Tim Pertahanan Sipil Gaza terus melanjutkan tahap awal evakuasi jenazah syuhada yang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan di Jalur Gaza. Diperkirakan sekitar 10.000 jenazah hingga kini belum berhasil dievakuasi akibat keterbatasan peralatan dan kehancuran infrastruktur yang masif.
Operasi evakuasi saat ini difokuskan di wilayah Al-Rimal, pusat Kota Gaza. Mayor Mahmoud Basal dari Pertahanan Sipil Gaza menjelaskan bahwa salah satu bangunan yang menjadi lokasi pencarian menjadi sasaran serangan pada akhir 2023. Sebanyak 96 jenazah diyakini masih berada di bawah reruntuhan bangunan tersebut.
“Selama dua tahun terakhir, keluarga para korban terus menunggu dan berharap dapat memakamkan orang-orang tercinta mereka secara layak dan bermartabat,” ujar Basal. Ia menambahkan bahwa tim evakuasi bekerja dengan sumber daya yang sangat terbatas, hanya menggunakan satu mesin pemecah beton dan sebuah buldoser untuk menembus beton bertulang.
Menurutnya, jika tersedia peralatan yang memadai, proses evakuasi bisa diselesaikan dalam hitungan jam. Namun, karena keterbatasan alat, tim membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk menyelesaikan satu bangunan. Kondisi ini berlaku di seluruh wilayah Gaza, sehingga proses evakuasi yang seharusnya dapat diselesaikan dalam beberapa bulan kini diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.
Basal juga menegaskan bahwa pihaknya telah berulang kali mengajukan permohonan kepada berbagai organisasi dan lembaga internasional agar peralatan berat diizinkan masuk ke Gaza. Namun, permintaan tersebut selalu terhambat oleh veto Israel yang menolak segala upaya untuk memperbaiki kondisi kehidupan di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Otoritas Pertahanan Sipil Gaza juga melaporkan penemuan jenazah dalam jumlah besar di kompleks Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza bagian barat. Sebanyak 15 jenazah tambahan berhasil dievakuasi dari halaman rumah sakit, sehingga total jenazah yang ditemukan sejak Senin meningkat menjadi 113 orang. Dari jumlah tersebut, beberapa di antaranya belum dapat diidentifikasi.
Pihak berwenang menyatakan bahwa proses pencarian masih berlangsung karena sejumlah jenazah lainnya diduga masih terkubur di area rumah sakit. Sebelumnya, tim evakuasi telah memindahkan 98 jenazah, termasuk 55 orang tanpa identitas, yang diketahui pernah dikuburkan di dalam kompleks medis tersebut.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut bahwa tim medis menemukan kuburan massal di dalam kompleks Al-Shifa pada Mei 2024. Dalam peristiwa tersebut, hampir 400 orang dilaporkan dieksekusi oleh militer Israel.
Sejak berlakunya kesepakatan gencatan senjata pada 10 Oktober, Israel dilaporkan telah membunuh 379 warga Palestina dan melukai 992 lainnya. Secara keseluruhan, jumlah korban terbunuh sejak agresi Israel dimulai lebih dari dua tahun lalu telah mencapai 70.369 orang, dengan 171.069 orang mengalami luka-luka.
Tahap pertama kesepakatan tersebut mencakup pembebasan sandera Israel dengan imbalan pembebasan tawanan Palestina, serta rencana rekonstruksi Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru di wilayah tersebut.
Sumber: MEMO








