Pasukan Israel kembali melakukan penghancuran di Rafah pada Sabtu (15/11), meratakan sejumlah bangunan tempat tinggal di dalam zona ilegal “garis kuning” di Gaza selatan. Saksi mata melaporkan ledakan kuat ketika beberapa rumah diratakan di area yang hingga kini tetap ditutup bagi warga untuk kembali.
Bersamaan dengan itu, Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa 15 jenazah warga Palestina telah dikembalikan. Israel menyerahkan jenazah tersebut pada Jumat melalui Komite Internasional Palang Merah. Dengan tambahan ini, total jenazah yang diterima sejak 14 Oktober mencapai 330.
Pemulangan jenazah ini merupakan bagian dari tahap pertama kesepakatan pertukaran tawanan yang menyertai gencatan senjata saat ini. Pada tahap ini, faksi-faksi Palestina membebaskan 20 tentara Israel yang ditawan dalam kondisi hidup, serta menyerahkan jenazah 27 lainnya.
Namun, tim medis di Gaza menyebutkan bahwa sebagian besar jenazah yang diterima dari tahanan Israel masih belum teridentifikasi. Hingga kini baru 97 yang berhasil dikenali. Banyak jenazah yang dikembalikan tanpa nama, serta dalam kondisi rusak berat sehingga sulit dikenali.
Dengan fasilitas forensik yang hancur dan tidak adanya peralatan medis canggih, proses identifikasi sepenuhnya bergantung pada keluarga. Orang tua dan saudara-saudara mencari petunjuk dari sisa pakaian, bekas luka, atau tanda-tanda lain yang masih tersisa. Banyak keluarga telah mencari anggota keluarga yang hilang sejak awal perang.
Kementerian menegaskan bahwa stafnya tetap berusaha menjalankan prosedur medis dan dokumentasi yang berlaku, meski sistem kesehatan Gaza hampir runtuh.
Sebelum gencatan senjata dimulai, Israel menahan 735 jenazah warga Palestina menurut Kampanye Nasional untuk Mengembalikan Jenazah Para Syuhada. Sebagian besar di antaranya masih hilang dan disimpan Israel di “pemakaman bernomor” sebagai alat tawar-menawar.
Sementara itu, dampak agresi terus meningkat. Pemerintah Gaza melaporkan bahwa genosida yang didukung AS telah membunuh lebih dari 69.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.000 lainnya. Sekitar 9.500 orang masih hilang—sebagian diyakini tertimbun di bawah reruntuhan rumah yang hancur, sementara yang lain menghilang tanpa jejak.
Sumber: Qudsnen








