Situasi tawanan Palestina di penjara Israel terus memburuk dan menunjukkan pola “pembunuhan senyap” yang semakin sistematis. Mantan tawanan terlama di dunia, Nael Barghouti, yang mendekam lebih dari 44 tahun mengungkap adanya tiga pola utama penyiksaan yang meliputi, kekerasan fisik brutal, penghancuran mental melalui isolasi dan perlakuan keji, serta kelaparan yang disengaja hingga merusak tubuh tawanan secara permanen. Ia juga menyoroti kasus perempuan tawanan yang mengalami pelecehan, pemaksaan membuka hijab, bahkan kekerasan seksual.
Di tengah meningkatnya penangkapan sejak perang dimulai, data Israel yang diungkap Walla menunjukkan 110 tawanan Palestina meninggal sejak Itamar Ben-Gvir menjabat Menteri Keamanan Nasional, angka tertinggi dalam beberapa dekade. Banyak dari mereka yang meninggal setelah dipindahkan ke rumah sakit akibat penyiksaan. Ben-Gvir juga mendorong penerapan hukuman mati dan secara terbuka membanggakan berbagai upaya yang memperketat kondisi penjara.
Laporan terbaru juga mengungkap penurunan tajam kondisi kemanusiaan. Audit Kantor Jaksa Agung Israel menemukan banyak tawanan mengalami penurunan berat badan ekstrem, tanda-tanda malnutrisi, pemukulan berulang, serta kondisi sel yang penuh penyakit. Langkah-langkah pembatasan semakin diperketat, tawanan hanya mendapat satu jam udara segar per hari dan dilarang menerima barang pribadi apa pun.
Sejak Oktober 2023, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) tidak lagi diizinkan mengunjungi tawanan Palestina. Hal ini melanggar hukum internasional dan memperburuk kondisi para tawanan yang terisolasi dari dunia luar. Komisi Tawanan Palestina melaporkan banyak kasus kritis akibat kelalaian medis, seperti Faisal Sabaaneh yang mengalami serangan jantung tanpa perawatan, serta Ali Abu Atiya yang terluka tembak dan tidak mendapat penanganan layak.
Saat ini lebih dari 9.300 warga Palestina, termasuk perempuan, anak-anak, dan ribuan tahanan administratif, berada dalam kondisi yang digambarkan oleh Barghouti sebagai “pemusnahan penuh”. Ia menegaskan bahwa isu tawanan adalah persoalan kemanusiaan mendesak dan menyerukan tindakan internasional segera untuk menghentikan pelanggaran yang berlangsung di bawah perlindungan impunitas.
Sumber: Palinfo








