Dua peringatan besar kemanusiaan yang dikeluarkan pada Selasa dan Rabu menegaskan semakin runtuhnya kondisi hidup di Jalur Gaza. Puluhan ribu warga Palestina yang terlantar harus menghadapi suhu beku, banjir, dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk.
UNRWA memperingatkan bahwa keluarga yang dipindahkan secara paksa (diusir) kini kesulitan menemukan tempat berlindung yang aman ketika gelombang baru udara dingin kian mendekat. Dalam unggahannya di X (Twitter), UNRWA menyebut puluhan ribu orang hanya memiliki tenda darurat seadanya untuk bertahan dari cuaca ekstrem. Pihaknya mendesak pasokan tambahan berupa tenda perlindungan serta bantuan dasar.
Lebih dari 79.000 pengungsi kini menumpuk di 85 tempat penampungan, sementara kondisi kemanusiaan semakin merosot seiring memburuknya cuaca musim dingin yang mengancam anak-anak, perempuan, dan lansia.
Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, memperingatkan bahwa ribuan keluarga berisiko terkena banjir di dalam tempat penampungan yang rapuh. Ia menegaskan bahwa keluarga di Gaza berada dalam “bahaya besar”, sementara pembatasan Israel terus menghalangi operasi bantuan dan menghambat masuknya bantuan penting.
Pada Selasa, hujan deras menyebabkan banjir luas di Gaza selatan, menenggelamkan puluhan tenda di daerah Al-Mawasi, Khan Yunis menambah kekhawatiran tentang potensi bencana kemanusiaan besar.
Badan-badan PBB memperkirakan Gaza menghadapi kekurangan tempat tinggal yang sangat besar. Hampir 300.000 tenda dan unit prefabrikasi dibutuhkan segera akibat dua tahun penghancuran masif terhadap rumah, fasilitas publik, dan infrastruktur sipil.
Dalam seruan terpisah, Jaringan LSM Palestina meminta masyarakat internasional menetapkan Gaza sebagai “zona bencana kemanusiaan” dan mengambil tindakan segera untuk melindungi warga sipil serta mengakhiri blokade.
Mereka menyerukan pengiriman segera bantuan kemanusiaan seperti tenda, bahan shelter, makanan, dan bantuan darurat lainnya, serta mendesak diakhirinya pembatasan Israel terhadap masuknya barang-barang esensial. Jaringan ini mengutip laporan internasional yang menunjukkan lebih dari 90% penduduk Gaza mengalami malnutrisi akibat kekurangan pangan, air tidak layak konsumsi, dan runtuhnya layanan dasar di tengah serangan genosida yang terus berlanjut.
Kelompok “Jewish Voice” melaporkan Israel telah melanggar gencatan senjata sebanyak 500 kali dalam 44 hari, sekaligus menegaskan bahwa “genosida tidak berhenti” meski ada deklarasi gencatan senjata pada 9 Oktober. Sejak dimulainya gencatan senjata sampai dengan Sabtu lalu, Kantor Media Pemerintah di Gaza mendokumentasikan 497 pelanggaran oleh Israel.
Sejak 7 Oktober 2023, Gaza menghadapi kampanye yang digambarkan sebagai genosida Israel, meliputi pembunuhan massal, kelaparan, penghancuran, pengusiran, serta penangkapan, meski ada seruan global dan perintah Mahkamah Internasional untuk menghentikan agresi.
Data lokal menunjukkan agresi genosida telah menyebabkan lebih dari 239.000 orang terbunuh atau terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta lebih dari 11.000 orang hilang. Ratusan ribu lainnya mengungsi dan menghadapi kondisi menyerupai kelaparan, sementara sebagian besar kota dan infrastruktur Gaza hancur total.
Sumber:








