Pertahanan Sipil Palestina pada Rabu (24/9) malam mengonfirmasi bahwa timnya gagal menemukan Ghada Rabah, seorang guru asal Gaza, di bawah reruntuhan rumahnya di Tel al-Hawa setelah berjam-jam pencarian.
Juru bicara Mahmoud Basal mengatakan tim hanya menemukan bangunan yang rata dengan tanah. “Kami bekerja lebih dari satu jam, tapi sayangnya tidak menemukan apa pun,” ujarnya kepada QNN. Menurutnya, pasukan Israel baru mengizinkan tim bergerak sekitar pukul 19.00, namun koordinasi kembali terhenti hampir satu jam. Tim baru mencapai lokasi pada pukul 21.00, saat rumah tersebut sudah hancur total.
Dua hari sebelumnya, Ghada sempat menghubungi kerabat dan organisasi kemanusiaan, memohon pertolongan ketika pasukan Israel mengepung rumahnya dan menembaki kawasan sekitar. Namun upaya penyelamatan berakhir sia-sia. Selama 72 jam, pertahanan sipil berulang kali meminta izin masuk. Ketika akhirnya diizinkan, rumah Ghada sudah dibom hingga rata dengan tanah.
Tragedi ini mengingatkan pada kasus Hind Rajab, bocah enam tahun yang terbunuh awal tahun lalu, tak jauh dari lokasi yang sama. Hind terjebak di dalam mobil bersama jasad keluarganya, memohon pertolongan lewat telepon selama berjam-jam, sebelum akhirnya Israel membunuhnya dan mengebom ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya.
Ghada Rabah dikenal sebagai guru yang penuh semangat, juga bekerja dengan lembaga nirlaba Amerika, yaitu the America-Mideast Educational and Training Services (AMIDEAST) dan memimpin yayasan Right to Play di Gaza. Rekannya, jurnalis Nour Osama, mengenangnya sebagai sosok yang selalu ceria dan dicintai murid-muridnya. “Bahkan saat sakit, ia tetap membuat muridnya merasa diperhatikan. Kehilangannya membuktikan bahwa rakyat Palestina menginginkan kehidupan, sementara Israel hanya membawa kematian dan kehancuran,” ujarnya.
Sumber: Qudsnen








