Belum sempurna keimanan seorang Muslim apabila ia belum memahami urgensi Masjidil Aqsa dan kemuliaannya di sisi Allah Swt. Masjidil Aqsa bukan sekadar situs sejarah, melainkan bagian dari fondasi akidah Islam. Perjuangan pembebasan Masjidil Aqsa bukanlah sebuah jalan yang instan, melainkan sebuah rintisan panjang sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. Dalam sirah, Rasulullah membangun kesadaran umat dengan memahami medan Syam, wilayah yang diberkahi dan menjadi pusat perjuangan para nabi. Oleh karena itu, kepedulian terhadap Palestina sejatinya adalah bukti cinta kepada Masjidil Aqsa, sebab Al-Aqsa selalu disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Isra.
Palestina adalah ardhul anbiya, tanah para nabi. Jika klaim sebagian kalangan Yahudi bahwa Nabi Muhammad saw. tidak memiliki hubungan dengan Palestina karena bukan berasal dari Bani Israil, maka seharusnya wahyu terakhir, Al-Qur’an, juga diturunkan kepada mereka. Namun faktanya, Nabi Muhammad adalah seorang Arab, dan justru semua nabi dimuliakan untuk menjadi makmum di belakang beliau saat peristiwa Isra Mikraj. Ini menggambarkan penghormatan para nabi kepada Rasulullah saw., sekaligus memperlihatkan kekeliruan sikap mereka yang tidak menghormati beliau.
Rasulullah saw. adalah sosok yang sangat memuliakan negeri Syam. Al-Qur’an menyebutnya sebagai al-ardh al-muqaddasah (tanah yang disucikan). Nabi Musa a.s. bahkan berdoa agar diwafatkan di Palestina. Dari Palestina terdapat Al-Quds, dan di dalamnya berdiri Masjidil Aqsa sebagai pusat spiritual umat.
Maka, memperingati Isra Mikraj dalam kondisi Masjidil Aqsa yang masih berada di bawah penjajahan memiliki makna yang sangat mendalam. Kita menyaksikan penderitaan, keteguhan, dan kerinduan warga Palestina terhadap jihad di jalan Allah. Namun pertanyaannya, apa arti peringatan Isra Mikraj jika ia tidak membentuk mentalitas kita untuk bersemangat dalam perjuangan membebaskan Al-Aqsa.

Kembali pada peristiwa Isra Mikraj. Pada malam Isra, Rasulullah saw. dihadirkan di Masjidil Aqsa dan Allah menghadirkan ruh para nabi untuk menjadi makmum beliau. Ini bukan peristiwa biasa, melainkan penegasan bahwa Masjidil Aqsa adalah pusat kesatuan risalah para nabi.
Ketika Rasulullah saw. naik ke lagit ketujuh dan bertemu dengan Nabi Musa a.s. Ia mengusulkan untuk melakukan keringanan salat, hal itu bukan karena Rasulullah saw. tidak taat, melainkan bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya. Allah Swt. sendiri menggambarkan betapa kasihnya Rasulullah kepada umatnya melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya. Dari sini kita memahami bahwa seluruh syariat Islam tidak dimaksudkan untuk memberatkan, tetapi telah disesuaikan dengan kebutuhan umat Muhammad.
Pesan besar Isra Mikraj adalah agar umat Islam juga dekat dengan Al-Qur’an. Bacalah ayat-ayat akhir Surah Al-Isra, lalu merefleksikan kondisi kita hari ini. Jika Al-Qur’an ditinggalkan, maka kita termasuk dalam golongan yang dikeluhkan Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Furqan ayat 30: “Sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”
Dakwah kepada Al-Qur’an sejatinya membentuk manusia menjadi hamba-hamba Allah yang dekat dengan-Nya. Kedekatan dengan Al-Qur’an akan melahirkan kecintaan kepada Rasulullah. Oleh karena itu, Isra Mikraj disebut sebagai milad syariat salat, karena Al-Qur’an dan salat adalah dua syariat yang tidak terpisahkan. Jika seseorang tidak bersemangat dalam salat, periksalah interaksinya dengan Al-Qur’an, dan sebaliknya.
Sangat disayangkan jika motivasi membela Palestina hanya bersifat musiman. Ketika musim dingin berlalu atau isu mereda, perjuangan pun ikut berhenti. Hal ini tidak akan terjadi jika Masjidil Aqsa dan Palestina benar-benar hidup di dalam hati kita. Perjuangan Al-Aqsa bukan semata tentang terusirnya Zionis, melainkan tentang lahirnya umat Islam yang memiliki kepedulian, kecintaan, dan kesadaran akidah-politik terhadap Masjidil Aqsa.
Allah Swt. telah menjanjikan kemenangan (mughalibun), meski belum sepenuhnya tampak. Justru pada fase inilah Allah membuka ruang agar mereka yang belum peduli turut bergabung. Tidak mustahil, setiap forum, kajian, dan pertemuan akan menjadi sarana bertambahnya orang-orang yang mencintai dan membela Masjidil Aqsa.
Artikel ini berasal dari notula Webinar “Menapaki Jejak Isra Mikraj, Menggapai Kemenangan Gaza dan Al-Quds” yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Aziz, Pembina Yayasan Al-Quran Indonesia pada Jumat, 16 Januari 2026 .








