Kepala Program Penanggulangan Ranjau PBB (UNMAS) untuk Wilayah Palestina, Julius van der Vaart, memperingatkan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling berisiko terkena bahaya sisa bahan peledak perang dan amunisi yang tidak meledak di Gaza. Ia menegaskan bahwa kontaminasi bahan peledak ini menjadi hambatan besar bagi upaya pemulihan dan kembalinya kehidupan normal di wilayah tersebut.
Dalam konferensi pers pada Rabu (12/12), Van der Vaart menyatakan bahwa amunisi yang tidak meledak menimbulkan ancaman serius bagi warga sipil, terutama ketika ratusan ribu orang kini bergerak setelah gencatan senjata diberlakukan. Lebih dari dua tahun serangan intensif Israel telah meninggalkan kontaminasi bahan peledak di berbagai area, menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan dan memperlambat proses pemulihan Gaza.
Ia mengungkapkan bahwa tim UNMAS yang bekerja di Gaza sejak Oktober 2023 telah mengidentifikasi lebih dari 650 benda berbahaya di area yang dapat mereka akses, sebagian besar berupa amunisi yang tidak meledak dan alat peledak rakitan (IED). Tim PBB menghadapi risiko setiap hari, sementara keluarga yang berpindah tempat di dalam Gaza tetap terpapar ancaman serupa.
Van der Vaart menekankan bahwa anak-anak adalah kelompok paling rentan, sebagaimana terjadi di zona perang lainnya, karena rasa ingin tahu dan kecenderungan mereka menyentuh benda-benda asing tanpa memahami risikonya.
Ia juga memperingatkan bahwa meskipun belum ada data pasti mengenai tingkat kontaminasi bahan peledak di Gaza, berbagai indikator menunjukkan penyebaran yang luas hampir di seluruh wilayah. Kondisi ini diperparah oleh ukuran wilayah Gaza yang kecil dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi, menjadikannya jauh lebih kompleks dibanding wilayah konflik seperti Suriah atau Lebanon.
Dalam kondisi seperti ini, hampir mustahil untuk menghindari sisa bahan peledak–bahkan serpihan kecil dapat menimbulkan dampak mematikan. Van der Vaart menyerukan agar warga berhati-hati saat kembali ke rumah yang rusak dan segera melaporkan setiap benda mencurigakan atau amunisi yang tidak meledak.
“Benda-benda ini sangat sensitif dan dapat meledak kapan saja,” ujarnya. “Ledakan dapat menyebabkan kematian, luka parah, atau bahkan melepaskan zat beracun.”
Sumber: Palinfo







![Masyarakat berduka atas meninggalnya bayi Rahaf Abu Jazar akibat cuaca dingin di Khan Yunis, Gaza, pada 11 Desember 2025. [Abed Rahim Khatib – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/12/AA-20251211-39953338-39953334-PALESTINIAN_BABY_DIES_OF_COLD_IN_GAZA-1-75x75.webp)
