Lebih dari 5.200 pemukim ekstremis Yahudi menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa pada pekan perayaan hari raya Yahudi, Sukkot, di bawah perlindungan ketat pasukan pendudukan Israel.
Sumber-sumber di Al-Quds (Yerusalem) melaporkan bahwa pada Ahad, sebanyak 2.205 pemukim memasuki kawasan Al-Aqsa, sehingga total serbuan sejak awal Sukkot mencapai 6.256 orang. Angka tersebut merupakan jumlah tertinggi dalam sejarah pelanggaran serupa selama musim keagamaan ini.
Peneliti urusan Al-Quds (Yerusalem) Ziyad Ibhais menyebut bahwa serbuan kali ini merupakan yang terbesar yang pernah tercatat selama perayaan Sukkot, melampaui rekor sebelumnya pada Oktober 2024. Ia memperingatkan bahwa peningkatan serbuan ini memberi ruang bagi kelompok ekstremis “Temple Mount” untuk memanfaatkan momentum dan memperkuat upaya yahudisasi Al-Aqsa, terutama di tengah diamnya dunia Arab dan Islam.
Sementara itu, Dr. Abdullah Marouf, pakar studi Al-Quds (Yerusalem), memperingatkan bahaya pada hari-hari terakhir Sukkot, khususnya Ahad dan Senin, yang biasanya menjadi puncak upaya kelompok ekstremis untuk melakukan ritual dan membawa persembahan ke dalam area masjid.
Ia juga menyoroti bahwa eskalasi ini bertepatan dengan peringatan dua tahun peristiwa 7 Oktober dalam kalender Ibrani, yang dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis dan gerakan Zionis religius untuk memperlihatkan kekuatan mereka di Al-Aqsa.
Menurut Dr. Marouf, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan berusaha mengaitkan pembebasan tawanan Israel dengan peringatan tersebut guna membangun narasi “kemenangan” di hadapan pendukung sayap kanannya.
Musim libur keagamaan Yahudi telah lama dianggap sebagai periode paling berbahaya bagi Masjid Al-Aqsa, karena selalu disertai peningkatan serbuan pemukim dan pelanggaran terhadap kesucian situs suci umat Islam itu.








