Rekaman video yang dirilis Haaretz pada Minggu menunjukkan truk-truk Israel mengangkut limbah dan puing-puing konstruksi dari permukiman di sekitar Jalur Gaza ke dalam wilayah Gaza melalui penyeberangan Kissufim. Truk-truk itu masuk sekitar 200 hingga 300 meter ke wilayah Gaza dan membuang muatannya di pinggir jalan di area yang telah hancur akibat agresi genosida.
Menurut laporan tersebut, truk-truk itu dimiliki oleh perusahaan swasta dan diizinkan masuk ke Gaza atas perintah komandan lapangan tentara Israel. Mereka diperintahkan untuk membuang limbah “di mana pun mereka mau,” tanpa lokasi pembuangan yang ditentukan. Sejumlah buldoser di sisi Israel terus memuat ulang truk-truk itu dengan limbah baru untuk dibuang ke Gaza.
Salah satu tentara Israel yang bertugas di dalam Gaza dan tinggal di Kibbutz terdekat mengungkapkan keprihatinannya “Gunungan sampah itu akan tetap di depan rumah kami seumur hidup. Apa logikanya membuang ribuan ton limbah hanya beberapa ratus meter dari rumah kita?”
Ketika beberapa prajurit mempertanyakan alasan pembuangan limbah di Gaza, para komandan menjawab bahwa “negara-negara asing akan segera masuk ke Gaza untuk mengawasi rekonstruksi, dan mereka yang akan menangani puing-puing ini.”
Baik Haaretz maupun media Israel lainnya menegaskan bahwa militer Israel belum memberikan tanggapan resmi atas laporan ini. Namun, Gaza Government Media Office menilai tindakan tersebut semakin memperparah bencana lingkungan dan struktural yang sudah melanda Gaza setelah dua tahun perang genosida yang menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil.
Menurut data lembaga tersebut, terdapat antara 65 hingga 70 juta ton puing dan reruntuhan akibat serangan Israel selama dua tahun terakhir termasuk sisa-sisa ribuan rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur vital yang sengaja dihancurkan. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan ancaman kesehatan dan lingkungan, tetapi juga menghambat operasi penyelamatan dan distribusi bantuan kemanusiaan, ditambah keberadaan sekitar 20.000 bahan peledak yang belum meledak di seluruh wilayah Gaza.
Pemerintah Gaza mendesak komunitas internasional untuk menunaikan tanggung jawab hukum dan kemanusiaannya dengan menekan Israel agar membuka perlintasan dan segera memulai proses pembersihan puing. Upaya ini dinilai penting untuk memulihkan kehidupan di Gaza yang kini telah berubah menjadi “zona bencana lingkungan dan struktural terbesar dalam sejarah modern.”
Sumber: Memo, Palinfo
![Anak-anak Palestina mencari barang-barang yang masih layak pakai di antara tumpukan sampah dan puing di Kota Gaza, Gaza, pada 21 Oktober 2025. [Hamza ZH Qraiqea – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/10/AA-20251022-39483278-39483271-GARBAGE_CONTINUES_TO_ACCUMULATE_IN_GAZA_CITY-1-750x375.webp)







