Sumber-sumber HAM melaporkan bahwa otoritas penjara Israel kembali melakukan penindasan terhadap perempuan tawanan Palestina di Penjara Damon. Pada Selasa (20/01) pagi, para sipir dilaporkan menyerang dan menekan para tawanan selama lebih dari tiga jam. Informasi ini disampaikan pengacara Hassan Abbadi setelah mengunjungi para tawanan.
Menurut Abbadi, para perempuan tawanan terbangun oleh suara granat kejut di halaman penjara. Mereka kemudian diborgol, ditutup matanya, dan dipaksa bertahan di luar ruangan selama berjam-jam. Sel-sel mereka digeledah secara paksa, sementara pengeras suara penjara memutar kalimat provokatif yang merujuk pada Yahya Ayyash, bertepatan dengan penahanan istrinya menjelang peringatan kesyahidannya.
Salah satu tawanan, Ibaa Ammar Aghbar, melaporkan bahwa kondisi di Penjara Damon sangat memprihatinkan. Para tawanan terpapar suhu dingin ekstrem, kekurangan pakaian dan selimut, serta pembatasan waktu ibadah. Ia memperingatkan bahwa kondisi ini semakin mengkhawatirkan menjelang bulan Ramadan.
Kantor Media Asra menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan kejahatan penindasan dan penghinaan yang disengaja, serta mencerminkan eskalasi pelanggaran sistematis terhadap tawanan Palestina. Lembaga tersebut menyerukan intervensi internasional mendesak untuk menghentikan kekerasan dan penyiksaan di penjara-penjara Israel.
Dalam konteks yang lebih luas, organisasi HAM Israel B’Tselem merilis laporan yang mendokumentasikan praktik penyiksaan, kelaparan, kekerasan seksual, penelantaran medis, hingga kematian tawanan Palestina di pusat-pusat penahanan Israel. B’Tselem menggambarkan fasilitas-fasilitas tersebut sebagai jaringan “kamp penyiksaan” yang beroperasi secara terkoordinasi.
Sejak Oktober 2023, B’Tselem mencatat sedikitnya 84 tawanan Palestina meninggal dunia dalam tahanan Israel, termasuk seorang anak. Mayoritas korban berasal dari Gaza dan Tepi Barat. Hingga kini, otoritas Israel masih menahan jenazah 80 tawanan yang wafat dan menolak menyerahkannya kepada keluarga.
Direktur Eksekutif B’Tselem, Yuli Novak, menyatakan bahwa perlakuan terhadap para tawanan merupakan bagian dari serangan terencana terhadap masyarakat Palestina secara keseluruhan. Ia juga mengkritik komunitas internasional atas kegagalan menuntut pertanggungjawaban Israel, yang menurutnya memperparah keberlanjutan penyiksaan dan pelanggaran berat hak asasi manusia.
Sumber:
MEMO, Palinfo
![Aksi protes yang diadakan sebagai bagian dari Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina di Ramallah, Tepi Barat pada 30 November 2025. [Issam Rimawi – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2026/01/AA-20251130-39852262-39852259-PROTEST_IN_RAMALLAH_ON_INTERNATIONAL_DAY_OF_SOLIDARITY_WITH_PALESTINIAN_PEOPLE-750x375.webp)







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)