Seorang warga Palestina terbunuh dan sejumlah lainnya terluka pada Selasa (16/12) setelah sebuah bangunan permukiman runtuh sebagian akibat hujan deras di Kota Gaza. Pertahanan Sipil Gaza menyatakan bahwa tim penyelamat berhasil mengevakuasi jenazah korban dari reruntuhan rumah di Kamp Pengungsi Al-Shati, sementara beberapa korban luka berhasil diselamatkan.
Sejak Selasa pagi, hujan lebat disertai badai melanda Jalur Gaza akibat sistem tekanan rendah baru. Cuaca ekstrem ini memperparah kondisi kemanusiaan yang sudah sangat rapuh akibat kehancuran masif selama dua tahun agresi Israel.
Air hujan juga dilaporkan merembes ke sejumlah bagian Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza, khususnya area penerimaan pasien dan unit gawat darurat, sehingga mengganggu operasional layanan medis. Rumah sakit terbesar di Gaza tersebut telah mengalami kerusakan parah akibat serangan Israel berulang kali. Upaya rehabilitasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan Gaza pascagencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober terhambat karena Israel mencegah masuknya peralatan medis yang dibutuhkan.
Sementara itu, ratusan hingga ribuan tenda pengungsian dilaporkan terendam banjir atau tersapu angin kencang sejak Senin malam. Para pengungsi kehilangan tempat berlindung dan harta benda mereka. Seorang warga, Khaled Abdel Aziz, mengatakan bahwa tenda keluarganya tercabut oleh angin kencang hingga seluruh barang miliknya berhamburan. Ia terpaksa bertahan di tengah hujan bersama istri dan anak-anaknya tanpa tempat berlindung.
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Al-Mawasi, Khan Younis, di Gaza selatan. Seorang ibu bernama Maha Abu Jazar terlihat berlari bersama ketiga anaknya setelah tenda mereka sepenuhnya terendam air hujan. Di Kota Gaza, ratusan warga terpaksa berlindung di bawah reruntuhan bangunan yang sebelumnya dihancurkan oleh militer Israel.
Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memperingatkan bahwa ribuan rumah yang rusak sebagian akibat serangan Israel kini terancam runtuh sewaktu-waktu karena hujan dan angin kencang. Ia berulang kali memperingatkan dan menegaskan kepada komunitas internasional bahwa bangunan-bangunan tersebut menjadi ancaman serius bagi ratusan ribu warga Palestina yang tidak memiliki alternatif tempat tinggal.
Wali Kota Jabalia, Mazen Al-Najjar, menyatakan bahwa badai musim dingin datang saat para pengungsi sudah hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia menyebut lebih dari 90 persen bangunan dan jalan di Jabalia serta Gaza utara telah hancur total, memaksa warga tinggal di tenda-tenda yang sudah tidak layak. Infrastruktur di wilayah tersebut juga runtuh sepenuhnya, menyebabkan banjir dan meluapnya limbah hanya dalam beberapa jam setelah badai melanda.
Al-Najjar turut memperingatkan warga yang masih bertahan di bangunan-bangunan berisiko runtuh akibat serangan sebelumnya. Menurutnya, bangunan yang rusak berat telah menyebabkan puluhan korban terbunuh dan luka pada badai musim dingin sebelumnya. Ia menilai upaya pemerintah kota, tim pertahanan sipil, serta organisasi lokal dan internasional masih jauh dari mencukupi untuk menjawab kebutuhan yang terus meningkat. Ia mendesak komunitas internasional segera memasukkan rumah mobil, membangun kamp yang aman, serta merehabilitasi infrastruktur dan jaringan sanitasi secara mendesak.
Dalam kondisi keterbatasan tersebut, keluarga-keluarga pengungsi terlihat membongkar reruntuhan bangunan untuk mengambil besi bekas yang dapat digunakan kembali sebagai bahan membangun tempat berlindung darurat, karena Israel terus memblokir masuknya bahan bangunan ke Gaza.
Sumber: Qudsnen, MEMO







