Israel telah melanggar gencatan senjata di Gaza sebanyak 47 kali sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada awal Oktober 2025. Akibat pelanggaran tersebut, 38 warga Palestina terbunuh dan 143 lainnya luka-luka.
Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, dan mengharuskan Israel menghentikan serangan militer di Gaza serta memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, pelanggaran yang dilakukan Israel mencakup penembakan langsung terhadap warga sipil, serangan artileri, penahanan warga, dan pengeboman kawasan permukiman. Dalam pelanggaran paling mematikan, sebuah tank Israel menembak kendaraan keluarga Abu Shaaban di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza, membunuh tujuh anak dan tiga perempuan yang tengah berusaha pulang ke rumah mereka.
“Sungguh, pendudukan masih haus darah dan terus melakukan kejahatan terhadap warga sipil tak bersenjata,” kata juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal.
Warga setempat, Nouran Mohamed, mengatakan bahwa “tidak ada gencatan senjata yang nyata. Setiap hari kami masih mendengar suara tembakan dan ledakan.”
Israel juga terus menutup perbatasan Rafah dengan Mesir, menghalangi masuknya bantuan ke Gaza. PBB dan organisasi kemanusiaan telah memperingatkan bahwa bantuan yang masuk masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dua juta penduduk Gaza.
Menurut Program Pangan Dunia (WFP), rata-rata hanya 560 ton makanan per hari yang berhasil masuk sejak gencatan dimulai. Angka ini masih di bawah kebutuhan minimum. Sementara itu, ribuan truk bantuan masih tertahan karena jalan-jalan hancur dan perbatasan ditutup, terutama di wilayah utara Gaza yang dilanda kelaparan paling parah.
“Rafah yang tetap tertutup hanya memperpanjang penderitaan rakyat Gaza,” ujar juru bicara UNICEF, Ricardo Pires.
Lembaga kemanusiaan internasional seperti MSF dan ICRC juga melaporkan bahwa rumah sakit di bagian utara Gaza masih nyaris tidak berfungsi dan banyak warga tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dasar.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan agar penutupan perbatasan Rafah tetap diberlakukan hingga pemberitahuan lebih lanjut, langkah yang jelas melanggar isi perjanjian gencatan senjata. Keputusan ini juga menghalangi ribuan warga Palestina, termasuk pasien dan pelajar, untuk kembali ke rumah mereka.
Israel menuduh Hamas memperlambat penyerahan jenazah tawanan Israel yang terbunuh. Namun Hamas menegaskan bahwa proses pencarian sangat sulit karena banyak jenazah tertimbun reruntuhan akibat kehancuran besar di Gaza, serta sebagian berada di wilayah yang kini diduduki Israel.
Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menyatakan bahwa mereka telah memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan, menyerahkan semua tawanan hidup serta jenazah yang berhasil ditemukan. “Kami terus berupaya keras untuk menemukan sisanya,” ujar pernyataan resmi kelompok tersebut.
Meski demikian, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz telah memerintahkan militer untuk menyiapkan rencana menyeluruh guna melanjutkan perang dan ‘mengalahkan Hamas sepenuhnya’ jika gencatan senjata gagal dipertahankan.
Hamas mengecam langkah-langkah Israel itu sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian dan upaya sabotase terhadap proses perdamaian” dan menilai Netanyahu menggunakan alasan tahanan untuk kembali melancarkan agresi.
Sumber: The New Arab








