Euro-Med Human Rights Monitor melaporkan pembunuhan brutal terhadap seorang anak Palestina, Zaher Nasser Shamiya (16), dari Kamp Jabalia, Gaza. Pada 10 Desember 2025, Shamiya ditembak—diduga oleh drone quadcopter—dan dibiarkan tergeletak tanpa pertolongan karena tembakan intens tentara Israel. Saat ia masih hidup dan bergerak, pasukan Israel melepaskan granat asap, mendekat, lalu sebuah bulldozer militer secara sengaja menggilas tubuhnya hingga terbelah dua saat membangun tanggul tanah. Jenazahnya kemudian dibawa ke RS Al-Shifa.
Euro-Med menegaskan bahwa tindakan ini bukan insiden tunggal, tetapi bagian dari pola sistematis, yaitu tentara dan kendaraan lapis baja Israel secara sengaja menggilas warga Palestina—baik yang terluka maupun hidup—sebagai bentuk dehumanisasi. Lembaga tersebut mencatat sejumlah kasus serupa sejak 2023: seorang pria berusia 62 tahun yang dilindas kendaraan lapis baja di Al-Zaytoun; seorang nenek 65 tahun yang digilas tank setelah keluarganya dijadikan tameng manusia; hingga tenda pengungsi dan tempat penampungan sementara yang dihancurkan bersama para penghuninya.
Meski gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025, serangan tetap berlanjut, membunuh 389 warga sipil dan melukai sekitar 1.000 lainnya. Euro-Med menyatakan bahwa praktik penggilasan warga, penolakan bantuan kemanusiaan, serta paparan terhadap cuaca ekstrem, kelaparan, penyakit, dan kehancuran total fasilitas kesehatan merupakan bagian dari kebijakan sistematis untuk memusnahkan penduduk Gaza.
Euro-Med menyerukan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk memprioritaskan penyelidikan atas pembunuhan massal, termasuk praktik penggilasan ini, serta mendorong negara-negara pihak Konvensi Genosida untuk menghentikan dukungan militer kepada Israel dan mengambil langkah konkret menghentikan genosida di Gaza.
Sumber: Palinfo







