ACEH — Adara Relief International bersama Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyalurkan bantuan kemanusiaan sekaligus meninjau langsung kondisi bencana di Aceh. Agenda ini berlangsung pada 13-14 Januari 2026.
Perjalanan ini menjadi wujud kolaborasi lembaga-lembaga filantropi yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Meski GPCI lahir dari solidaritas untuk Palestina, semangat kemanusiaan tersebut juga mendorong langkah nyata untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana di dalam negeri.

Tim mendarat di Banda Aceh pada 13 Januari, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Lhokseumawe. Esok harinya, tim berangkat ke Kabupaten Aceh Tamiang—wilayah yang tercatat sebagai daerah dengan dampak paling parah.
Tamiang: Lumpur Pekat dan Hancurnya Bangunan
Dari 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 18 wilayah terdampak bencana banjir bandang dan longsor. Bahkan, Banda Aceh sempat mengalami pemadaman listrik hingga berminggu-minggu. Namun, kondisi terberat terletak di Kab. Aceh Tamiang, Aceh.

Lumpur kering yang tebal masih menumpuk di rumah-rumah warga serta fasilitas umum. Banyak perabotan rumah tangga dipenuhi lumpur lalu dijemur di bawah terik matahari, dengan harapan masih bisa digunakan kembali.

Aktivitas seperti pasar kecil dan warung mulai berjalan, namun kondisi belum sepenuhnya kondusif. Sekolah-sekolah juga rusak parah; lumpur mengeras menempel di lantai dan halaman, membuat kegiatan belajar belum bisa kembali normal.

Meski berada dalam kondisi sulit, anak-anak tetap menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Saat UAS semester ganjil berlangsung, banjir baru saja melanda dan situasi masih sangat parah. Namun mereka tetap mengikuti ujian, baik di tenda darurat maupun di sisa bangunan sekolah yang masih bisa digunakan.
Penyaluran Food Truck: Secercah Harapan untuk Korban Terdampak Bencana Aceh
Perjalanan Lhokseumawe-Tamiang memakan waktu enam jam perjalanan dengan akses yang belum sepenuhnya pulih. Tim langsung bergerak menyapa dapur umum serta turut membagikan makanan melalui Food Truck.


Dapur Umum ini dikelola langsung oleh warga Tamiang. Setiap harinya, mereka membagikan makanan pada 1000 kepala keluarga.
Usai memasak di dapur umum, tim beserta relawan lapangan pun berangkat ke lokasi penyaluran yang terletak di Dusun Jawa, Kampung Rantau Pauh, Kec. Rantau. Di sana, mereka membagikan nasi serta lauk pauk untuk ratusan warga.


Ibu Rahayu, salah satu warga setempat menceritakan bahwa hujan deras selama enam hari berturut-turut di akhir November memicu banjir bandang dan longsor yang membawa kayu gelondongan serta batu besar ke permukiman. Ia dan keluarganya kemudian mengungsi ke dataran yang lebih tinggi di belakang rumah selama enam hari tanpa listrik dan air bersih. Bahkan, mereka terpaksa menggunakan air comberan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kampung GPCI: Membangun Peradaban dari Titik Pemulihan
TIm kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah tanah yang telah diwakafkan menjadi pemukiman darurat. Di sana terdapat tenda, sekolah, serta masjid darurat, yang dikelola oleh pemerintah dan lembaga kemanusiaan.


Dalam beberapa waktu ke depan, GPCI merencanakan pembangunan Kampung GPCI sebagai kawasan pemulihan terpadu yang dilengkapi berbagai fasilitas umum. Kampung ini akan terdiri dari hunian layak, masjid, sekolah, serta berbagai sarana pendukung kehidupan warga. Adara juga akan turut ambil bagian dalam inisiatif ini.

Pertemuan dengan Wakil Bupati Aceh Tamiang
Selanjutnya, tim menemui Ismail, S.E.I., Wakil Bupati Aceh Tamiang. Kantor pemerintahan setempat masih dalam kondisi berantakan setelah terendam banjir.


“Saat ini, masih ada empat kampung yang terpisah oleh sungai. Akibat banjir, jembatan terputus dan hingga saat ini masih belum pulih. Oleh karena itu, bantuan terpaksa disalurkan melalui perahu. Lebih parahnya, kampung tersebut penuh dengan gelondongan kayu. Rumah-rumah hancur, dan hanya masjid yang bertahan,” ungkap Ismail.
Ismail menyambut hangat kedatangan tim GPCI serta rencana untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. “Kalau bisa, bantu semua di Tamiang,” ucapnya sambil terkekeh.
Aceh Masih Butuh Dukunganmu!
Aceh memasuki hari ke-49 pascabencana, namun kondisi di lapangan masih jauh dari pulih. Proses perbaikan baru berjalan sekitar 50 persen, sementara warga terus berjuang membersihkan sisa dampak banjir dan longsor.
Warga Tamiang sangat membutuhkan air bersih, terutama untuk membersihkan lumpur pekat yang masih menggenangi rumah dan lingkungan.
Menjelang Ramadhan, mari kita bersama mempercepat pemulihan Aceh agar saudara-saudara kita dapat kembali beribadah dengan tenang dan layak di bulan suci.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)