Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dan Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) tetap menolak menangguhkan keanggotaan Israel dalam kompetisi sepak bola, meski desakan internasional semakin kuat agar langkah serupa diterapkan seperti terhadap Rusia setelah invasi ke Ukraina.
Sejumlah pakar independen PBB dan organisasi hak asasi manusia menegaskan bahwa apa yang terjadi di Gaza merupakan genosida, dan menyerukan lembaga olahraga dunia untuk mengambil tanggung jawab etisnya. Namun, menurut laporan harian olahraga Prancis L’Équipe, sikap resmi dunia sepak bola belum berubah.
Aktivis, mantan atlet, dan tokoh politik terus meningkatkan protes terhadap partisipasi tim nasional maupun klub Israel di kancah internasional, di tengah anggapan keterlibatan Israel dalam genosida, kejahatan besar terhadap warga sipil Gaza sejak 7 Oktober 2023.
UEFA membantah adanya rapat darurat dan menegaskan bahwa pertemuan komite eksekutif tetap dijadwalkan pada 3 Desember. Presiden UEFA Aleksander Čeferin berulang kali menyatakan menolak menghukum atlet dengan mengecualikan mereka dari kompetisi, sikap yang berbeda dengan keputusan menyingkirkan Rusia pada 2022.
Sementara itu, FIFA hanya mewajibkan Israel menggelar pertandingan kandang di luar negeri, biasanya di Serbia atau Hungaria. Namun tekanan mulai terasa, terutama dari Spanyol. Juru bicara Partai Sosialis, Patxi López, bahkan menyebut tim nasional Spanyol bisa memboikot Piala Dunia 2026 jika Israel tetap diizinkan tampil. Perdana Menteri Pedro Sánchez sebelumnya juga menyerukan pelarangan Israel dari seluruh ajang olahraga internasional selama agresi di Gaza berlanjut.
Di luar sepak bola, gelombang protes juga muncul dalam ajang lain, seperti balap sepeda Vuelta a España, yang disertai seruan untuk mengecualikan tim Israel–Premier Tech.
Menurut Badan Olahraga Palestina, hingga kini lebih dari 810 atlet gugur akibat agresi Israel, termasuk sekitar 370 pemain sepak bola. Lebih dari 288 fasilitas olahraga hancur, sementara 119 atlet Palestina masih hilang dan 29 lainnya ditahan oleh pasukan Israel.
Sumber:
Palinfo








