Jika aku meninggal, aku ingin kematian yang menggemparkan
Aku tidak ingin hanya menjadi berita utama,
atau sekadar angka dalam sebuah kelompok
Aku ingin kematian yang akan didengar dunia,
dampak yang akan tetap ada sepanjang masa,
dan gambar abadi yang tidak dapat dikubur oleh waktu atau tempat
Kalimat tersebut dituliskan oleh Fatma Hassouna, seorang jurnalis foto muda di Gaza, sebelum Israel menghabisi nyawanya dalam serangan udara yang menghantam rumahnya. Seketika, nama jurnalis foto yang aktif mendokumentasikan genosida di Jalur Gaza tersebut tercatat dalam daftar nama korban yang terbunuh di Gaza. Namun, seperti kalimat yang ia tuliskan, berita kematiannya menggemparkan dunia, nama dan kisahnya tertulis di berbagai media, menjadi catatan digital yang abadi tentang perjuangannya meliput genosida Gaza.
Akan tetapi, tidak seperti Hassouna yang berita kematiannya menjadi berita utama, banyak syuhada Gaza tidak mendapatkan perhatian yang serupa. Padahal, mereka juga manusia yang memiliki kisah, impian, dan harapan yang layak untuk didengarkan oleh dunia. Oleh sebab itu, penduduk Palestina mendedikasikan satu hari untuk mengenang jiwa-jiwa yang telah gugur dalam perjuangan membebaskan Palestina, yaitu Hari Martir Palestina yang diperingati setiap tanggal 7 Januari.
Hari Martir Palestina merupakan momentum khusus untuk mempererat ikatan antargenerasi Palestina. Pada hari ini, penduduk Palestina mengenang para pendahulu mereka yang telah berpulang, baik yang meninggal dalam perjuangan di tanah mereka sendiri, maupun yang aktif bersuara di diaspora. Pada hari ini, dunia juga kembali diingatkan, bahwa mereka yang meninggal di Palestina tidaklah mati, sebab segala yang mereka tinggalkan tetap hidup dan melawan, baik itu melalui suara, tulisan, maupun pemikiran. Dan inilah kisah mereka, para syuhada Gaza yang gugur di tahun 2025.
Jurnalis dan Influencer Gaza, Berjuang dari Balik Kamera, Melawan dengan Suara Lantang
Fatma Hassouna

Fatma Hassouna adalah seorang jurnalis foto muda berusia 25 tahun yang telah mendokumentasikan genosida Gaza melalui lensa kameranya selama 18 bulan sebelum serangan Israel merenggut nyawanya pada April 2025. Hanya beberapa bulan sebelum hari pernikahannya, serangan udara Israel menghantam rumah Hassouna di Gaza utara, menghabisi nyawa Hassouna beserta enam anggota keluarganya.
Dua puluh empat jam sebelum Israel menjatuhkan serangan, diumumkan bahwa sebuah film dokumenter yang berfokus pada kehidupan Hassouna akan diputar perdana di sebuah festival film independen Prancis yang berlangsung paralel dengan Cannes. Film tersebut merupakan karya sutradara Iran Sepideh Farsi, berjudul Put Your Soul on Your Hand and Walk. Film ini menceritakan kisah penderitaan penduduk Gaza dan kehidupan sehari-hari mereka melalui rekaman percakapan video antara Hassouna dan Farsi. Farsi mengatakan bahwa ia khawatir Hassouna memang sengaja ditargetkan karena profesinya sebagai jurnalis foto dan partisipasinya dalam film dokumenter tersebut.
Anas al-Sharif

Anas al-Sharif adalah seorang koresponden Al Jazeera berbahasa Arab berusia 28 tahun yang meninggal pada Agustus 2025 setelah Israel menyerang tenda yang terletak di luar Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza. Selain al-Sharif, di dalam tenda tersebut juga terdapat beberapa rekannya, yaitu koresponden Al Jazeera Mohammed Qreiqeh, operator kamera Ibrahim Zaher dan Mohammed Noufal, juru kamera lepas Momen Aliwa, dan jurnalis lepas Mohammed al-Khalidi. Seluruhnya meninggal akibat serangan tersebut. Tak lama sebelum serangan Israel merenggut nyawanya, al-Sharif menulis di X bahwa Israel telah melakukan pengeboman intensif dan terkonsentrasi – yang juga dikenal sebagai “ serangan sabuk api” – di bagian timur dan selatan Kota Gaza.
Dalam pesan terakhirnya yang dipublikasikan setelah ia terbunuh, al-Sharif menuliskan: “Saya berulang kali merasakan duka dan kehilangan. Meskipun demikian, saya tidak pernah ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau salah tafsir, dengan harapan Tuhan akan menjadi saksi bagi mereka yang tetap diam, mereka yang menerima pembunuhan kami, dan mereka yang mencekik napas kami.” Di dalam wasiatnya, al-Sharif juga mengungkapkan kesedihannya karena jika ia meninggal, ia harus meninggalkan istrinya, Bayan, dan tidak bisa menyaksikan kedua anaknya, Sham dan Salah, tumbuh dewasa.
Lama Nasser al-Badrasawi

Di Gaza, ada seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Ia adalah Lama Nasser al-Badrasawi, seorang anak yang telah menjadi kontributor The Palestine Chronicle dan menjadi suara yang menyampaikan realita yang dihadapi oleh penduduk Gaza. Meski usianya masih belia, Lama belajar bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh di pengungsian demi bisa menyuarakan penderitaan yang dihadapi oleh anak-anak seusianya di Gaza. Nahas, masa depannya direnggut seketika pada Juli 2025 saat serangan Israel menargetkan gedung enam lantai tempat Lama dan keluarganya berlindung. Lama terbunuh bersama ibu, ayah, dan empat saudaranya: Salma, Nada, Sham, dan Aziz.
Dalam video-videonya, Lama meniru gestur jurnalis-jurnalis profesional, berbicara menggunakan bahasa Inggris yang cukup fasih untuk anak seusianya. Di video terakhir sebelum ia meninggal, Lama mengatakan: “Hak pendidikan anak-anak Gaza telah dirampas karena pendudukan Israel menghancurkan sekolah dan universitas. Alih-alih pergi ke sekolah dan duduk di kursi kelas, mereka duduk di samping makam ayah mereka atau mengantre untuk mengambil air bagi keluarga mereka. Anak-anak Gaza berharap genosida ini berhenti dan mereka dapat hidup damai seperti anak-anak lain di dunia.” Kemudian ia mengajak anak-anak lain untuk berdiri di sampingnya dan bersama-sama mengatakan, “Hentikan genosida!”
Yaqeen Hammad

Pada Mei 2025, dunia kehilangan seorang gadis kecil Gaza yang senyumnya menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya. Ia adalah Yaqeen Hammad, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang merupakan pemengaruh (influencer) termuda di Gaza. Dalam konten-kontennya, Yaqeen membagikan kiat-kiat praktis untuk bertahan hidup sehari-hari di bawah bombardir serangan Israel, seperti cara memasak dengan metode improvisasi ketika tidak ada gas. Sayangnya, konten Yaqeen tidak bisa berlanjut lagi setelah rangkaian serangan udara Israel menghantam rumah keluarganya di daerah al-Baraka, Deir el-Balah, Gaza tengah.
Yaqeen berperan aktif dalam Ouena, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Gaza yang didedikasikan untuk bantuan kemanusiaan. Yaqeen dan kakak laki-lakinya, Mohamed Hammad, sering mengunjungi kamp dan tempat penampungan sementara untuk keluarga pengungsi dan mengirimkan makanan, mainan, dan pakaian untuk keluarga pengungsi. Yaqeen selalu berusaha menyebarkan keceriaan dan hiburan kepada anak-anak. Dalam salah satu unggahannya di media sosial, Yaqeen menulis: “Saya mencoba membawa sedikit kegembiraan kepada anak-anak lain agar mereka bisa melupakan genosida.”
Tenaga Medis Gaza, Tangan yang Menyembuhkan dan Merawat Kehidupan
Hamdi al-Najjar

Hamdi al-Najjar dan istrinya, Alaa al-Najjar merupakan pasangan suami istri yang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Pada akhir Mei 2025, serangan pasukan Israel menargetkan rumah mereka, membunuh sembilan dari sepuluh anak mereka, sedangkan Hamdi menderita luka-luka. Berdasarkan laporan berbagai media, hari itu Hamdi mengantar istrinya ke rumah sakit, kemudian serangan dijatuhkan hanya beberapa menit setelah ia kembali ke rumah. Hamdi sempat menerima perawatan selama sembilan hari sebelum mengembuskan napas terakhir akibat luka-luka yang dideritanya, meninggalkan istrinya, Alaa, dan satu putra mereka, Adam.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengatakan kepada Alaa bahwa mereka hendak mengevakuasi Hamdi dan Adam ke Malta dan Irlandia yang menyatakan kesediaan untuk merawat pasien dari Gaza. Namun, WHO menyebutkan bahwa penumpukan darah dalam jumlah besar di rongga dada telah menyebabkan tekanan pada paru-paru Hamdi hingga kolaps. Hamdi kemudian menjalani operasi darurat untuk membuka dadanya, dan lobus bawah paru-paru kanannya diangkat. Selain itu, Hamdi juga menderita luka yang menembus perut, patah tulang tengkorak yang membahayakan jaringan otak, dan cedera serius pada anggota tubuh kanannya yang mengakibatkan amputasi salah satu jarinya, sebelum ia pergi untuk selamanya.
Marwan Al-Sultan

Marwan al-Sultan merupakan seorang ahli jantung dan direktur Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Dokter Marwan dibunuh oleh serangan udara Israel pada Juli 2025, beberapa anggota keluarganya juga meninggal dalam serangan yang sama. Healthcare Workers Watch (HWW), sebuah organisasi medis Palestina menyatakan bahwa beliau merupakan petugas kesehatan ke-70 yang terbunuh dalam serangan Israel. “Pembunuhan Dr. Marwan al-Sultan oleh militer Israel merupakan kerugian besar bagi Gaza dan seluruh komunitas medis, sertan akan berdampak buruk pada sistem perawatan kesehatan Gaza,” kata Muath Alser, Direktur HWW.
“Kami sangat terkejut dan berduka. Beliau tidak dapat digantikan,” kata Dr. Mohammed Abu Selmia, Direktur RS Al-Shifa di Gaza. “Beliau adalah seorang cendekiawan terkemuka dan salah satu dari dua ahli jantung yang tersisa di Gaza. Ribuan pasien jantung akan menderita akibat terbunuhnya Dokter Marwan. Satu-satunya kesalahannya adalah dia seorang dokter. Kami tidak punya pilihan selain tetap tabah, tetapi rasa kehilangan ini sangat menghancurkan.”
Mu’ath Abu Rukba

Ia diberi julukan “Penjaga Hewan” karena dedikasinya untuk merawat hewan-hewan di Gaza sepanjang hidupnya. Abu Rukba adalah dokter hewan terakhir di Gaza utara yang mendirikan kliniknya sendiri, satu tahun sebelum genosida. Namun, klinik hewan itu hancur saat Israel membombardir Jalur Gaza. Mu’ath Abu Rukba menghilang pada 10 Oktober 2025, tepat pada saat gencatan senjata terjadi ketika ia hendak memeriksa rumahnya di daerah Jabalia.
Sebuah organisasi kesejahteraan hewan yang berbasis di Gaza, Sulala Animal Rescue, mendesak klarifikasi segera mengenai keberadaan Abu Rukba. Seminggu setelah kehilangannya, saudara laki-lakinya mengonfirmasi bahwa setelah mendatangi lokasi terakhir Abu Rukba, diketahui bahwa saudaranya telah terbunuh. Melalui dunia maya, para aktivis yang menyuarakan rasa berduka atas kepergian Abu Rukba, menyoroti kontribusinya dan karakter baiknya.
Tokoh Perlawanan Palestina, “Pahlawan Bertopeng” yang Suaranya Diingat Dunia
Hudzaifa al-Kahlout

Ia dikenal dengan panggilan “Abu Ubaidah” dan julukan “Si Bertopeng” di dunia Arab karena dunia hanya mengenalnya melalui suara. Ia selalu muncul dengan wajah tertutup keffiyeh merah sebagai juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, tanpa pernah memperlihatkan wajah, nama, maupun kisah pribadinya. Identitasnya baru terungkap setelah ia gugur sebagai syahid yang diumumkan pada akhir tahun 2025.
Abu Ubaidah bernama asli Hudzaifa Samir Abdullah al-Kahlout, lahir pada 1984 sebagai pengungsi Palestina di Arab Saudi. Keluarganya berasal dari Desa Najaliya, wilayah Asqalan, yang dihancurkan milisi Zionis pada 1948. Ia kemudian kembali ke Gaza dan tumbuh di Kamp Pengungsi Jabalia, sebelum menempuh pendidikan syariah di Universitas Islam Gaza. Kahlout telah menjabat sebagai juru bicara sayap militer Hamas selama lebih dari 20 tahun dan menjadi salah satu simbol yang paling menonjol dari perlawanan Palestina
.Mereka Pamit untuk Bertugas, Namun Berpulang ke Keabadian

Para jurnalis, tenaga medis, dan tokoh perlawanan di Gaza bukan sekedar orang yang bersuara di balik kamera atau tangan yang merawat korban yang terluka. Mereka juga merupakan seorang ayah, ibu, atau anak di keluarga mereka. Mereka adalah dunia bagi orang-orang yang mencintai mereka. Mereka juga merupakan bagian dari kita, yang video dan suaranya kita dengar setiap hari di media, yang kisah-kisah heroiknya menginspirasi banyak orang di dunia. Mereka bukan angka, mereka adalah kisah yang penuh makna, harapan, dan impian.
Sepanjang tahun 2025, Israel telah menghabisi nyawa 56 jurnalis di Gaza, sehingga jumlah total jurnalis yang dibunuh sejak awal genosida mencapai 257 orang. Israel juga telah menargetkan 1.722 tenaga kesehatan sejak awal genosida, dan tak terhitung berapa banyak tokoh perlawanan yang telah diserang. Raga mereka memang telah tiada, namun nama, kisah, dan jasa mereka akan selalu dikenang. Mereka yang pamit untuk pergi bertugas, kini telah berangkat menuju keabadian, tempat jiwa mereka beristirahat untuk selamanya.
Kepergian para jurnalis, tenaga medis, dan tokoh perlawanan Gaza bukan hanya sekedar pemakaman hening belaka. Kepergian mereka adalah berita yang menggemparkan dunia, menjadi simbol bagi pejuang-pejuang kemanusiaan yang gugur ketika bertugas, yang dihabisi nyawanya saat sedang bekerja. Mereka adalah bukti nyata dari penargetan yang disengaja terhadap orang-orang yang berjuang di garis depan perlawanan. Kematian mereka harus disuarakan, dunia harus mengenal nama-nama mereka. Sebab mereka sejatinya tidak pernah mati, melainkan terus hidup dalam setiap fakta yang mereka suarakan, dalam setiap detak jantung yang mereka selamatkan, dan dalam setiap kalimat perlawanan yang mereka lantangkan kepada dunia.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Al Jazeera
Middle East Eye
The Palestine Chronicle
The Guardian
Wafa
TRT World
Anadolu Agency
Haaretz
The New Arab
+972 Magazine
Electronic Intifada








