Ratusan jenazah warga Palestina telah dikembalikan oleh Israel dalam beberapa pekan terakhir– tanpa nama, dibungkus plastik, dan hanya diberi nomor. Di rumah sakit Gaza, para dokter dan keluarga berjuang dalam perang yang sunyi: mencari identitas jenazah yang dipulangkan tanpa nama.
Tanpa kamar mayat, tanpa listrik, tubuh-tubuh disimpan di dalam lemari es untuk es krim — satu-satunya cara agar tak segera hancur. “Kami hanya punya tangan dan keyakinan,” kata Dr. Ahmad Duhahir, kepala Komite Forensik Gaza. Bau kematian bercampur dengan disinfektan, sementara keluarga menatap layar penuh foto-foto jenazah, mencari wajah yang mereka kenali.
Menurut Kementerian Kesehatan, Gaza telah menerima 270 jenazah dari Israel, namun hanya 76 yang berhasil diidentifikasi. Sisanya terpaksa dikuburkan tanpa nama, dengan ditandai angka dan koordinat di secarik kertas. Beberapa tubuh menunjukkan tanda penyiksaan, tulang patah, luka tembak jarak dekat. Hal ini membuktikan bahwa sebagian dari jenazah tersebut dieksekusi setelah ditangkap hidup-hidup.
Tes DNA yang bisa mengungkap identitas mereka dicegah oleh Israel. “Bahkan setelah gugur, rakyat Palestina masih dihinakan,” kata juru bicara pemerintah Gaza, Dr. Ismail al-Thawabta.
Di antara mereka yang menunggu kepastian adalah Khitam Abu Gharqoud, yang mengenali saudaranya bukan lewat wajah, tapi lewat apa yang hilang, yaitu satu jari yang pernah terpotong lama sebelum perang. “Kami tak bisa menyentuhnya,” ujarnya lirih. “Kami hanya melihatnya menghilang lagi, kali ini ke dalam tanah.”
Bagi para dokter di Gaza, perjuangan ini bukan sekadar tugas medis, melainkan bentuk perlawanan terakhir terhadap upaya penghapusan identitas. “Kami tak akan membiarkan mereka menghapus kami,” kata Dr. Duhahir. “Tidak yang hidup, tidak yang mati.”
Di Gaza, angka telah menggantikan nama, lemari pendingin menggantikan makam, dan keheningan dunia menggantikan keadilan. Namun, selama masih ada yang mengingat, mereka tidak akan pernah benar-benar hilang.
Sumber: Qudsnen








