Defense for Children International–Palestine (DCI-Palestine) menyatakan bahwa tahun 2025 menjadi salah satu periode paling menghancurkan bagi anak-anak Palestina, yang ditandai dengan genosida, kelaparan, penyiksaan, pengungsian massal, dan penghilangan paksa di tengah kekerasan berkelanjutan oleh pasukan dan pemukim Israel.
Dalam laporan terbarunya, DCI-Palestine menyebut perang di Gaza serta eskalasi represi di Tepi Barat secara sistematis telah merampas hak dasar anak, termasuk hak untuk hidup, rasa aman, kesehatan, dan masa kanak-kanak. Laporan itu menegaskan bahwa meski terdapat bukti kuat kejahatan kekejaman massal, komunitas internasional terus melindungi Israel dari pertanggungjawaban.
Sepanjang 2025, pasukan Israel dilaporkan membunuh, melukai, menyiksa, melaparkan, menculik, dan menggusur anak-anak Palestina setiap hari. Di Tepi Barat, sedikitnya 54 anak Palestina terbunuh akibat tindakan pasukan Israel dan pemukim ilegal.
Situasi di Gaza disebut mencapai tingkat katastrofik. Ribuan anak tidak diketahui keberadaannya; terkubur di bawah reruntuhan, terjebak di zona pengungsian, atau ditahan. Blokade total memutus akses terhadap pangan, air, obat-obatan, dan listrik, sementara penghancuran infrastruktur memperparah kelaparan, termasuk di kalangan bayi dan anak-anak.
Di penjara Israel, anak-anak Palestina menghadapi kelaparan dan penyiksaan. DCI-Palestine mencatat kematian Walid Khaled Abdullah Ahmed (17) di Penjara Megiddo, yang menunjukkan tanda-tanda kelaparan dan kekerasan berkepanjangan. Hingga 30 September 2025, sebanyak 350 anak Palestina masih ditahan.
Laporan tersebut juga menyoroti lonjakan tajam kasus penghilangan paksa terhadap anak-anak Palestina sepanjang 2025, yang disebut sebagai salah satu perkembangan paling mengkhawatirkan di tengah impunitas yang terus berlangsung.








