Dalam sejarah panjang penjajahan atas Palestina, mulai dari periode mandat kolonial Inggris, Nakba 1948, hingga rangkaian Intifada, perlawanan Palestina tidak hanya lahir dari terowongan, demonstrasi, meja diplomasi, dan perlawanan bersenjata. Ada ruang lain yang tidak kalah strategis, yaitu sastra, sebuah medium resistensi kultural yang melawan melalui bahasa ketika ruang fisik dirampas.
Di tengah invasi, penjara, dan pengasingan, para penyair dan penulis menjadi penjaga makna. Mereka mengabadikan sejarah, merekam luka, dan mempertahankan identitas dari upaya penghapusan agar apa yang dihilangkan tidak hanya diingat dalam bentuk angka atau statistik belaka. Kata-kata yang direnda dalam puisi, cerpen, dan novel menjadi alat bertahan dari penghapusan sejarah dan untuk menjaga ingatan agar tetap hidup dalam memori kolektif.
Apa yang terjadi pada saat ini di Palestina merupakan bentuk kolonialisme modern. Artinya, penindasan tidak hanya terjadi di medan tempur, melainkan juga dalam wacana dunia. Palestina mengalami penghapusan sejarah, kontrol atas narasi di media internasional, kriminalisasi identitas nasional, serta pembatasan bahasa dan ruang budaya. Perlawanan fisik saja tidak cukup untuk menjawab upaya sistematis yang menargetkan keberadaan suatu bangsa hingga ke akar maknanya.
Di sinilah sastra mengambil peran strategis. Puisi, novel, dan esai berfungsi sebagai arsip ingatan kolektif; merekam lingkungan dan rumah-rumah yang hilang, nama yang diubah, pohon-pohon yang dicabut dan saluran irigasi yang dihancurkan, lembaga keagamaan dan pendidikan bersejarah yang diratakan atau dirampas, serta kehidupan yang berubah menjadi angka-angka dalam laporan perang. Kata-kata menjadi ruang yang tidak bisa dibungkam untuk mempertahankan memori, martabat, dan definisi diri ketika segalanya dicoba untuk dihapuskan.
Lebih jauh, sastra membuka jalur diplomasi budaya dan pendidikan lintas generasi, terutama bagi diaspora, mengingat dalam Nakba 1948 saja paling tidak ada 750.000 penduduk Palestina yang terusir dari negaranya. Jumlah itu terus bertambah seiring waktu dengan kelahiran generasi kedua dan ketiga para penyintas Nakba. Dengan kata lain, meskipun Palestina masih dijajah, para pengungsi masih kehilangan hak untuk kembali, dan pohon-pohon zaitun terus dicabut, sastra memastikan Palestina tetap hadir dalam kesadaran dunia sebagai bangsa yang hidup, bukan sekadar catatan sejarah.
Para sastrawan seperti Mahmoud Darwish, Ghassan Kanafani, Fadwa Tuqan, Tawfiq Zayyad, dan lainnya menciptakan karya sastra bukan hanya sebagai ekspresi estetis, melainkan juga sebagai tuntutan hak atas tanah, sejarah, martabat, serta menjadi bagian integral dari perjuangan menuju kemerdekaan. Kata-kata mereka lantang, memenuhi relung kesadaran bahwa apa yang dirampas harus diperjuangkan dan apa yang tersisa harus dipertahankan.
Fadwa Tuqan: perempuan penyair dari Nablus dan suara dari kesunyian

menjadi tanah, rumput, dan bunga.” (sumber: Psicoradio)
Fadwa Tuqan (1917–2003) merupakan salah satu suara paling penting dalam sastra perlawanan Palestina, terutama karena ia membawa perspektif perempuan ke dalam narasi yang selama ini didominasi laki-laki. Ia lahir di Nablus dari keluarga Tuqan yang berpengaruh. Fadwa mempelajari sastra dan keterampilan menulis melalui bimbingan kakaknya, Ibrahim Tuqan, seorang penyair Palestina yang dikenal dengan syair-syairnya yang mengangkat pembelaan terhadap tanah air dan bernada keras terhadap pendudukan Inggris.
Awalnya, puisi Fadwa bersifat personal dan mengangkat tema tentang keterasingan, ruang domestik, dan kesunyian perempuan. Namun setelah Nakba 1948 dan kemudian Naksa 1967, tema puisinya bergeser dan menjadi suara perubahan. Ia menulis tentang kehilangan tanah, identitas nasional, syuhada, kamp pengungsi, dan trauma kolonial. Fadwa seolah menjembatani dua ruang: yang personal dan yang nasional, menunjukkan bahwa pengalaman perempuan juga merupakan bagian dari ruang yang terjajah.
Puisi perlawanannya begitu berdampak sehingga Moshe Dayan, komandan front Yerusalem dalam perang Arab-Israel 1948, mengatakan bahwa “menghadapi puisi Fadwa setara dengan menghadapi dua puluh pejuang musuh”. Anggapan ini muncul karena pilihan diksi Fadwa dalam puisinya terasa begitu berani. Ia mengangkat konfrontasi tanpa rasa takut melawan para penindas serta mengobarkan semangat perlawanan, seperti yang terlihat dalam puisi berjudul “Kotaku yang Menyedihkan”.
Hari pendudukan Zionis
(adalah) hari ketika kami menyaksikan kematian dan tipu daya,
pasang surut,
jendela-jendela surga tertutup,
dan kota itu menahan napas.
Hari ketika ombak surut,
hari ketika kebengisan jurang
menampakkan wajahnya pada cahaya.
Namun, harapan tetap membara
saat derita kemalangan mencekik
Kotaku yang menyedihkan.
Hilang sudah suara anak-anak dan lagu-lagu;
tak berjejak sedikit pun, tak ada gema.
[…]
Dalam puisi-puisinya, Fadwa menggunakan simbolisme alam seperti tanah, bunga, gunung, dan ibu—untuk melukiskan perlawanan yang sunyi namun mengakar. Ia juga menggambarkan kerinduan untuk kembali, kesedihan atas tanah yang hilang, sekaligus menyalakan harapan dan keteguhan. Misalnya, dalam puisi berjudul “Sakitnya Persalinan”, ia menuliskan:
[…]
Wahai Aurora Arab!
Katakan kepada perampas tanah kami
bahwa melahirkan adalah kekuatan yang tak dikenalnya:
rasa sakit dari tubuh seorang ibu
bahwa tanah yang terluka
(akan) memulai kehidupan
di kala fajar,
ketika mawar merah
merekahkan luka-darah.
Fadwa Tuqan belajar sastra Inggris di Universitas Oxford dan memenangkan beberapa penghargaan sastra internasional. Ia menerbitkan belasan kumpulan puisi, serta sebuah otobiografi dua bagian. Bagian pertamanya diterjemahkan menjadi A Mountainous Journey: A Poet’s Autobiography. Menjelang wafatnya, ia menulis sebuah puisi berjudul “Kerinduan yang Terinspirasi oleh Hukum Gravitasi” seolah menggambarkan kesendirian dan kesunyiannya sebagai perempuan di tanah yang terjajah.
[…]
Barang-barangku telah hilang, semuanya dirampas orang;
kursiku, lemariku, bangku putarku
Aku kini sendirian hanya berteman bayangan.
Tak ada ayah, tak ada ibu
tak ada saudara laki-laki, tak ada saudara perempuan
yang tumbuh bersama di rumah penuh tawa;
tak ada apa pun selain kesepian dan duka.
Sementara puing-puing bulan dan tahun
telah membungkukkan punggungku,
memperlambat langkahku,
membutakanku dari cakrawala.
Aku merindukan aroma kopi–yang menguar di udara
ketiadaannya adalah candu yang menenggelamkanku pagi dan malam
[…]
Aku menunggu untuk tiba di tanah yang sunyi, aku menunggu kematian.
Panjang perjalananku, ya Tuhan,
buatlah jalannya pendek agar segera berakhir.
Fadwa Tuqan meninggal pada Desember 2003 di puncak Intifada kedua ketika kampung halaman leluhurnya, Nablus, dikepung tentara pendudukan Israel. Namun, karyanya senantiasa menghidupkan sosoknya sebagai perempuan yang melawan penjajahan melalui kata-kata. Ia membuka jalan bagi perempuan penyair Palestina generasi berikutnya sehingga dijuluki “ibu puisi Palestina” oleh penyair nasional Palestina, Mahmoud Darwish.
Tawfiq Zayyad: penyair dari Nazareth dan suara perlawanan

Tawfiq Zayyad (1929–1994) adalah salah satu figur sentral sastra perlawanan Palestina, terutama sebagai penyair yang hidup dan berkarya di wilayah Palestina yang berada di bawah kekuasaan Israel setelah 1948. Berbeda dengan banyak penyair Palestina yang hidup dalam pengasingan, Zayyad memilih tetap tinggal di Nazareth.
Nazareth adalah sebuah kota di Al-Jalil (Galilea) utara yang sekarang diakui sebagai bagian dari Israel. Pada Nakba 1948, sebagian besar penduduk Palestina diusir, tetapi banyak keluarga Palestina yang bertahan di Nazareth. Warga Arab yang tetap berada di kota ini kemudian dikenal sebagai warga Arab-Israel. Mereka mempertahankan identitas Palestina, termasuk bahasa dan budaya, namun harus hidup di bawah sistem hukum dan politik apartheid yang menguntungkan Israel.
Sebagai penyair, Zayyad dikenal karena gaya bahasa yang lugas, lantang, dan mudah dipahami rakyat. Puisinya lahir dari pengalaman sehari-hari sebagai warga Palestina yang menyaksikan pengusiran dan hidup dalam sistem apartheid yang membatasi gerak, mengedepankan diskriminasi, dan berupaya menghapus identitas Arab-Palestina. Salah satu puisinya yang terkenal adalah “Unadikum (Aku Memanggil Kalian)”, yang menjadi anthem perlawanan kolektif dan dinyanyikan dalam demonstrasi hingga hari ini.
Aku memanggil kalian semua:
kugenggam tangan kalian erat-erat
kucium tanah tempat kalian berpijak.
[…]
Aku tak pernah menjual negeriku
dan aku rela mengabdi,
untuk menghadapi penjajah dengan keteguhan dan keberanian,
akulah yatim piatu yang rela mati.
Kupikul rakyatku di pundakku,
kalian akan melihat bendera berkibar tinggi,
juga sebuah gunung yang dibalut hijaunya ranting zaitun
untuk generasi yang akan datang setelah kita.
Tawfiq Zayyad menempuh jalan sebagai penyair dan politisi. Ia menulis tentang kehidupan warga Arab di Israel, diskriminasi, pengambilalihan tanah, dan tekanan sistemik, sambil tetap bekerja dalam sistem politik Israel sebagai Wali Kota Nazareth dan anggota Knesset. Ia tidak menjual identitas Arab-Palestinanya sekalipun berkali-kali keluar masuk penjara dan menerima ancaman pembunuhan. Perjuangannya menunjukkan bahwa perlawanan Palestina tidak selalu berada di pengasingan atau medan perang; ada juga yang hadir di kota yang secara resmi berada di wilayah Israel (Palestina 1948), namun tetap menjadi bagian dari narasi nasional Palestina. Dalam konteks ini, perlawanan Zayyad hadir dalam dua bentuk, yaitu kata dan kebijakan.
Nama Zayyad seringkali dikaitkan dengan Hari Tanah, sebuah peristiwa penting yang melambangkan perjuangan berkelanjutan untuk melindungi tanah Palestina pada 30 Maret 1976. Ketika itu, enam warga Palestina dibunuh oleh pasukan Israel, lebih dari 100 orang terluka, dan lebih dari 300 orang diculik selama protes menentang aneksasi tanah ilegal. Israel memerintahkan penyitaan 2.000 hektar tanah milik warga Palestina di Al-Jalil (Galilea) yang merupakan bagian dari strategi yahudisasi wilayah tersebut.
Sebagai Wali Kota Nazareth ketika itu, Zayyad mendorong pemogokan umum dan protes luas. Namanya semakin dikenal dan mengintensifkan kecenderungan media Israel untuk menjelek-jelekkannya. Suara Zayyad dalam mempertahankan tanah Palestina terlihat dalam puisinya yang berjudul “Huna Baqun (Di Sini Kami Akan Tetap Berdiri).”
[…]
Di Lydda, Ramla, dan Galilea,
kita di sini untuk menetap.
Maka minumlah laut,
kita jaga naungan pohon tin dan zaitun,
dan tanamlah gagasan, bagai ragi dalam adonan.
Dinginnya es mencekam saraf kita,
tetapi hati kita adalah api yang berkobar.
Jika haus, kita remas batu,
jika lapar, kita makan tanah…namun kita takkan pergi.
Darah murni kita korbankan, seluruhnya.
Sebab di sini, kita punya masa lalu… masa kini… dan masa depan.
[…]
Kata-kata Zayyad adalah bukti bahwa sastra juga hidup di lapangan, bukan hanya di halaman. Di tangan penyair yang merindukan kemerdekaan, puisi menjadi api semangat yang membangkitkan gerakan, bukan sekadar menjadi refleksi kegalauan.
Dari Kata ke Realita

(sumber: Latamarte)
Melalui kata, para penulis seperti Fadwa Tuqan dan Tawfiq Zayyad berupaya untuk meneguhkan identitas kolektif yang terus digugat oleh kolonialisme modern. Sastra menempatkan Palestina bukan sebagai isu geopolitik semata, melainkan menghadirkannya secara utuh sebagai bangsa dan negara yang hidup dalam bahasa, ingatan, budaya, dan segala citra yang melekat; “mengarsipkan” hal-hal yang hilang, berdiri sebagai kesaksian, dan menjadi deklarasi keberadaan.
Sastra yang lahir dari realita, tidak bergerak dalam ruang hampa sehingga keberadaannya seringkali dianggap sebagai ancaman; buku disita, penerbitan dibatasi, penulis diasingkan atau dipenjara, bahkan dibunuh. Zayyad memimpin demonstrasi dan parlemen dengan puisi sebagai seruan massa dan Tuqan menjadi suara perempuan yang hidup di bawah pendudukan. Dalam konteks ini, menulis bukan aktivitas pasif, melainkan bagian dari infrastruktur perlawanan.
Meski demikian, sastra bukanlah ujung dari perjuangan. Kata-kata membangun kesadaran yang melandasi aksi—dari diplomasi budaya, gerakan massa, hingga perlawanan politik—dan memastikan bahwa perjuangan berakar pada narasi yang benar. Jika peluru dan perjanjian mengubah kondisi di lapangan, maka sastra mengubah cara dunia memaknai Palestina. Dari kata lahirlah ingatan, dari ingatan lahir keberanian, dan dari keberanian lahir realita yang diperjuangkan. (LMS)
Referensi
Al Mutawakel Taha (2017, August). Fadwa and Ibrahim. Diakses dari https://www.comunicazionearezzo.com/wp-content/uploads/2017/08/Fadwa-and-Ibrahim.pdf
Hassan Rahmeh (2023, August 14). Fadwa Tuqan was The Fearless Voice of Palestine in Times of Strife. Diakses dari https://www.middleeastmonitor.com/20230814-fadwa-tuqan-was-the-fearless-voice-of-palestine-in-times-of-strife/
- Salem Al Hassani & Gaith Saleh Mahdi (2022). The Effect of The Postcolonial on Palestine Literature. European Scholar Journal, Vol. 3 (1), 1–5.
Sorek, Tamer. The Optimist: A Social Biography of Tawfiq Zayyad. Stanford University Press. Diakses dari https://www.sup.org/books/middle-east-studies/optimist/excerpt/table-contents
https://www.jerusalemstory.com/en/bio/ibrahim-tuqan
https://thejerusalemfund.org/2016/03/palestine-profiles-poet-fadwa-tuqan
https://www.literaryladiesguide.com/author-biography/fadwa-tuqan/
https://www.aljazeera.com/news/2024/3/30/land-day-what-happened-in-palestine-in-1976
https://scatteredscholar.substack.com/p/poem-25-here-we-will-stay
https://www.palestine-studies.org/en/node/1650300
http://www.salem-news.com/articles/may152011/unidakum-tk.php
https://www.peoplesworld.org/article/the-optimist-a-social-biography-of-palestinian-communist-tawfiq-zayyad-book-review/
https://www.facesofpalestine.org/profiles/tawfiq-zayyad https://www.tawfiqzayyad.org/copy-of-biography







![Tim pertahanan sipil melanjutkan upaya pencarian dan penyelamatan dengan sumber daya terbatas, berusaha menjangkau orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan setelah serangan Israel yang melanggar gencatan senjata, yang menewaskan lebih dari sepuluh orang di Kota Gaza, Gaza pada 20 November 2025. [Hamza ZH Qraiqea – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/AA-20251120-39755127-39755113-ISRAELI_ATTACKS_ON_GAZA_CONTINUE_DESPITE_CEASEFIRE_AGREEMENT-75x75.webp)
