Sejumlah tawanan Palestina yang baru dibebaskan mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa penjara-penjara Israel menerapkan kondisi penahanan yang sangat kejam dan tidak manusiawi. Mereka menggambarkan pusat-pusat penahanan tersebut sebagai “kuburan bagi orang hidup”. Kesaksian ini muncul saat para mantan tawanan tiba di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah. Mereka disambut isak tangis dan pelukan panjang keluarga mereka.
Salah satu mantan tawanan mengungkapkan bahwa ia ditahan selama tiga bulan di kamp penahanan Sde Teiman di Gurun Naqab (Negev). Namun, ia mengatakan masa tersebut terasa seperti puluhan tahun akibat penyiksaan yang dialaminya. Ia menyaksikan berbagai bentuk kekerasan dan menunjukkan gigi-giginya yang patah dan hilang akibat pemukulan oleh penjaga Israel.
Mantan tawanan lainnya, Ghith Aliyan Mohammad Abu Aoun, seorang nelayan, mengatakan bahwa pasukan Israel menculiknya pada Maret lalu saat ia dan rekan-rekannya sedang melaut. Ia menegaskan bahwa kondisi di dalam penjara Israel sangat buruk dan terus memburuk dari waktu ke waktu.
Sementara itu, mantan perempuan tawanan Reem Abu Jazar asal Tepi Barat mengungkapkan bahwa otoritas Israel mendeportasinya ke Gaza, memaksanya meninggalkan putrinya yang sakit dan suaminya yang juga dalam kondisi tidak sehat di Ramallah. Ia ditangkap pada Desember lalu di sebuah pos penyeberangan dengan tuduhan membawa pisau dan berafiliasi dengan Hamas.
Reem mengatakan bahwa ia tidak pernah diizinkan bertemu pengacara maupun dihadapkan ke pengadilan. Selama penahanan, ia mengalami penggeledahan telanjang, interogasi pada malam hari, serta perampasan hak tidur. Ia menyebut 20 hari masa penahanannya terasa seperti bertahun-tahun akibat penghinaan terus-menerus, pemukulan oleh penjaga laki-laki dan perempuan, serta pengawasan kamera tanpa henti.
Ia juga mengungkapkan bahwa penjara Israel menahan banyak anak perempuan yang ditangkap akibat unggahan media sosial terkait Gaza selama genosida berlangsung. Anak-anak tersebut, menurutnya, mengalami penderitaan berat di dalam tahanan. Reem menegaskan bahwa perempuan tawanan menghadapi perlakuan merendahkan, kekerasan verbal, dan fisik. Menurutnya, ketiadaan makanan dan air menjadi hal yang terasa kecil dibandingkan penghinaan harian yang mereka alami. Banyak perempuan juga ditahan tanpa dakwaan melalui skema penahanan administratif yang diperpanjang setiap enam bulan.
Ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk menekan Israel agar membebaskan anak-anak yang diculik dan ditawan di Penjara Damon, yang ia sebut sebagai “penjara penyiksaan terbesar”. Sekali lagi, ia menggambarkan penjara-penjara Israel sebagai “kuburan bagi orang hidup
Sumber:
Qudsnen








