Pengasingan rakyat Palestina berawal dari peristiwa yang memutus hubungan paling dasar antara manusia dan tanahnya. Sejak pertengahan abad ke-20, ratusan ribu warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah, desa, dan kota mereka—sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Nakba 1948. Pengusiran itu menyebabkan penduduk Palestina kehilangan tempat tinggal sekaligus juga mengalami pemutusan sejarah: nama-nama desa dihapus, peta digambar ulang, dan keberadaan sebuah bangsa diingkari.
Nakba telah memisahkan manusia dari tanah tempat kelahiran yang membentuk kata pertama dan bahasanya, menceraikan eksistensi diri dari lanskap yang menanamkan makna pada ingatan. Apa yang dialami oleh penduduk Palestina selama hampir delapan puluh tahun terakhir ini membuktikan bahwa pengasingan bukanlah sekadar peristiwa politik tentang pemindahan tempat hidup secara paksa, melainkan juga sebuah proses dan kondisi untuk menghilangkan eksistensi, untuk menghilangkan relasi dari yang awalnya memiliki dan terkait menjadi terpisah dan asing.
Di tengah arus deras pengasingan ini, generasi yang lahir pada periode 1930 hingga 1940-an, tumbuh dengan kesadaran akan ancaman ketercerabutan identitas dan eksistensi. Mereka lahir di Palestina, hidup di Palestina, menyaksikan pengusiran demi pengusiran, menjadi bagian dari mereka yang terusir, namun mereka menolak untuk lupa.
Orang-orang tua bercerita, mewariskan bahasa dan budaya, serta menanamkan keteguhan dan keyakinan bahwa mereka akan kembali ke tanah tumpah darah. Sementara itu, generasi yang lebih muda menuliskan ingatan mereka dan kisah-kisah yang didengar, turut memastikan bahwa ‘memori kolektif” yang membentuk warga Palestina sebagai bangsa yang memiliki tanah, akan tetap terjaga. Mereka menjadikan pengusiran dan pengasingan bukan sebagai kenangan melainkan sebagai fondasi hidup dan perlawanan melalui kata-kata.
Inilah jalur yang ditempuh oleh Mahmoud Darwish dan Ghassan Kanafani. Keduanya sama-sama korban Nakba pada usia yang masih belia. Keduanya merasakan hidup di pengasingan, namun sama-sama menolak diam. Dalam puisi, esai, dan cerpennya, dalam kritik dan narasi politiknya, mereka membuktikan bahwa kata adalah alat untuk mempertahankan identitas dan memori kolektif yang hendak dihapuskan melalui penjajahan.
Mahmoud Darwish: Pengasingan, Identitas, dan Jalinan Kerinduan di antara Kata

Ia dijuluki sebagai penyair nasional Palestina sebab karya-karyanya begitu dalam menangkap penderitaan dan harapan rakyat Palestina. Mahmoud Darwish (1941–2008) lahir di sebuah desa kecil bernama Al-Birwa yang berlokasi di Distrik Akka, Al-Jalil (Galilee) kawasan Palestina yang dihancurkan bersama lebih dari 400 desa lainnya oleh milisi Zionis pada 1948 untuk kemudian diklaim sebagai wilayah Israel.
Pada usia 6 tahun, ia menjadi bagian dari penduduk Palestina yang terusir bersama lebih dari 750.000 lainnya. Seumur hidup, ia dihantui oleh bayangan pengusiran, bagaimana desanya dibakar dan ia harus pergi pada tengah malam bersama keluarganya menuju Lebanon dan hidup di sebuah kamp pengungsian. Ia mengenang kengerian peristiwa itu dalam sebuah puisinya.
“Ibu,
ingatkah engkau tentang pelarian kita ke Lebanon?
Ketika kau menyembunyikanku di sebuah karung roti;
aku diam agar aku tak membangunkan para penjaga.”
Setahun kemudian, secara rahasia, keluarganya berusaha kembali. Namun, mereka harus menyaksikan kampung halaman yang telah rata dengan tanah. Mereka pun bergerak menuju Deir al-Asad dan membangun hidup di sana dengan status “pengungsi internal”. Status ini membentuk metafora migrasi yang menjadi tema besar puisinya, seperti kehilangan tempat tinggal, identitas, dan ingatan kolektif.
Darwish menjadi simbol suara Palestina melalui karyanya melintasi batas perlawanan politis; ia menghubungkan luka individu dengan tragedi bangsa melalui jalinan tema pribadi dan politik yang berangkat dari pengalaman. Pada usia remaja, Darwish membacakan sebuah puisi bertema apartheid yang ia tulis di sekolah. Di Deir Yassir, puisinya pun bergema:
“Kau dapat bermain di bawah sinar matahari sesuka hati, dan memiliki mainan;
tapi aku tidak.
Kau punya rumah, tapi aku tidak.
Kau dapat memiliki perayaan, tapi aku tidak.”
Pada 1964, dalam puisinya “Kartu Identitas” Darwish menyatakan, “Tuliskan: Saya seorang Arab!” Klaim identitas yang kuat ini menjadikan puisi tersebut sebagai simbol perlawanan. Ia juga pernah menuliskan bahwa “Tanpa harapan kita tersesat.” atau “Pengasingan lebih dari sekadar konsep geografis. Kau bahkan bisa menjadi orang buangan di tanah airmu sendiri.” Baris-baris tersebut mengungkapkan bagaimana pengasingan tidak hanya membentuk sebuah identitas karena kehilangan tempat tinggal, tetapi juga terjadi akibat ketiadaan pengakuan eksistensi.
Dalam puisinya yang berjudul “أَنَا من هُنَاكْ…أَنَا من هُنَا” “Aku dari Sana…Aku dari Sini”, ia menuliskan:
“Aku berasal dari sana… Aku berasal dari sini.
Dan aku tidak di sana, juga tidak di sini.
Aku punya dua identitas, yang terkadang bersatu kemudian berpisah.
Aku punya dua bahasa dan aku lupa; mana yang aku gunakan untuk bermimpi.
Aku dapat menulis dengan bahasa Inggris,
tetapi bahasa jiwaku–yang terhubung dengan Al-Quds–terlalu dalam untuk kuucapkan.
[…]
Maka, bawalah negerimu ke mana pun engkau pergi;
bertahanlah dengan identitasmu.
Dunia luar adalah pengasingan,
dan dunia batin pun adalah pengasingan.
Lalu, siapakah engkau di antara keduanya?”
[…]
Puisinya liris, mengalir lembut, namun kuat secara makna. Ia mewakili orang-orang Palestina yang dipisahkan dari tanahnya, tetapi jiwa mereka tertinggal di sana. Maka, eksistensi bisa saja diredupkan, tetapi identitas tidak dapat sepenuhnya dilenyapkan–ia menyatu dan akan selalu terbawa, sejauh apa pun seseorang dipaksa pergi atau diasingkan. Kekuatan makna yang terkandung menyebabkan karyanya disensor dan pergerakannya pun dibatasi. Mahmoud Darwish sempat dipenjarakan dan dijadikan tahanan rumah oleh otoritas Israel.

(Yasser Arafat Foundation)
Pada 1970 Darwish pergi menuju Uni Soviet dan melanjutkan perjalanannya ke Kairo, Mesir pada 1971 untuk bekerja di harian al-Ahram. Dua tahun kemudian, Darwish bermigrasi ke Beirut, Lebanon. Ia tinggal cukup lama di sana dan bekerja sebagai editor jurnal “Palestinian Affairs” dari tahun 1973 hingga 1982. Ia juga bergabung sebagai Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Namun, setelah bergabung lebih dari sepuluh tahun, Darwish memutuskan untuk keluar dari PLO sebagai sikap protesnya atas Perjanjian Oslo.
Pada 1982, ketika ia di Lebanon, tentara Israel menginvasi Lebanon, mengerahkan puluhan ribu pasukan, menghancurkan banyak desa, dan membunuh ratusan warga sipil. Beirut dikepung selama 30 hari, nyaris tanpa air dan listrik. Darwish terperangkap di dalam kota bersama ratusan ribu warga Lebanon dan Palestina. Dari sana, ia menyuarakan syairnya.
“Makam kami telah digali, maka kami tidur seperti semut
di dalam liang kecil itu,
seakan-akan kami bernyanyi diam-diam.
Beirut adalah tempat perlindungan kami.
Beirut adalah bintang kami.”
Puisi-puisi Darwish berupaya untuk memperkuat ingatan-ingatan masa lalu di tengah upaya Zionis-Israel yang hendak menihilkan sejarah Palestina dari atas tanah yang dijajah. Menurut Darwish, mengingat dan menuliskan sejarah bukan sekadar cara untuk mengangkat narasi Palestina ke atas panggung dunia, melainkan juga untuk memeliharanya dalam keabadian.
Dalam bukunya yang berjudul Palestine as Metaphor sebagaimana dikutip Ghannam dan el-Zein, ia menegaskan bahwa untuk menghadapi “gagasan” bahwa Palestina tidak memiliki masa lalu dan menghadapi kehancuran yang dibuat seolah-olah tidak dapat disusun kembali, maka kata-kata berperan dalam menghadirkan kembali ingatan sejarah. Mengenai hal itu, Darwish menuliskan:
“Tanah ini adalah milikku, dengan segala kebudayaannya yang berlapis: Kanaan, Ibrani, Yunani, Romawi, Persia, Mesir, Arab, Utsmani, Inggris, dan Prancis.
Aku ingin hidup dalam seluruh kebudayaan itu.
Adalah hakku untuk menyatu dengan semua suara yang pernah bergema di tanah ini,
sebab aku bukan penyusup, bukan pula orang yang sekadar lewat.”
Mahmoud Darwish meninggal pada 9 Agustus 2008 karena serangan jantung. Ia meninggalkan dunia, tetapi karyanya tetap hidup. Puisinya menjadi cara mempertahankan identitas, merawat kerinduan, dan memberi suara bagi pengasingan Palestina.
Ghassan Kanafani dan kata-kata tanpa kompromi

Ia lahir di kota pelabuhan Akka (Acre) pada 9 April 1936. Kelahirannya bertepatan dengan dimulainya al-Tsawra al-Kubra (Revolusi Besar) tahun 1936–1939, yang merupakan periode perjuangan anti-kolonial terpenting melawan pemerintahan Inggris di Timur Tengah. Pada masa itu, penjara Akka menampung ratusan tawanan Palestina dan menyaksikan ratusan orang Arab yang dieksekusi oleh Inggris. Ayahya, Fayiz Kanafani, adalah seorang pengacara yang terlibat aktif dalam revolusi tersebut,
Ghassan Kanafani belajar di College des Freres yang terkenal di Yaffa. Namun, pendidikannya di sana tidak dapat ia selesaikan akibat Nakba. Usia Ghassan masih 12 tahun ketika Nakba terjadi pada 1948. Di Akka, kampung halamannya, Zionis menyuntik pasokan air utama kota itu dengan kuman tifus sehingga menyebabkan epidemi di kota tersebut. Pencemaran air itu diikuti dengan serangan peluru dan artileri berat. Menghadapi serangan tersebut, orang-orang mulai mengungsi.
Keluarga Kanafani awalnya mengungsi ke Lebanon, tetapi kemudian menetap di Damaskus. Seperti kebanyakan pengungsi Palestina lainnya, keluarga Kanafani mengira mereka akan segera kembali ke rumah. Namun kenyataannya, pengungsian ini menjadi pengasingan permanen: kehidupan nyaman mereka sebelumnya digantikan dengan kehidupan yang penuh dengan kemiskinan dan kesulitan. Di pengungsian itulah Ghassan mulai menggambar, melukis, dan menulis catatan tentang berbagai hal yang dialami, dirasakan, dan dilihatnya sebagai pengungsi.
Tulisannya semakin kuat ketika ia mulai terlibat dalam kehidupan dinamis sebagai mahasiswa di Universitas Damaskus pada tahun 1950-an. Ia juga bekerja sebagai guru kesenian di sebuah sekolah UNRWA untuk pengungsi Palestina. Berbagai aktivitas tersebut membawanya ke berbagai wajah dan pemikiran, termasuk kepada George Habbash, pimpinan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), seorang aktivis Kristen asal Lydd, Palestina, yang juga terusir dari kampung halamannya. Habbash mendorong Ghassan untuk terus menulis tentang Palestina dan mengirimkannya ke media massa.
Palestina yang terlahir dari karya Kanafani merupakan pengalaman hidup yang tercerabut, terdesak, dan sering kali tak sempat dijelaskan. Sebagai pengungsi sejak kecil, Kanafani membawa ketercerabutan itu ke dalam prosa yang dingin, ringkas, dan tidak bertele-tele. Tokoh-tokohnya tidak hadir sebagai pahlawan, tetapi sebagai manusia biasa yang dipaksa mengambil keputusan di tengah ruang yang makin menyempit. Misalnya dalam cerpen yang berjudul “The Land of Sad Oranges”. Segalanya mulai terasa berbeda ketika Akka diserang. Malam itu berat bagimu dan bagiku. Para perempuan berdoa, para lelaki terdiam getir. Kau lainnya dan aku, dan semua anak, tidak memahami apa yang sedang terjadi. Namun sejak malam itulah kami mulai mengumpulkan helaian-helaian kisah itu.
Dalam cerpen itu, Kanafani menuliskan konflik batin yang dialami tokoh-tokoh ketika mengungsi dari Yaffa. Saat hampir tiba Ra’s an-Naqoura, pos pemeriksaan di perbatasan Palestina dan Lebanon, mereka melihat jajaran pohon jeruk yang serta-merta menghadirkan sisi ketidakberdayaan mereka. Para perempuan turun dan mendekati seorang petani yang berjongkok di depan sebuah keranjang jeruk. Mereka membeli jeruk-jeruk itu, dan kami mendengar mereka meratap. Pada saat itulah aku menyadari bahwa jeruk adalah sesuatu yang berharga, sesuatu yang dekat dengan hati kami. Para perempuan membeli buah-buah itu lalu kembali ke mobil. Ayahmu mengulurkan tangan, mengambil sebuah jeruk, menatapnya dalam diam, lalu menangis tersedu-sedu—seperti seorang anak kecil yang malang.
Melalui tuturan tersebut, terlihat bahwa “jeruk” adalah bagian tanah mereka yang turut “dibawa” ketika mereka pergi, baik itu “jeruk” secara literal yang berarti buah, maupun “jeruk” yang berarti gambaran akan kampung halaman. Itulah sebabnya mengapa para perempuan meratap dan ayahnya menangis tersedu-sedu ketika melihat jeruk, terlebih lagi saat mereka semua harus meninggalkan Yaffa, tanah yang melahirkan jeruk-jeruk terbaik itu.
Kami ditumpuk di pengasingan, tercabut dari masa kanak-kanak kami, jauh dari tanah jeruk. Pernah seorang petani tua berkata, jeruk kami akan mati jika disiram oleh tangan yang asing. Sementara itu, ayahmu jatuh sakit, terempas di atas ranjangnya, dan ibumu terus menyeka air mata yang tak pernah meninggalkan matanya.
Aku menyelinap masuk ke kamar itu sebagai orang yang terbuang. Aku melihat wajah ayahmu bergetar oleh amarah yang patah, dan pada saat yang sama aku melihat pistol hitam itu di atas meja rendah. Di dekatnya terletak sebuah jeruk; kering dan keriput.

Namun, Kanafani tidak hanya menggambarkan ketidakberdayaan. Dalam ceritanya yang lain, ia mengisahkan bagaimana keteguhan dapat menjadi alasan untuk bertahan di tengah luka dan keterbatasan. Cerpen berjudul “Letter from Gaza” ditulis oleh Kanafani pada 1956, menceritakan korespondensi antara seorang pemuda Gaza dengan temannya yang pergi meninggalkan Palestina. Awalnya, pemuda ini ingin ikut keluar dari Gaza, tetapi segalanya berubah ketika ia melihat seorang gadis kecil bernama Nadia yang kehilangan kaki akibat serangan Israel.
Aku keluar ke jalan-jalan Gaza, jalan-jalan yang dipenuhi cahaya matahari yang menyilaukan. Mereka mengatakan kepadaku bahwa Nadia telah kehilangan kakinya ketika ia menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi adik-adiknya dari bom dan kobaran api yang mencengkeram rumah itu dengan cakar-cakarnya. Nadia sebenarnya bisa menyelamatkan dirinya. Ia bisa saja berlari, menyelamatkan kakinya, tetapi ia tidak melakukannya.
Dalam “Letter of Gaza” Nadia hadir sebagai realitas sehari-hari di Gaza; tentang luka permanen dan hidup yang berjalan tanpa banyak pilihan. Saat melihat Nadia, pemuda itu menyadari bahwa meninggalkan Gaza berarti meninggalkan kenyataan, dan bahwa pergi bukanlah keselamatan, melainkan pengingkaran.
Sementara itu, dalam penutup novel Returning to Haifa yang terbit pada 1969, Kanafani menuliskan, “Tahukah kau apa itu tanah air, Safiyya? Tanah air adalah tempat di mana semua ini tidak mungkin terjadi.”
“Apa yang terjadi padamu, Said?”
“Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Aku hanya bertanya. Aku sedang mencari Palestina yang sejati. Palestina yang lebih dari sekadar kenangan, lebih dari bulu merak, lebih dari seorang anak, lebih dari luka-luka yang disarangkan peluru di anak tangga.”
Ketika tokoh Said mengatakan bahwa “tanah air adalah tempat di mana semua ini tidak mungkin terjadi”, ia sedang menolak definisi tanah air yang selama ini diwariskan kepada para pengungsi. Tanah air bukan sekadar kota kelahiran, bukan sekadar rumah yang ditinggalkan, bahkan bukan sekadar anak yang direnggut oleh sejarah. Semua itu penting, tetapi tidak cukup.
Kanafani seolah ingin menegaskan bahwa jika Palestina hanya dikenang, ia hanya akan menjadi cerita. Namun jika Palestina dijalani—meski dalam luka—ia tetap menjadi rumah yang sedang diperjuangkan. Maka, baik dalam “Letter from Gaza” maupun Returning to Haifa, Palestina digambarkan sebagai ruang yang dipilih secara sadar untuk tidak ditinggalkan.
Pesan tegas yang termuat dalam setiap karya sastra Kanafani, sejalan dengan sikap politiknya yang juga lugas. Dalam wawancara tahun 1970 bersama jurnalis Australia Richard Carleton, Kanafani menyebut gagasan perundingan damai sebagai kapitulasi—sebuah percakapan yang tidak setara, seperti dialog antara pedang dan leher.
Di antara ungkapannya yang terkenal adalah, “Mereka mencuri roti darimu, lalu memberi remah-remahnya kepadamu, kemudian menuntutmu untuk berterima kasih atas kemurahan hati mereka…oh, betapa kurang ajarnya mereka!” Kalimat itu bukan sekadar retorika politik; ia mencerminkan logika sastra Kanafani sendiri, yang selalu menolak bahasa netral ketika ketidakadilan bersifat struktural.
Tidak mengherankan jika Kanafani dipandang sebagai ancaman, sebab ia adalah figur publik yang terang-terangan mengkritik Israel sekaligus aktivis perlawanan yang sadar akan daya jangkau kata-kata. Pada 8 Juli 1972 di Beirut, sebuah upaya dilakukan untuk membungkamnya. Kanafani yang berusia 36 tahun dan keponakannya yang berusia 17 tahun, Lamees Najim, masuk ke dalam mobilnya. Ia menyalakan mesin dan seketika mobil pun meledak, membunuh keduanya. Mossad–agen intelijen Israel– kemudian mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Surat kabar Lebanon, The Daily Star, menyebut Kanafani sebagai “komando yang tidak pernah menembakkan senjata, sebab senjatanya adalah pulpen dan arenanya adalah halaman surat kabar.” Pembunuhan itu mungkin mengakhiri hidupnya, tetapi tidak berhasil menghentikan pekerjaannya dalam sastra untuk menolak rekonsiliasi palsu dan menjaga agar Palestina tidak direduksi menjadi isu kemanusiaan belaka.
Kata-kata yang menjaga tanah air dan menyalakan cita-cita merdeka

Kata-kata Darwish dan Kanafani bergerak di medan yang sama, yaitu gambaran sekaligus perlawanan terhadap penjajahan. Darwish menulis tentang luka dan kehilangan, namun setiap larik puisinya adalah deklarasi eksistensi, pengakuan bahwa Palestina tidak hanya ada dalam kenangan, tetapi tetap hidup dalam bahasa yang menolak untuk diam. Kata-kata Darwish menjadi saksi sekaligus benteng yang merangkul kehilangan sekaligus menolak untuk menyerah pada kepunahan identitas.
Kanafani, di sisi lain, menggunakan prosa sebagai medan perlawanan yang lebih konkret. Ia menolak nostalgia yang pasif, menolak kepulangan yang ilusi, dan menegaskan bahwa bertahan—meski di tengah reruntuhan, bom, dan penderitaan—adalah bentuk paling setia dari eksistensi. Jika terkait dengan kesepakatan dengan penjajah, Ia berbicara tanpa kompromi, sebab menurutnya, apa yang diharapkan dari dialog ketika yang satu memegang pedang dan yang lain hanya boleh memberi leher?
Relevansi tema yang diangkat oleh kedua penyair ini masih sesuai dengan konteks pada saat ini. Tanah Palestina berkurang tidak hanya pada Nakba, tetapi masih berlangsung hingga kini. Gaza dihancurkan, Tepi Barat dan Al-Quds dirusak, baik dari luar maupun dalam, perampasan tanah, pengusiran, dan kejahatan lainnya dilakukan dengan lebih terang-terangan. Segala upaya ini tidak lain merupakan langkah untuk menghapuskan Palestina dari ingatan sejarah.
Namun, Darwish dan Kanafani menunjukkan bahwa kata-kata dapat menjadi senjata yang paling tajam. Dalam puisi, cerpen, dan esai mereka, bahasa berfungsi sebagai ruang untuk melawan lupa, menolak penindasan, dan untuk menjaga agar tanah air tetap bernapas. Tulisan mereka memaksa dunia untuk melihat apa yang orang lain ingin lupakan. Di situlah kekuatan mereka bersatu: kata-kata sebagai perlawanan, kata-kata sebagai rumah, kata-kata sebagai tanah air.
Referensi
Munir Ghannam dan Amira el-Zein (2009). Reflecting on the Life and Work of Mahmoud Darwish. CRIS, Volume 3.
Ummu Shamima dan Kaleel Ahamed (2025). Exile’s Bed: Memory, Displacement, and Identity in Mahmoud Darwish’s A Bed for the Stranger. Bodhi International Journal of Research in Humanities, Science and Arts. Volume 10. Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/398274919_View_of_Exile’s_Bed_Memory_Displacement_and_Identity_in_Mahmoud_Darwish’s_A_Bed_for_the_Stranger https://www.aljazeera.com/features/2024/3/13/remembering-mahmoud-darwish-the-poetic-voice-of-palestinehttps://poets.org/poet/mahmoud-darwish#:~:text=1941%20%E2%80%93,more%20than%20twenty-two%20languages.
https://www.globalplatforms.org/read/the-road-exile-paths-identity-and-the-search-homeland
https://www.poetryfoundation.org/poems/52549/who-am-i-without-exile https://www.poetryfoundation.org/poets/mahmoud-darwish
https://www.thenation.com/article/archive/lines-beyond-nakba/https://www.counterfire.org/article/the-revolutionary-life-of-ghassan-kanafani-50-years-after-israel-assassinated-him/
http://www.nobleworld.biz/images/sad_orange.pdf
https://www.marxists.org/archive/kanafani/1956/letterfromgaza.htm https://www.middleeasteye.net/discover/ghassan-kanafani-palestine-life-writerhttps://lithub.com/a-brief-remembrance-of-ghassan-kanafani/https://www.hamptonthink.org/read/ghassan-kanafani-a-legacy-of-giving-and-resistance
https://www.palquest.org/en/biography/6566/ghassan-kanafani
https://teachpalestine.org/articles/ghassan-kanafani/








