Dua bulan setelah gencatan senjata, Gaza, tetap terjebak dalam lingkaran krisis tanpa solusi. Suara senjata memang mereda, namun kehidupan di sana masih menanggung beban luka yang belum pulih.
Meski dentuman bom tak lagi mendominasi hari-hari warga, kehancuran terus menghantui setiap sudut Jalur Gaza. Runtuhan bangunan, wajah-wajah yang diselimuti ketakutan, serta pelanggaran Israel yang berlangsung setiap hari menjadikan “keheningan” ini tak lebih dari jeda sementara yang penuh kecemasan. Luka genosida bukan hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga menghancurkan jiwa manusia.
Kondisi hidup pun masih sangat memprihatinkan. Jalan-jalan yang dulu ramai berubah menjadi ruang pucat dan sunyi. Kekurangan air dan listrik membayangi kehidupan sehari-hari. Anak-anak berjuang mendapatkan hak pendidikan di sekolah-sekolah darurat, sementara para dokter bekerja keras menyelamatkan nyawa dengan peralatan minim dan obat-obatan yang jauh dari standar.
Harapan yang sempat muncul setelah gencatan senjata seketika runtuh oleh kenyataan pahit di lapangan. Sebagaimana dilaporkan media Barat dan organisasi hak asasi manusia internasional, situasi Gaza nyaris tidak berubah.
Ilusi Berbahaya Bernama “Gencatan Senjata”
The Guardian menilai bahwa istilah “gencatan senjata” justru menciptakan ilusi berbahaya seolah kehidupan di Gaza mulai kembali normal, padahal 2,2 juta warga Palestina kini terjepit di hanya 42 persen wilayah mereka sendiri, dibatasi oleh “garis kuning” yang ditetapkan Israel.
Media tersebut menyoroti pelanggaran berkelanjutan Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang disponsori AS. Sejak 10 Oktober, lebih dari 360 warga Palestina telah terbunuh, dengan 70 di antaranya adalah anak-anak. Meskipun angka ini lebih rendah dibanding dua tahun masa agresi, angka rata-rata tujuh warga yang terbunuh setiap hari masih cukup untuk dikategorikan sebagai konflik aktif.
Amnesty International juga menegaskan bahwa Israel terus melakukan genosida di Gaza. Penggunaan istilah “gencatan senjata” justru berpotensi menyesatkan dunia dengan seolah-olah kondisi sudah membaik.
Tragedi semakin parah ketika hujan deras baru-baru ini menggenangi kamp-kamp pengungsian. Tenda-tenda rusak, air limbah meluap, dan risiko wabah penyakit meningkat tajam, menambah tumpukan penderitaan yang tampaknya belum berujung.
Dalam kondisi ini, “gencatan senjata” bukan berarti kedamaian. Bagi warga Gaza, ini hanyalah jeda yang penuh ilusi, sementara penderitaan terus berlangsung di balik reruntuhan.
Sumber: MEMO, Palinfo








