Ramadan di Jalur Gaza tidak lagi menyerupai momen yang biasa terjadi. Dulu, Ramadan adalah bulan yang identik dengan ketenangan, ibadah berjemaah dan hidangan berlimpah. Namun, kini Ramadan penuh dengan suara serangan dan berbagai dampaknya. Terjadi banyak pengungsian massal, kehancuran, kekurangan sumber daya yang parah, dan perubahan radikal dalam detail kehidupan sehari-hari.
Salat berjemaah dan kegiatan Ramadan yang dulunya memenuhi lingkungan dengan keramaian kini telah menurun. Setelah ratusan masjid hancur, banyak keluarga melaksanakan ibadah mereka di dalam tempat penampungan atau di rumah-rumah yang rusak. Mereka melakukan ibadah di tengah suasana kehati-hatian dan kurangnya rasa aman.
Warga Gaza melaksanakan salat Tarawih di reruntuhan masjid yang hancur dan di tempat salat darurat yang mereka dirikan di dalam tenda yang terbuat dari nilon dan kayu. Mereka melaksanakan salat di tengah kehancuran besar akibat genosida Israel. Tak ada tempat ibadah yang layak setelah lebih dari 1.015 masjid menjadi sasaran serangan Israel. Menurut data dari Kantor Media Pemerintah di Gaza, lebih dari 835 masjid hancur total dan lebih dari 180 masjid rusak sebagian selama dua tahun genosida.
Hidangan di meja saat Ramadan tidak lagi mencerminkan kelimpahan seperti biasanya. Kelangkaan pangan dan harga yang tinggi telah mengubah kondisi iftar dan sahur. Penduduk hanya bisa menyajikan makanan yang lebih sederhana dan seringkali bergantung pada bantuan; apa pun yang tersedia itulah yang dimakan. Dengan pemadaman listrik dan kelangkaan air, persiapan sehari-hari telah menjadi beban tambahan bagi keluarga.
Kunjungan keluarga yang merupakan pilar utama semangat bulan Ramadan, telah menurun karena perpindahan dan penyebaran kerabat. Banyak orang memilih komunikasi melalui telepon, jika memungkinkan. Sementara itu, anak-anak menjalani Ramadan yang berbeda dengan lebih sedikit kegembiraan, dekorasi, dan permainan.
Ramadan yang Dulunya Penuh Ketenangan, Kini Menjadi Penuh Ketegangan
Ghassan Fayyad, pengungsi dari Beit Lahia yang tinggal di sekolah UNRWA di sebelah barat Gaza, mengatakan bahwa tahun ini ia tidak merasakan datangnya Ramadan seperti biasanya. “Begitu mendengar bahwa Ramadan akan segera tiba, kami biasanya merasa gembira. Akan tetapi, hari ini satu-satunya yang ada di pikiran kami adalah kapan penderitaan kami akibat pengungsian dan tinggal di dalam tenda akan berakhir.”
Ia mengenang Ramadan terakhir yang ia habiskan di rumahnya. “Saya dan warga sekitar membersihkan lingkungan kami, memasang hiasan bercahaya di tiang listrik, dan membersihkan masjid. Kami mempersiapkannya untuk menerima jemaah. Hari ini tidak ada masjid, tidak ada lingkungan, tidak ada orang, dan tidak ada lagi kenangan indah yang tersisa.”
Ia melanjutkan, “Kami merindukan orang-orang terkasih yang telah tiada. Ramadan kini terasa hampa tanpa kunjungan dan ikatan keluarga. Tidak ada lagi ritual, undangan, manisan, atau salat Tarawih. Ramadan dulunya adalah masa ketenangan jiwa, tetapi sekarang hanya ada ketegangan dan kelelahan.”
Sumber: Palinfo, Middle East Monitor








