta, Taman, Gambia, Brunei, Maldiv, dan Yaman Selatan.
Penulis: Fatmah Ayudhia Amani, S.Ag
Diploma in Islamic Early Childhood Education (International Islamic College Malaysia)
S1 Tafsir dan Ulumul Qur’an (STIU Dirosat Islamiyah Al Hikmah Jakarta)
Sumber dari Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamadun
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








