Dua laporan terbaru dari Physicians for Human Rights, bekerja sama dengan Global Human Rights Clinic di Fakultas Hukum Universitas Chicago dan Physicians for Human Rights-Israel, mendokumentasikan bagaimana genosida telah menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir.
Dokumen tersebut melaporkan “2.600 kasus keguguran, 220 kematian terkait kehamilan, 1.460 kelahiran prematur, lebih dari 1.700 bayi baru lahir dengan berat badan rendah, dan lebih dari 2.500 bayi membutuhkan perawatan intensif neonatal” antara Januari dan Juni 2025.Para ibu di Gaza terpaksa membuat pilihan yang tak terbayangkan, yakni secara rutin mengorbankan kesehatan dan kelangsungan hidup mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka..
Pada bulan-bulan pertama tahun 2025 tercatat 17.000 kelahiran, penurunan sebesar 41% dibandingkan periode yang sama pada 2022. Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, serangan udara dan tembakan Israel belum sepenuhnya berhenti. Badai yang terjadi baru-baru ini juga memperparah krisis, menyebabkan kematian dan banjir di kamp-kamp pengungsian yang sudah penuh sesak.
Baru-baru ini, seorang bayi berusia 27 hari meninggal di Gaza pada Sabtu (17/01) akibat kedinginan yang parah, sehingga jumlah anak-anak di Gaza yang meninggal karena hipotermia sejak awal musim dingin bertambah menjadi delapan anak, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Sumber medis mengonfirmasi kepada kantor berita Anadolu bahwa bayi yang baru lahir itu bernama Aisha Ayesh al-Agha. Ia meninggal akibat suhu yang sangat dingin, dan ketika dibawa ke RS Nasser di Khan Younis, sudah terlambat untuk diselamatkan.
Sumber: The Guardian, Middle East Monitor








