Musim dingin masih berlangsung di Gaza. Bagi ribuan keluarga pengungsi, dingin bukan sekadar cuaca, melainkan ancaman bagi kehidupan. Hujan yang terus turun, angin kencang, serta tenda-tenda yang rapuh membuat anak-anak harus tidur dalam kondisi basah dan menggigil. Keterbatasan selimut, pakaian hangat, air bersih, dan layanan kesehatan memperburuk keadaan. Organisasi kemanusiaan dunia memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk di tengah musim dingin yang mencekam, sementara gencatan senjata hanya basa-basi dan blokade masih terus berlaku. Risiko sakit, kekurangan gizi, hingga kematian akibat paparan dingin semakin tinggi, terutama bagi anak-anak yang tubuhnya paling rentan.
Kondisi berat ini juga dialami oleh anak-anak dalam Program Dekap Yatim Palestina (DYP). Mereka tidak hanya menanggung duka kehilangan ayah, tetapi juga harus berjuang bertahan hidup di tengah cuaca dingin dan situasi kemanusiaan yang semakin sulit. Program DYP hadir untuk memastikan mereka tetap mendapatkan perlindungan, bantuan dasar, serta dukungan yang menjaga harapan mereka tetap hidup.
Menunaikan Amanah, Menghidupkan Harapan
Alhamdulillah berkat rahmat Allah swt, amanah para orangtua asuh DYP untuk menyampaikan bantuan bagi anak-anak yatim telah ditunaikan. Waktu pelaksanaan distribusi ini yaitu sejak 20 Desember 2025 dan berlangsung selama beberapa waktu hingga awal januari 2026. Meskipun mengalami rintangan dan hambatan, tim lapangan telah menjangkau wilayah-wilayah terdampak berat seperti Khan Younis, Deir Balah, dan Nuseirat, dan berhasil mencapai total penerima manfaat sebanyak 1.989 anak yatim.
Melalui laporan ini, kami menyampaikan rasa syukur dan terimakasih, bahwa para donatur orangtua asuh DYP telah menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan, martabat, dan masa depan anak-anak yatim Palestina. Lebih dari sekedar bantuan kemanusiaan, bantuan yang Bapak/Ibu berikan merupakan bentuk kepedulian akan eksistensi anak-anak Gaza, dan menjadi nyala harapan bahwa kehidupan mereka layak untuk diperjuangkan.
“Bantuan yang kami terima bukan hanya makanan dan selimut. Itu adalah tanda bahwa kami tidak sendirian. Di tengah dingin dan ketakutan, kami masih merasa ada yang peduli dan menjaga kami,” tutur Sohaib Mohammad Al-Hawajri, salah satu anak yatim penerima manfaat Program Dekap Yatim Palestina. Senada dengan itu, Batoul Iyad Al-Kafarnani menyampaikan, “Ketika tenda kami bocor dan udara sangat dingin, bantuan dari kalian membuat kami bisa bertahan. Dukungan ini memberi kami kekuatan untuk tetap berharap dan tidak menyerah.”
Sohaib Mohammad Al-Hawajri hidup bersama ibu dan kakaknya, setelah Ayahnya gugur pada tahun 2014 saat berusaha mengambil air untuk keluarga, meninggalkan mereka dalam kondisi ekonomi yang sangat rapuh. Genosida membuat mereka mengalami pengungsian sebanyak tiga kali dan harus bertahan dalam keterbatasan ekstrem serta ketidakpastian yang terus-menerus. Sementara itu, Batoul Iyad Al-Kafarnani kehilangan ayahnya pada tahun 2016 dan telah mengalami pengungsian hingga lima kali akibat perang. Rumah keluarganya di Beit Hanoun hancur total, memaksa mereka kini tinggal di sebuah tenda di wilayah selatan Gaza. Batoul kehilangan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan yang layak, dan makanan yang cukup, sementara ibunya berjuang sendiri tanpa penghasilan tetap untuk melindungi dan menghidupi anak-anaknya. Keduanya menjadi potret nyata anak-anak yatim Gaza yang harus bertahan hidup di tengah dingin, kehilangan, dan keterbatasan, namun tetap menyimpan harapan berkat dukungan dan kepedulian yang mereka terima.
Kondisi Umum Yatim DYP di Gaza: Bertahan di Tengah Dingin, Kehilangan, dan Ketidakpastian
Anak-anak yatim di Gaza menjalani kehidupan dalam situasi yang sangat rapuh. Tanpa penopang keluarga, mereka bertahan hidup di tengah blokade dan serangan yang tiada berakhir. Sementara itu, pengungsian berkepanjangan dan musim dingin masih terus mengancam keselamatan. Kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi hak mereka sering kali sulit terpenuhi. Berikut adalah gambaran kondisi anak-anak yatim berdasarkan hasil laporan lapangan:
- Kondisi Tempat Tinggal
- Tinggal di tenda-tenda darurat atau bangunan yang rusak berat.
- Banyak tenda tidak tahan hujan dan angin, sehingga bocor dan lembap.
- Sebagian wilayah mengalami banjir yang merendam area tidur anak-anak.
- Tidak ada perlindungan yang memadai dari suhu dingin ekstrem.
- Kesehatan Fisik
- Rentan terhadap penyakit pernapasan, infeksi kulit, dan demam.
- Risiko kekurangan gizi akibat keterbatasan makanan bergizi.
- Akses layanan kesehatan sangat terbatas dan fasilitas medis kewalahan.
- Beberapa wilayah melaporkan kematian anak akibat paparan dingin ekstrem.
- Kebutuhan Dasar
- Kekurangan selimut, pakaian musim dingin, dan perlengkapan penghangat.
- Keterbatasan air bersih dan sanitasi yang layak.
- Ketergantungan tinggi terhadap bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
- Pendidikan
- Akses pendidikan sangat terbatas dan bersifat darurat.
- Banyak anak mengalami keterputusan belajar akibat pengungsian berulang.
- Fasilitas pendidikan rusak atau tidak dapat digunakan.
- Kondisi Psikologis
- Mengalami trauma, kecemasan, dan tekanan emosional akibat kehilangan orang tua dan perang.
- Hidup dalam rasa tidak aman dan ketidakpastian yang berkepanjangan.
- Sebagian anak menunjukkan ketangguhan melalui bermain dan rutinitas sederhana, meski dalam keterbatasan.
- Aktivitas Harian
- Lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan dan air.
- Bermain dan belajar dilakukan secara terbatas di lingkungan yang tidak aman.
- Kehidupan anak-anak jauh dari rasa aman dan kenyamanan yang seharusnya mereka miliki.
- Dampak Jangka Panjang
- Berisiko tinggi mengalami gangguan perkembangan fisik dan mental.
- Membutuhkan perlindungan berkelanjutan serta dukungan komprehensif agar dapat tumbuh dengan layak.
Point-point ini menunjukkan bahwa anak-anak yatim Gaza bukan hanya menghadapi krisis kemanusiaan, tetapi juga sedang berjuang mempertahankan masa depan mereka di tengah kondisi yang sangat berat.
Di Mana Mereka Bertahan? Potret Sebaran Lokasi Anak Yatim dan Kondisi Terkini di Penjuru Gaza
Pada Desember 2025, sebanyak 1.989 anak yatim di bawah naungan Program Dekap Yatim Palestina Adara tersebar di berbagai titik pengungsian yang sangat rentan. Berikut adalah rincian sebaran lokasi dan situasi darurat yang mereka hadapi:



Menjaga Nyala Kepedulian, Menyemai Masa Depan yang Bermartabat
Kondisi anak-anak yatim di Gaza yang masih berada dalam ancaman dingin, kelaparan, penyakit, dan trauma menegaskan bahwa ikhtiar kemanusiaan ini tidak boleh berhenti. Dukungan yang berkelanjutan sangat dibutuhkan agar mereka tetap memiliki perlindungan, rasa aman, dan kesempatan untuk bertahan hidup dengan lebih layak. Setiap kontribusi dari para Orangtua Asuh DYP adalah nafas bagi keberlangsungan hidup mereka, menjadi kepedulian yang menghangatkan, di saat dunia seakan membeku. Dengan terus menjadi bagian dari Program Dekap Yatim Palestina, Bapak/Ibu turut memastikan bahwa pelukan kemanusiaan ini tidak terputus, dan anak-anak yatim Gaza tidak kembali berjuang sendirian dalam keterbatasan.
Lebih dari sekadar bantuan darurat, Program Dekap Yatim Palestina membawa visi besar untuk membangun generasi yang tumbuh dengan martabat, keteguhan, dan harapan. Program ini ingin memastikan bahwa anak-anak yatim Gaza tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi juga memiliki ruang untuk berkembang, belajar, dan menata masa depan yang lebih baik. Dengan merawat fisik, mental, dan spiritual anak-anak yatim di Gaza, Adara berikhtiar menguatkan dukungan bagi lahirnya generasi penerus Palestina yang selalu gigih bertahan, menguatkan bangsanya, dan menjadi cahaya kebaikan dari tanah yang diberkahi, yang hari ini masih diliputi luka. Mari terus dekap mereka. Pastikan perlindungan dan harapan ini terus berkelanjutan, hingga Palestina merdeka dan Masjid Al-Aqsa bebas seutuhnya.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)