Untuk tahun ketiga berturut-turut, Natal kembali dirayakan secara senyap di Palestina. Tidak ada tarian dan nyanyian yang meriah, juga tidak ada lampu-lampu yang mencolok di jalanan. Tahun ini, Natal kembali dirayakan dalam keheningan, diisi dengan doa-doa untuk para korban yang telah berpulang, juga harapan akan datangnya kedamaian di Palestina yang setiap hari tidak lepas dari serangan.
Setiap akhir tahun menjelang, umat Kristen Palestina hampir tidak memiliki alasan untuk merayakan Natal, sehingga dalam beberapa tahun terakhir, perayaan Natal publik ditiadakan. Patriarkat Latin Al-Quds (Yerusalem) dan para pemimpin gereja menyampaikan dalam pesan Natal mereka bahwa gencatan senjata memang memungkinkan banyak komunitas Kristen merayakan Natal secara lebih terbuka tahun ini. Namun, mereka menegaskan bahwa kekerasan tidak benar-benar berhenti, dan ratusan orang terus terbunuh atau terluka.
Pada akhir tahun 2025, umat Kristen di Palestina tidak hanya kehilangan tradisi Natal mereka, tetapi juga menghadapi ancaman terhadap eksistensi mereka. Di Jalur Gaza, umat Kristen dan gereja-gereja juga turut menjadi sasaran serangan. Adapun di Tepi Barat, umat Kristen terusir akibat proyek permukiman ilegal, dan di Al-Quds, para pemukim terus melakukan penodaan terhadap simbol-simbol Kristen danpemuka agamanya. Hal ini semakin jelas menunjukkan bahwa serangan Israel terhadap Palestina sama sekali tidak menargetkan penganut agama tertentu, melainkan bentuk kolonialisme dan pembersihan etnis tanpa pandang bulu terhadap seluruh penduduk Palestina.
Tak Ada yang Bisa Dirayakan oleh Umat Kristen di Gaza

Tahun 2025 menjadi tahun ketiga berturut-turut umat Kristen di Gaza menyambut Natal tanpa perayaan publik. Sebelum genosida, gereja-gereja di seluruh Gaza akan mengubah halaman mereka menjadi tempat berkumpul, menghiasi jalanan dengan lampu-lampu meriah, dan mengadakan acara nyanyian Natal yang menyatukan keluarga. Akan tetapi, tahun ini, pohon natal raksasa yang dulunya berdiri sebagai simbol perayaan tidak akan dinyalakan, juga tidak akan ada hiasan di rumah-rumah dan jalanan karena seluruhnya telah hancur akibat serangan.
George Anton, direktur operasional di patriarkat Latin di Gaza mengatakan bahwa gereja-gereja membatasi perayaan hanya dengan berdoa dan gambaran kelahiran Yesus di dalam gedung gereja. Ia menyebutkan bahwa sejak awal genosida, tiga gereja bersejarah di Gaza—Gereja Santo Porphyrius, Gereja Keluarga Kudus, dan Gereja Baptis—mengalami kerusakan parah. Anton mengatakan setidaknya 53 orang Kristen telah meninggal sejak awal genosida dan banyak lainnya terluka, sehingga tidak ada yang bisa dirayakan dalam kondisi kehilangan dan berduka yang terjadi saat ini.
Umat Kristen di Gaza adalah salah satu komunitas tertua di Timur Tengah, yang keberadaannya sudah ada sejak abad pertama. Namun, Al Jazeera menyebutkan bahwa jumlah umat Kristen di Gaza telah menyusut dalam beberapa tahun terakhir sejak genosida Israel dimulai. Saat ini, diperkirakan hanya tersisa kurang dari 1.000 orang Kristen di Gaza, jumlah ini merupakan penurunan tajam dari 3.000 orang yang tercatat pada 2007.
Tahun ini, para pemimpin gereja menyebutkan bahwa Gaza menyaksikan populasi umat Kristen terkecil selama beberapa dekade. Lebih dari 400 orang Kristen telah meninggalkan Gaza selama genosida, karena mengkhawatirkan keselamatan mereka setelah kerabat dan teman-teman mereka terbunuh. Saat ini, Middle East Eye menyebutkan bahwa hanya 220 keluarga Kristen – sekitar 580 orang – yang masih berada di Jalur Gaza.
Menurut Kamel Ayyad, juru bicara Gereja Santo Porphyrius, yang dibom oleh Israel beberapa bulan sejak genosida meletus pada tahun 2023, mayoritas penduduk Kristen di Gaza berasal dari Gaza sendiri, bukan dari wilayah luar. Akan tetapi, ada juga beberapa yang tiba di Gaza setelah peristiwa Nakba tahun 1948, yang menyebabkan ratusan ribu penduduk Palestina terusir dari tempat tinggal mereka. Meskipun sebagian besar umat Kristen di Gaza menganut kepercayaan Ortodoks Yunani, sebagian kecil lainnya beribadah di Gereja Katolik Keluarga Kudus dan Gereja Baptis Gaza. Namun, sejak genosida dimulai, gereja-gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, namun juga menjadi tempat perlindungan bagi penduduk Gaza.
Ketika Israel mengumumkan rencana operasi darat di Kota Gaza pada Agustus 2025, umat Kristen di Gaza berlindung di Gereja Keluarga Kudus. Saat para pengungsi di Kota Gaza mulai dievakuasi, Gereja Keluarga Kudus berdiri sebagai salah satu tempat perlindungan Kristen terakhir di Kota Gaza. Meskipun Gereja Keluarga Kudus tidak termasuk dalam zona yang ditandai untuk pengusiran oleh Israel, namun hampir 550 pengungsi yang berlindung di dalamnya tidak mempercayai militer Israel. Terlebih, gereja tersebut telah diserang berkali-kali sebelumnya. Para pengungsi yang tinggal di gereja tidak memiliki pilihan tempat yang lebih baik untuk pergi sehingga kebanyakan memutuskan untuk menetap meski Israel memerintahkan mereka untuk pergi ke selatan.
Para pemimpin komunitas Kristen Gaza mengatakan dalam pernyataan bersama yang dirilis pada 26 Agustus 2025 bahwa pengusiran paksa tersebut sama saja dengan “hukuman mati”. “Di antara orang-orang yang mencari perlindungan di kompleks gereja, banyak yang lemah dan kekurangan gizi karena kesulitan mendapatkan bantuan dalam beberapa bulan terakhir,” ujar para patriark. “Karena alasan ini, para pendeta dan biarawati telah memutuskan untuk tetap tinggal dan terus merawat semua orang yang berada di dalam kompleks.” “Keputusan ini diambil dengan kebebasan penuh,” jelas Farid Gibran, juru bicara Gereja Keluarga Kudus, seraya mengatakan bahwa mereka yang berlindung di gereja memiliki kebebasan untuk pergi jika mereka mau.
Pastor Gabriel Romanelli, pastor paroki Gereja Keluarga Kudus, menggambarkan keputusan pimpinan dan umat paroki untuk tetap tinggal sebagai upaya melestarikan “gereja sebagai tempat ibadah dan kehidupan”. “Bagi para pengungsi, tetap tinggal di sini berarti lebih dari sekadar perlawanan,” kata Romanelli, yang terluka dalam serangan Juli lalu dan masih dalam masa pemulihan, kepada Al Jazeera. “Ini adalah perlawanan simbolis, yakni dengan melindungi tempat yang mewujudkan sejarah komunitas mereka.”
Maryam al-Omr, seorang perempuan berusia 69 tahun yang berlindung di gereja bersama cucunya setelah rumahnya di Tal al-Hawa hancur, mengatakan kepada Al Jazeera: “Saya tidak akan pergi dari sini, meskipun itu berarti mati. Gereja ini adalah rumah terakhir saya, dan saya tidak akan meninggalkannya.” Namun, meski banyak yang memiliki tekad seperti al-Omr, tak sedikit juga yang membuat pertimbangan dengan lebih realistis karena kondisi gereja yang telah berulang kali menjadi target serangan Israel. Kompleks gereja tersebut telah menjadi sasaran serangan sejak Desember 2023 ketika seorang ibu lanjut usia, Nahida, dan anak perempuannya, Samar, yang berlindung di dalamnya ditembak mati oleh penembak jitu Israel.
Di tengah bombardir Israel, umat Kristen dan Muslim sama-sama mencari perlindungan di beberapa gereja di Gaza seperti Gereja Santo Porphyrius. Namun, setelah gereja tersebut dibom, mereka semua pindah ke Gereja Keluarga Kudus terdekat, yang terletak 400 meter (1.300 kaki) jauhnya, yang juga menyusul dibom. “Kurang dari 800 umat Kristen yang tersisa di Gaza berada di ambang kepunahan. Israel telah membuat kehidupan komunitas ini menjadi sangat sulit,” ujar Hani Mahmoud dari Al Jazeera, menggambarkan bahwa seluruh umat Kristen di Gaza menghadapi ancaman terhadap eksistensi mereka, baik yang memilih tetap tinggal maupun yang memilih untuk mengungsi.
Umat Kristen Tepi Barat, Penduduk yang Terusir dari Tanah Mereka Sendiri

Pada akhir tahun 2025, umat Kristen untuk pertama kalinya kembali menyaksikan pohon natal dinyalakan di depan Alun-Alun Palungan Betlehem, di depan Gereja Kelahiran. Meski perayaan tahun ini sedikit berbeda karena suasananya lebih tenang, tidak seperti sebelum genosida yang diisi dengan tarian dan nyanyian yang meriah, namun perayaan tersebut cukup menjadi pelipur lara bagi umat Kristen di Betlehem, yang menderita krisis ekonomi yang parah akibat pembatasan ketat Israel.
Beberapa hari sebelum Natal, Alun-Alun Manger tampak sepi, hanya beberapa penduduk setempat yang mengambil foto pohon Natal bertabur bintang yang dihiasi dengan bola-bola merah dan emas. Christmas House, salah satu toko utama di Alun-Alun Betlehem yang menjual patung-patung kelahiran Yesus, ornamen meriah, rosario, salib, dan perlengkapan keagamaan lain yang semuanya diukir dengan indah menggunakan kayu zaitun lokal, selama dua tahun terakhir, tetap tutup. Giacaman, yang mengelola bisnis tersebut, menyebutkan bahwa Israel telah mengubah Betlehem menjadi penjara besar.
Kemerosotan ekonomi yang melanda Betlehem sejak pandemi virus corona kini disertai dengan ancaman yang lebih serius. Terhimpit rapat di balik tembok apartheid yang memisahkan “Israel” dan Tepi Barat, Bethlehem terkepung oleh permukiman kolonial, sekaligus tercekik oleh jaringan puluhan pos pemeriksaan dan gerbang keamanan. Identitas Kristen dan Palestina di Betlehem hidup di bawah pengepungan yang semakin ketat. Pada 1948, umat Kristen mencakup 85 persen dari populasi Betlehem, tetapi pada 2017 angka itu telah anjlok menjadi sekitar 10 persen.
Serangan Israel terhadap Betlehem telah meningkat dengan sangat pesat sejak Februari 2023, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerahkan wewenang atas Tepi Barat kepada Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, kepala Partai Zionisme Religius ultra-nasionalis Yahudi. Sejak saat itu, situasinya terus memburuk karena kehancuran ekonomi akibat virus corona diikuti oleh genosida di Gaza dan serangan brutal Israel di Tepi Barat.
“Kami mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga lain setiap dua pekan sekali,” kata Pendeta Munther Isaac, yang selama bertahun-tahun menjadi pendeta lokal terkemuka sebelum pindah ke Ramallah. “Keluarga-keluarga Kristen pergi. Orang-orang sudah menyerah pada prospek kehidupan yang bermartabat di tanah air mereka.” Walikota Betlehem, Maher Nicola Canawati, menyebutkan bahwa sepuluh persen penduduk Bethlehem—4.000 orang—telah pindah dalam dua tahun terakhir.

Di Beit Sahour, beberapa kilometer dari Betlehem, komunitas Kristen juga menghadapi ancaman eksistensi yang serius. Bagi siapa pun yang mengenal kisah Kelahiran Yesus, Beit Sahour memiliki arti penting sebagai tempat para malaikat menyampaikan kabar kelahiran Yesus kepada para gembala yang “menjaga kawanan domba mereka pada malam hari”. Kini, ladang penggembala tersebut menjadi target perebutan para pemukim, mengusir para petani dan penggembala dari tanah milik mereka.
Beit Sahour, dengan populasi sekitar 15.000 jiwa, adalah kota yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Meskipun Palestina adalah tempat kelahiran agama Kristen, jumlah individu yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen di wilayah tersebut telah menyusut dari 12,5 persen sebelum berdirinya negara Israel pada 1948 menjadi hanya 2,2 persen di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki. Angka ini berisiko terus menurun seiring dengan meningkatnya serangan militer dan pemukim Israel.
Pada malam tanggal 19 November 2025, para pemukim Israel meratakan puncak Bukit Ush al-Ghurab di Kota Beit Sahour, Palestina, tepat di sebelah timur Betlehem. Keesokan paginya, warga Beit Sahour terbangun karena iring-iringan kendaraan yang ditempatkan di atas bukit dan pengumuman dari Yaron Rosenthal, kepala dewan pemukiman Israel terdekat di Gush Etzion. “Hari ini, kami mendirikan komunitas baru di Gush Etzion di Shdema,” kata Rosenthal, merujuk pada sebutan Israel untuk wilayah tersebut.
“Pos pemukiman baru Ush al-Ghurab bukan sekadar proyek konstruksi biasa,” kata Pendeta Dr. Fares Abraham, yang lahir di Beit Sahour, kepada The New Arab . “Bangunan itu berdiri di atas tanah milik keluarga-keluarga Palestina dari Beit Sahour dan daerah lain, serta mengancam untuk memisahkan kota-kota ini dari lahan mereka di sebelah timur.”
Sebagian besar wilayah Ush al-Ghurab adalah properti pribadi yang dimiliki oleh keluarga-keluarga Palestina dari Beit Sahour, sementara beberapa bagiannya dimiliki oleh pemerintah kota. Setelah pendudukan Tepi Barat oleh Israel pada 1967, militer Israel mendirikan “Kamp Shdema” di Ush al-Ghurab melalui beberapa perintah penyitaan tanah dengan alasan tanah tersebut diambil untuk “kebutuhan militer.” Di bawah kekuasaan Yordania di Tepi Barat, lokasi tersebut menjadi pangkalan militer. Pada 2006, tentara Israel secara resmi mengevakuasi pangkalan tersebut, menyatakan bahwa lokasi tersebut tidak lagi dibutuhkan untuk keperluan militer.
Ketika tentara meninggalkan Ush al-Ghurab, warga Israel, yang sebagian besar berafiliasi dengan Women in Green, sebuah koalisi pemukim yang berbasis di selatan Bethlehem, mulai sering mengunjungi lokasi tersebut pada tahun 2008 dan mengadvokasi kehadiran pemukim secara permanen di sana. Kadang-kadang, para pemukim mengganggu penduduk dan mencoret-coret grafiti di taman bermain mereka .
Menjelang Natal 2025, Bezalel Smotrich mengumumkan legalisasi 19 permukiman ilegal di seluruh Tepi Barat. Setiap warga Palestina telah mengetahui apa yang akan terjadi dengan kedatangan para pemukim: penghapusan tradisi hidup, pembangunan jalan-jalan “apartheid” baru yang membelah lanskap dan mengubah peta, pengusiran petani dan penggembala dari tanah mereka, penghancuran peralatan pertanian, dan intimidasi sehari-hari.
Sepanjang musim panas, para pemukim juga merebut tanah milik Biara Ortodoks Yunani Abba Gerasimos dari Yordan di Yerikho, sementara kelompok pemukim lain menyerbu Taybeh, desa Kristen terakhir yang sepenuhnya dihuni umat Kristen di Tepi Barat, membakar mobil dan merusak properti. Di Taybeh, para pemukim Israel seringkali menyerang desa Kristen tersebut, membakar mobil dan menyemprotkan grafiti berisi pesan ancaman.
Sebuah foto yang dibagikan oleh sebuah kantor berita pemerintah Palestina di X menunjukkan grafiti di dinding Taybeh yang bertuliskan: “Al-Mughayyir, kau akan menyesal”, merujuk pada sebuah desa di dekatnya yang juga diserang oleh pemukim pada awal tahun ini. Kementerian Luar Negeri Otoritas Palestina mengutuk serangan itu dan menyebutnya sebagai “terorisme pemukim”.
Sementara di Kota Tua Al-Quds (Yerusalem), pemukim ekstremis Israel secara teratur mengganggu dan meludahi umat Kristen. Pemerintah Israel juga telah menerapkan rencana untuk membangun tembok apartheid yang memisahkan Betlehem dari Al-Quds. Serangan terhadap 3.000 penduduk Kristen Armenia di Al-Quds juga meningkat tajam. Para pemukim secara teratur merusak kompleks Armenisa dan mencoretkan ujaran kebencian, seperti “Matilah orang Arab dan teman-teman Armenia mereka”.
“Itulah mengapa saya mengatakan bahwa ini mengancam kelangsungan Kekristenan, bukan hanya keberadaan umat Kristen,” kata Pendeta Dr. Fares Abraham, yang lahir di Beit Sahour, “Gereja dapat bertahan dari penganiayaan. Yang tidak dapat mereka atasi adalah pencekikan perlahan. Ketika suatu komunitas terisolasi dan tercekik secara ekonomi, akan sulit untuk dipertahankan keberadaannya, sehingga pada akhirnya eksistensi itu terkikis secara diam-diam tetapi pasti.”
Dari Balik Reruntuhan Gereja, Harapan dan Doa Terus Bertumbuh

Sejak bertahun-tahun lalu, Israel telah melakukan berbagai upaya untuk memusnahkan umat Kristen dan mengusir mereka dari tanah Palestina yang bersejarah. Di Tepi Barat, di Al-Quds (Yerusalem), juga di Jalur Gaza yang dilanda genosida, keberlangsungan komunitas Kristen semakin terancam. Hal ini menunjukkan bahwa penjajahan Israel terhadap Palestina bukan merupakan tindakan yang berlandaskan sentimen agama, melainkan murni bentuk kolonialisme dan pembersihan etnis terhadap penduduk asli Palestina.
Ancaman yang terus memburuk dari waktu ke waktu telah membuat tak sedikit keluarga Kristen yang memilih pergi untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, banyak juga yang masih memilih untuk tetap tinggal, menjaga tanah dan situs-situs suci mereka dari penodaan dan penyerangan. Keduanya sama baiknya dengan kondisi masing-masing. Baik yang bertahan di tanah kelahiran mereka, maupun yang memilih pergi untuk menyuarakan fakta yang terjadi di tanah air mereka kepada dunia.
Hingga kini, pemusnahan terhadap umat Kristen Palestina masih terus berlangsung. Dari balik gereja-gereja yang hancur, dari pohon Natal raksasa yang bertahun-tahun tak dinyalakan, dan dari toko-toko pernak-pernik Natal yang selalu terkunci, masih ada harapan yang tumbuh dan doa-doa yang mengalun lembut. Bukan sekedar untuk meminta Natal yang meriah maupun kado-kado yang mewah, melainkan dengan tulus memohon perdamaian dan kemerdekaan terhadap seluruh umat beragama di Tanah yang Diberkahi.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Al Jazeera
Middle East Eye
Middle East Monitor
Mondoweiss
The New Arab
Palestine Embassy








