Natal seharusnya menjadi musim tersibuk bagi para pedagang di Manger Square, Bethlehem. Namun, kota itu kini nyaris menjadi kota hantu. Toko-toko suvenir tutup, hotel kosong, dan wisatawan hampir tak terlihat, seiring krisis berkepanjangan akibat pendudukan Israel.
Keluarga Giacaman, pemilik Christmas House yang telah menjual kerajinan kayu zaitun religius selama beberapa generasi, terpaksa menutup tokonya selama dua tahun terakhir. Pembatasan ketat, tembok pemisah, pos pemeriksaan militer, serta penutupan akses keluar-masuk Bethlehem telah melumpuhkan perekonomian yang sepenuhnya bergantung pada pariwisata religius.
Situasi ini mempercepat eksodus warga Kristen Palestina. Jika pada 1948 umat Kristen mencakup 85 persen populasi Bethlehem, kini jumlahnya tinggal sekitar 10 persen. Dalam dua tahun terakhir saja, sekitar 4.000 warga—atau 10 persen populasi—telah meninggalkan kota tersebut karena kehilangan harapan hidup yang layak.
Tekanan semakin meningkat sejak awal 2023, ketika Israel mempercepat ekspansi permukiman ilegal di sekitar Bethlehem. Di Beit Sahour, desa Kristen bersejarah yang diyakini sebagai lokasi “Padang Gembala” dalam kisah Natal, lahan warga mulai disita dan diapit permukiman ilegal. Warga menghadapi intimidasi, perampasan tanah, dan ancaman pengusiran yang sistematis.
Ancaman terhadap umat Kristen juga terjadi di Yerusalem. Serangan oleh pemukim ekstrem terhadap gereja, simbol-simbol Kristen, serta komunitas Armenia meningkat tajam, sementara perlindungan dari otoritas Israel nyaris tidak ada. Para pemimpin gereja memperingatkan bahwa keberadaan Kristen di Tanah Suci berada di ambang kepunahan.
Meski Israel mengklaim diri sebagai “pelindung umat Kristen”, warga Kristen Palestina menegaskan bahwa justru pendudukan, pembatasan, dan kekerasan sistematislah yang memaksa mereka pergi. Tanpa perubahan mendasar, Bethlehem, terancam kehilangan identitas Kristen yang telah bertahan selama dua milenium.
Sumber: MEE








