Pada Rabu (3/12) malam, Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menyerang kamp pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan. Serangan itu membunuh seorang ayah, Fathi Abu Hassanin, serta dua putranya, Bilal (8) dan Mohamed (10), bersama dua warga lainnya. Serangan rudal tersebut memicu kebakaran besar yang melahap sejumlah tenda pengungsi.
Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, menegaskan bahwa para korban bukan berada di zona pertempuran, melainkan di kamp pengungsian Al-Mawasi, area yang justru ditetapkan Israel sebagai “zona aman”. Ia menekankan bahwa serangan ini adalah bagian dari pola sistematis penargetan warga sipil, bukan insiden terisolasi.
Keluarga korban menggambarkan kejadian tersebut sebagai tragedi yang menghancurkan. “Bilal Fathi Abu Hussein, dia hanya seorang anak yang masih sekolah. Anak-anak ini bukan target,” kata seorang kerabat, sambil menyatakan pesannya kepada Netanyahu, “Sasaranmu salah; kalian membunuh anak-anak.” Ia menambahkan bahwa serangan itu juga melukai 32 anak lainnya.
Saksi lain, Jihad Samir al-Arja, menceritakan kepada Reuters bagaimana api tiba-tiba menyelimuti kamp, “Tubuh anak-anak dan perempuan tercerai berai. Kami semua berusaha memadamkan api.” Ia mengecam gencatan senjata yang sekadar basa-basi. “Setiap pekan ada serangan, pembunuhan, dan pengeboman. Tidak ada yang namanya gencatan senjata.”
Menurut otoritas Gaza, Israel telah melanggar gencatan senjata sedikitnya 591 kali sejak 10 Oktober, membunuh 360 warga dan melukai 922 lainnya. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 70.100 warga Palestina telah terbunuh, termasuk lebih dari 10.000 perempuan dan 20.000 anak.
Dalam insiden lain pekan ini, dua bersaudara di Khan Younis, Fadi (8) dan Jumaa (10), juga dibunuh drone Israel saat mencari kayu bakar untuk ayah mereka yang lumpuh. Militer Israel mengklaim mereka “mengancam”, sehingga mereka “dieliminasi”.
Sumber: Qudsnen








