Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir Al-Bursh, mengatakan pada Rabu bahwa otoritas pendudukan Israel mengizinkan masuknya barang-barang hiburan dan mewah ke Jalur Gaza, namun terus menutup akses terhadap obat-obatan penting serta perlengkapan medis yang sangat dibutuhkan rumah sakit yang masih lumpuh akibat perang genosida.
Pernyataan ini muncul setelah sebuah video yang beredar luas memperlihatkan seorang pria di Gaza memamerkan iPhone 17 berlapis emas, memicu kontroversi besar. Tak lama kemudian, publik juga melihat foto-foto tenda pengungsi yang terendam banjir akibat badai musim dingin, kontras mencolok yang menggambarkan kondisi kemanusiaan yang sebenarnya.
Menurut komentar yang beredar, video tersebut memang diambil di Gaza dan menunjukkan seorang pedagang yang berhasil memasukkan perangkat mewah itu ke wilayah yang masih diblokade ketat, meskipun ketersediaannya di pasar global pun sangat terbatas.
Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, Al-Bursh menegaskan bahwa Israel “membanjiri Gaza dengan barang-barang sekunder dan hiburan,” namun di saat yang sama “menutup semua pintu bagi obat-obatan, cairan infus, antibiotik, peralatan dialisis, dan kebutuhan bedah.”
Ia menyebut kondisi ini sebagai “ilusi dagang yang menutupi realitas pengepungan,” sementara rumah sakit beroperasi dengan kemampuan yang nyaris tidak ada. Ruang bedah kekurangan peralatan, obat-obatan dijatah dalam jumlah yang sangat minim, sementara krisis bahan bakar serta putusnya komunikasi memperburuk situasi.
Menurutnya, sistem kesehatan Gaza kini beroperasi “dalam kondisi yang tidak dialami sistem kesehatan mana pun di dunia—lebih mirip zona bertahan hidup harian.”
Data Kementerian Kesehatan setelah gencatan senjata menunjukkan:
- 54% obat-obatan esensial habis
- 40% obat gawat darurat berada di tingkat persediaan nol
- 71% peralatan medis kritis kehabisan stok, yang merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah sistem kesehatan Gaza
- 82% anak di bawah satu tahun mengalami anemia
- 18.100 pasien butuh dirujuk keluar Gaza
- 1.000 pasien meninggal karena dicegah mendapat perawatan di luar Gaza meski memiliki izin keluar
- Sekitar 6.000 orang telah diamputasi tanpa adanya program rehabilitasi
Kondisi ini terjadi setelah Israel menyerang rumah sakit serta infrastruktur kesehatan, membuat sebagian besar fasilitas medis tidak lagi berfungsi, menurut sumber Palestina dan PBB.
PBB memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza mencapai USD 70 miliar, setelah dua tahun agresi genosida yang membunuh lebih dari 69.000 warga Palestina dan melukai sekitar 171.000 orang.
Para blogger dan aktivis mencatat bahwa masuknya ponsel mewah seperti iPhone berlapis emas adalah upaya untuk membangun citra palsu tentang Gaza yang seolah-olah makmur. Padahal, warga hidup di kamp-kamp becek dan tidak bisa mendapatkan susu, telur, daging, bahkan obat dasar sekalipun karena diblokir oleh Israel.
Aktivis menilai hal ini sebagai bagian dari “rekayasa ekonomi dan sosial” yang melibatkan para spekulan perang, padahal ribuan pasien tidak mendapatkan perawatan dan banyak keluarga bahkan tidak memiliki tenda untuk berteduh dari cuaca dingin.
Beberapa komentator menegaskan bahwa video semacam ini diproduksi untuk tujuan tertentu, karena setiap citra yang keluar dari Gaza selalu dipelintir di luar konteks aslinya. Mereka lantas menekankan bahwa perang belum berakhir, dan apa yang terjadi saat ini merupakan bagian dari “perang gagasan.”
Sumber: The New Arab








