Warga Palestina di Jalur Gaza merayakan pengumuman hasil ujian sertifikat pendidikan menengah, Tawjihi, yang untuk kedua kalinya diumumkan sejak genosida Israel dimulai pada 7 Oktober 2023. Pada Kamis, Kementerian Pendidikan Palestina mengumumkan hasil ujian bagi sekitar 30.000 peserta ujian kelahiran tahun 2007.
Meski menghadapi dua tahun penuh tekanan, malam tanpa tidur, gempuran bom tanpa henti, serta blokade bantuan yang mencekik, para siswa Gaza berhasil meraih hasil akademik yang luar biasa. Ujian diselenggarakan sepenuhnya secara daring untuk mengatasi kehancuran infrastruktur pendidikan termasuk hancurnya 27 sekolah serta gugurnya lebih dari 16.000 siswa dan 750 guru akibat agresi Israel.
Dalam suasana gencatan senjata yang rapuh, keluarga-keluarga Palestina berkumpul di tenda dan rumah yang porak-poranda, menatap layar ponsel dengan hati berdebar, berharap menjadi yang pertama melihat pengumuman resmi dan meneriakkan kabar bahagia. Setelah dua tahun kehancuran dan duka, air mata kebahagiaan akhirnya kembali tumpah.
“Alhamdulillah, setelah dua tahun kesedihan dan kehilangan, Omar mengembalikan kebahagiaan ke hati kami,” tulis jurnalis Mahmoud El-Masri saat merayakan kelulusan adiknya.
Keberhasilan para siswa ini dipandang sebagai simbol ketahanan luar biasa rakyat Palestina yang terus menjaga komitmen terhadap pendidikan meski hidup dalam kondisi perang, kehancuran, dan pengepungan. Banyak pihak melihat pencapaian ini sebagai bukti kuat bahwa semangat belajar dan kecintaan terhadap ilmu tidak dapat dipatahkan oleh penargetan sistematis terhadap sekolah, universitas, siswa, dan para pendidik.
Dunia internasional pun didorong untuk memberikan dukungan berkelanjutan bagi siswa, sekolah, dan universitas di Gaza, mengingat pendidikan merupakan bagian penting dari perjuangan rakyat Palestina untuk mempertahankan martabat, membangun masa depan, dan menjaga identitas bangsa di tengah situasi yang semakin sulit.
Sumber: Qudsnen








