Di tengah pengepungan dan pengeboman tanpa henti di Jalur Gaza, seorang apoteker lokal mengubah rumahnya menjadi laboratorium obat darurat demi menutup kekosongan layanan kesehatan yang kian runtuh. Ketika sistem kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran, inisiatif ini menjadi penopang penting bagi warga yang kekurangan akses obat-obatan esensial.
Apoteker Khaled Odeh, pelatih bersertifikat peracikan farmasi dari serikat apoteker setempat, memulai produksi obat dari rumahnya di Kota Gaza. Dengan memanfaatkan keahlian profesionalnya, ia meracik berbagai obat penting yang kini langka atau bahkan tidak lagi tersedia di apotek-apotek di seluruh wilayah Gaza.
Odeh menjelaskan bahwa sebelum perang, bahan baku farmasi sebenarnya tersedia secara lokal, namun Gaza lebih bergantung pada impor karena biaya yang lebih rendah dan proses produksi yang lebih sederhana. Setelah kembali ke Kota Gaza pascagencatan senjata dan mendapati sebagian laboratoriumnya masih utuh, ia bekerja sama dengan dokter, apoteker, serta mahasiswa untuk memproduksi obat-obatan vital dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Inisiatif ini muncul di tengah krisis kesehatan yang kian parah akibat pemindahan paksa sekitar 90 persen penduduk Gaza, yang kini bertahan di tempat-tempat pengungsian dengan sanitasi dan perlindungan kesehatan yang minim. Kondisi ini memicu merebaknya penyakit kulit, infeksi luka, luka bakar, serta berbagai penyakit lain yang diperburuk oleh air tercemar dan kelangkaan disinfektan.
Pejabat kesehatan memperingatkan bahwa kekurangan bahan laboratorium dan pasokan medis telah melumpuhkan layanan diagnosis dan pengobatan. Banyak pemeriksaan, termasuk untuk penyakit kronis dan infeksi, tidak lagi dapat dilakukan karena ketiadaan peralatan dan bahan pendukung.
Meski demikian, klinik keliling dan pos kesehatan darurat di berbagai wilayah Gaza kini bergantung pada bantuan Odeh, suatu kondisi yang mencerminkan jurang yang semakin lebar antara kebutuhan medis dan solusi yang tersedia. Di tengah kehancuran akibat agresi Israel sejak 7 Oktober 2023—yang ditandai oleh penghancuran masif, pengungsian, dan minimnya bantuan kemanusiaan—sistem kesehatan Gaza terus bertahan di batas kemampuannya, ditopang oleh inisiatif-inisiatif darurat dari warganya sendiri.
Sumber:
Palinfo








