• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Minggu, Januari 18, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

by Adara Relief International
Januari 14, 2026
in Artikel, Biografi
Reading Time: 8 mins read
0 0
0
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

23
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Jika aku meninggal, aku ingin kematian yang menggemparkan

Aku tidak ingin hanya menjadi berita utama, 

atau sekadar angka dalam sebuah kelompok

Aku ingin kematian yang akan didengar dunia, 

dampak yang akan tetap ada sepanjang masa, 

dan gambar abadi yang tidak dapat dikubur oleh waktu atau tempat

Kalimat tersebut dituliskan oleh Fatma Hassouna, seorang jurnalis foto muda di Gaza, sebelum Israel menghabisi nyawanya dalam serangan udara yang menghantam rumahnya. Seketika, nama jurnalis foto yang aktif mendokumentasikan genosida di Jalur Gaza tersebut tercatat dalam daftar nama korban yang terbunuh di Gaza. Namun, seperti kalimat yang ia tuliskan, berita kematiannya menggemparkan dunia, nama dan kisahnya tertulis di berbagai media, menjadi catatan digital yang abadi tentang perjuangannya meliput genosida Gaza.

Akan tetapi, tidak seperti Hassouna yang berita kematiannya menjadi berita utama, banyak syuhada Gaza tidak mendapatkan perhatian yang serupa. Padahal, mereka juga manusia yang memiliki kisah, impian, dan harapan yang layak untuk didengarkan oleh dunia. Oleh sebab itu, penduduk Palestina mendedikasikan satu hari untuk mengenang jiwa-jiwa yang telah gugur dalam perjuangan membebaskan Palestina, yaitu Hari Martir Palestina yang diperingati setiap tanggal 7 Januari.

Hari Martir Palestina merupakan momentum khusus untuk mempererat ikatan antargenerasi Palestina. Pada hari ini, penduduk Palestina mengenang para pendahulu mereka yang telah berpulang, baik yang meninggal dalam perjuangan di tanah mereka sendiri, maupun yang aktif bersuara di diaspora. Pada hari ini, dunia juga kembali diingatkan, bahwa mereka yang meninggal di Palestina tidaklah mati, sebab segala yang mereka tinggalkan tetap hidup dan melawan, baik itu melalui suara, tulisan, maupun pemikiran. Dan inilah kisah mereka, para syuhada Gaza yang gugur di tahun 2025.

Jurnalis dan Influencer Gaza, Berjuang dari Balik Kamera, Melawan dengan Suara Lantang

Fatma Hassouna

fatma hassouna
fatma hassouna

Fatma Hassouna adalah seorang jurnalis foto muda berusia 25 tahun yang telah mendokumentasikan genosida Gaza melalui lensa kameranya selama 18 bulan sebelum serangan Israel merenggut nyawanya pada April 2025. Hanya beberapa bulan sebelum hari pernikahannya, serangan udara Israel menghantam rumah Hassouna di Gaza utara, menghabisi nyawa Hassouna beserta enam anggota keluarganya.

Dua puluh empat jam sebelum Israel menjatuhkan serangan, diumumkan bahwa sebuah film dokumenter yang berfokus pada kehidupan Hassouna akan diputar perdana di sebuah festival film independen Prancis yang berlangsung paralel dengan Cannes. Film tersebut merupakan karya sutradara Iran Sepideh Farsi, berjudul Put Your Soul on Your Hand and Walk. Film ini menceritakan kisah penderitaan penduduk Gaza dan kehidupan sehari-hari mereka melalui rekaman percakapan video antara Hassouna dan Farsi. Farsi mengatakan bahwa ia khawatir Hassouna memang sengaja ditargetkan karena profesinya sebagai jurnalis foto dan partisipasinya dalam film dokumenter tersebut.

Anas al-Sharif

Anas al-Sharif (Mina News)
Anas al-Sharif (Mina News)

Anas al-Sharif adalah seorang koresponden Al Jazeera berbahasa Arab berusia 28 tahun yang meninggal pada Agustus 2025 setelah Israel menyerang tenda yang terletak di luar Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza. Selain al-Sharif, di dalam tenda tersebut juga terdapat beberapa rekannya, yaitu koresponden Al Jazeera Mohammed Qreiqeh, operator kamera Ibrahim Zaher dan Mohammed Noufal, juru kamera lepas Momen Aliwa, dan jurnalis lepas Mohammed al-Khalidi. Seluruhnya meninggal akibat serangan tersebut. Tak lama sebelum serangan Israel merenggut nyawanya, al-Sharif menulis di X bahwa Israel telah melakukan pengeboman intensif dan terkonsentrasi – yang juga dikenal sebagai “ serangan sabuk api” – di bagian timur dan selatan Kota Gaza. 

Dalam pesan terakhirnya yang dipublikasikan setelah ia terbunuh, al-Sharif menuliskan: “Saya berulang kali merasakan duka dan kehilangan. Meskipun demikian, saya tidak pernah ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau salah tafsir, dengan harapan Tuhan akan menjadi saksi bagi mereka yang tetap diam, mereka yang menerima pembunuhan kami, dan mereka yang mencekik napas kami.” Di dalam wasiatnya, al-Sharif juga mengungkapkan kesedihannya karena jika ia meninggal, ia harus meninggalkan istrinya, Bayan, dan tidak bisa menyaksikan kedua anaknya, Sham dan Salah, tumbuh dewasa.

Lama Nasser al-Badrasawi

Lama Nasser (The Palestine Chronicle)
Lama Nasser (The Palestine Chronicle)

Di Gaza, ada seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Ia adalah Lama Nasser al-Badrasawi, seorang anak yang telah menjadi kontributor The Palestine Chronicle dan menjadi suara yang menyampaikan realita yang dihadapi oleh penduduk Gaza. Meski usianya masih belia, Lama belajar bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh di pengungsian demi bisa menyuarakan penderitaan yang dihadapi oleh anak-anak seusianya di Gaza. Nahas, masa depannya direnggut seketika pada Juli 2025 saat serangan Israel menargetkan gedung enam lantai tempat Lama dan keluarganya berlindung. Lama terbunuh bersama ibu, ayah, dan empat saudaranya: Salma, Nada, Sham, dan Aziz.

Dalam video-videonya, Lama meniru gestur jurnalis-jurnalis profesional, berbicara menggunakan bahasa Inggris yang cukup fasih untuk anak seusianya. Di video terakhir sebelum ia meninggal, Lama mengatakan: “Hak pendidikan anak-anak Gaza telah dirampas karena pendudukan Israel menghancurkan sekolah dan universitas. Alih-alih pergi ke sekolah dan duduk di kursi kelas, mereka duduk di samping makam ayah mereka atau mengantre untuk mengambil air bagi keluarga mereka. Anak-anak Gaza berharap genosida ini berhenti dan mereka dapat hidup damai seperti anak-anak lain di dunia.” Kemudian ia mengajak anak-anak lain untuk berdiri di sampingnya dan bersama-sama mengatakan, “Hentikan genosida!”

Yaqeen Hammad

Yaqeen Hammad (The Guardian)
Yaqeen Hammad (The Guardian)

Pada Mei 2025, dunia kehilangan seorang gadis kecil Gaza yang senyumnya menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya. Ia adalah Yaqeen Hammad, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang merupakan pemengaruh (influencer) termuda di Gaza. Dalam konten-kontennya, Yaqeen membagikan kiat-kiat praktis untuk bertahan hidup sehari-hari di bawah bombardir serangan Israel, seperti cara memasak dengan metode improvisasi ketika tidak ada gas. Sayangnya, konten Yaqeen tidak bisa berlanjut lagi setelah rangkaian serangan udara Israel menghantam rumah keluarganya di daerah al-Baraka, Deir el-Balah, Gaza tengah. 

Yaqeen berperan aktif dalam Ouena, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Gaza yang didedikasikan untuk bantuan kemanusiaan. Yaqeen dan kakak laki-lakinya, Mohamed Hammad, sering mengunjungi kamp dan tempat penampungan sementara untuk keluarga pengungsi dan mengirimkan makanan, mainan, dan pakaian untuk keluarga pengungsi. Yaqeen selalu berusaha menyebarkan keceriaan dan hiburan kepada anak-anak. Dalam salah satu unggahannya di media sosial, Yaqeen menulis: “Saya mencoba membawa sedikit kegembiraan kepada anak-anak lain agar mereka bisa melupakan genosida.”

Tenaga Medis Gaza, Tangan yang Menyembuhkan dan Merawat Kehidupan 

Hamdi al-Najjar

Hamdi al-Najjar (Haaretz)
Hamdi al-Najjar (Haaretz)

Hamdi al-Najjar dan istrinya, Alaa al-Najjar merupakan pasangan suami istri yang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Pada akhir Mei 2025, serangan pasukan Israel menargetkan rumah mereka, membunuh sembilan dari sepuluh anak mereka, sedangkan Hamdi menderita luka-luka. Berdasarkan laporan berbagai media, hari itu Hamdi mengantar istrinya ke rumah sakit, kemudian serangan dijatuhkan hanya beberapa menit setelah ia kembali ke rumah. Hamdi sempat menerima perawatan selama sembilan hari sebelum mengembuskan napas terakhir akibat luka-luka yang dideritanya, meninggalkan istrinya, Alaa, dan satu putra mereka, Adam.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengatakan kepada Alaa bahwa mereka hendak mengevakuasi Hamdi dan Adam ke Malta dan Irlandia yang menyatakan kesediaan untuk merawat pasien dari Gaza. Namun, WHO menyebutkan bahwa penumpukan darah dalam jumlah besar di rongga dada telah menyebabkan tekanan pada paru-paru Hamdi hingga kolaps. Hamdi kemudian menjalani operasi darurat untuk membuka dadanya, dan lobus bawah paru-paru kanannya diangkat. Selain itu, Hamdi juga menderita luka yang menembus perut, patah tulang tengkorak yang membahayakan jaringan otak, dan cedera serius pada anggota tubuh kanannya yang mengakibatkan amputasi salah satu jarinya, sebelum ia pergi untuk selamanya.

Marwan Al-Sultan

Marwan al-Sultan (The Guardian)
Marwan al-Sultan (The Guardian)

 

Marwan al-Sultan merupakan seorang ahli jantung dan direktur Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Dokter Marwan dibunuh oleh serangan udara Israel pada Juli 2025, beberapa anggota keluarganya juga meninggal dalam serangan yang sama. Healthcare Workers Watch (HWW), sebuah organisasi medis Palestina menyatakan bahwa beliau merupakan petugas kesehatan ke-70 yang terbunuh dalam serangan Israel. “Pembunuhan Dr. Marwan al-Sultan oleh militer Israel merupakan kerugian besar bagi Gaza dan seluruh komunitas medis, sertan akan berdampak buruk pada sistem perawatan kesehatan Gaza,” kata Muath Alser, Direktur HWW.

“Kami sangat terkejut dan berduka. Beliau tidak dapat digantikan,” kata Dr. Mohammed Abu Selmia, Direktur RS Al-Shifa di Gaza. “Beliau adalah seorang cendekiawan terkemuka dan salah satu dari dua ahli jantung yang tersisa di Gaza. Ribuan pasien jantung akan menderita akibat terbunuhnya Dokter Marwan. Satu-satunya kesalahannya adalah dia seorang dokter. Kami tidak punya pilihan selain tetap tabah, tetapi rasa kehilangan ini sangat menghancurkan.”

Mu’ath Abu Rukba

Mu’ath Abu Rukba (The New Arab)
Mu’ath Abu Rukba (The New Arab)

 

Ia diberi julukan “Penjaga Hewan” karena dedikasinya untuk merawat hewan-hewan di Gaza sepanjang hidupnya. Abu Rukba adalah dokter hewan terakhir di Gaza utara yang mendirikan kliniknya sendiri, satu tahun sebelum genosida. Namun, klinik hewan itu hancur saat Israel membombardir Jalur Gaza. Mu’ath Abu Rukba menghilang pada 10 Oktober 2025, tepat pada saat gencatan senjata terjadi ketika ia hendak memeriksa rumahnya di daerah Jabalia.

Sebuah organisasi kesejahteraan hewan yang berbasis di Gaza, Sulala Animal Rescue, mendesak klarifikasi segera mengenai keberadaan Abu Rukba. Seminggu setelah kehilangannya, saudara laki-lakinya mengonfirmasi bahwa setelah mendatangi lokasi terakhir Abu Rukba, diketahui bahwa saudaranya telah terbunuh. Melalui dunia maya, para aktivis yang menyuarakan rasa berduka atas kepergian Abu Rukba, menyoroti kontribusinya dan karakter baiknya.

Tokoh Perlawanan Palestina, “Pahlawan Bertopeng” yang Suaranya Diingat Dunia

Hudzaifa al-Kahlout

Abu Ubaidah atau Hudzaifa al-Kahlout (MEE)
Abu Ubaidah atau Hudzaifa al-Kahlout (MEE)

Ia dikenal dengan panggilan “Abu Ubaidah” dan julukan “Si Bertopeng” di dunia Arab karena dunia hanya mengenalnya melalui suara. Ia selalu muncul dengan wajah tertutup keffiyeh merah sebagai juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, tanpa pernah memperlihatkan wajah, nama, maupun kisah pribadinya. Identitasnya baru terungkap setelah ia gugur sebagai syahid yang diumumkan pada akhir tahun 2025.

Abu Ubaidah bernama asli Hudzaifa Samir Abdullah al-Kahlout, lahir pada 1984 sebagai pengungsi Palestina di Arab Saudi. Keluarganya berasal dari Desa Najaliya, wilayah Asqalan, yang dihancurkan milisi Zionis pada 1948. Ia kemudian kembali ke Gaza dan tumbuh di Kamp Pengungsi Jabalia, sebelum menempuh pendidikan syariah di Universitas Islam Gaza. Kahlout telah menjabat sebagai juru bicara sayap militer Hamas selama lebih dari 20 tahun dan menjadi salah satu simbol yang paling menonjol dari perlawanan Palestina

.Mereka Pamit untuk Bertugas, Namun Berpulang ke Keabadian

Nama-nama jurnalis yang gugur dalam genosida Gaza (Al Jazeera)
Nama-nama jurnalis yang gugur dalam genosida Gaza (Al Jazeera)

Para jurnalis, tenaga medis, dan tokoh perlawanan di Gaza bukan sekedar orang yang bersuara di balik kamera atau tangan yang merawat korban yang terluka. Mereka juga merupakan seorang ayah, ibu, atau anak di keluarga mereka. Mereka adalah dunia bagi orang-orang yang mencintai mereka. Mereka juga merupakan bagian dari kita, yang video dan suaranya kita dengar setiap hari di media, yang kisah-kisah heroiknya menginspirasi banyak orang di dunia. Mereka bukan angka, mereka adalah kisah yang penuh makna, harapan, dan impian.

Sepanjang tahun 2025, Israel telah menghabisi nyawa 56 jurnalis di Gaza, sehingga jumlah total jurnalis yang dibunuh sejak awal genosida mencapai 257 orang. Israel juga telah menargetkan 1.722 tenaga kesehatan sejak awal genosida, dan tak terhitung berapa banyak tokoh perlawanan yang telah diserang. Raga mereka memang telah tiada, namun nama, kisah, dan jasa mereka akan selalu dikenang. Mereka yang pamit untuk pergi bertugas, kini telah berangkat menuju keabadian, tempat jiwa mereka beristirahat untuk selamanya.

Kepergian para jurnalis, tenaga medis, dan tokoh perlawanan Gaza bukan hanya sekedar pemakaman hening belaka. Kepergian mereka adalah berita yang menggemparkan dunia, menjadi simbol bagi pejuang-pejuang kemanusiaan yang gugur ketika bertugas, yang dihabisi nyawanya saat sedang bekerja. Mereka adalah bukti nyata dari penargetan yang disengaja terhadap orang-orang yang berjuang di garis depan perlawanan. Kematian mereka harus disuarakan, dunia harus mengenal nama-nama mereka. Sebab mereka sejatinya tidak pernah mati, melainkan terus hidup dalam setiap fakta yang mereka suarakan, dalam setiap detak jantung yang mereka selamatkan, dan dalam setiap kalimat perlawanan yang mereka lantangkan kepada dunia.

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.

Sumber: 

Al Jazeera

Middle East Eye

Baca Juga

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

The Palestine Chronicle

The Guardian

Wafa

TRT World

Anadolu Agency

Haaretz

The New Arab 

+972 Magazine

Electronic Intifada

ShareTweetSendShare
Previous Post

Gaza Kehilangan 85% Alat Penyelamatan, Operasi Darurat Terancam

Next Post

Palestina dalam Gambar, Desember 2025

Adara Relief International

Related Posts

Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)
Artikel

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

by Adara Relief International
Januari 12, 2026
0
63

Pengasingan rakyat Palestina berawal dari peristiwa yang memutus hubungan paling dasar antara manusia dan tanahnya. Sejak pertengahan abad ke-20, ratusan...

Read moreDetails
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Januari 7, 2026
30
Tawanan Palestina di penjara Sde Teiman (The Guardian)

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

Desember 15, 2025
57
Seorang ibu di Gaza menunjukkan foto anaknya sebelum kakinya diamputasi karena serangan Israel (The New Arab)

“Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

Desember 5, 2025
59
Layali Filastin 2025, Mengenal Palestina Lewat Budaya dan Kuliner Otentik

Layali Filastin 2025, Mengenal Palestina Lewat Budaya dan Kuliner Otentik

Desember 23, 2025
44
Next Post
Sambil membawa termos logam di jalanan Kota Gaza, Mohammed Ashour (15 tahun) menjual kopi kepada para pejalan kaki (1/12). Ia meninggalkan pendidikannya setelah ayahnya terbunuh dalam genosida Israel dan sekarang menghidupi keluarganya sebagai pencari nafkah utama. Setidaknya 39.000 anak dilaporkan telah kehilangan satu atau kedua orang tua dan ekonomi di Gaza dan kehancuran yang meluas telah merampas sumber pendapatan lebih dari 80 persen angkatan kerja, (Al Jazeera/Truthout)

Palestina dalam Gambar, Desember 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630