Sejak Israel melanjutkan serangan militernya di Gaza pada 18 Maret lalu, hampir 15 dari setiap 16 warga Palestina yang terbunuh adalah warga sipil, menurut data organisasi independen pemantau kekerasan Armed Conflict Location and Event Data (ACLED). Angka ini menjadikan tingkat korban sipil sebagai salah satu yang tertinggi sepanjang agresi, meningkatkan tekanan internasional terhadap Israel.
ACLED mencatat bahwa Israel mengklaim telah membunuh lebih dari 2.100 anggota kelompok bersenjata Palestina, namun data lapangan menunjukkan jumlah sebenarnya sekitar 1.100 orang. Itu pun mencakup figur politik Hamas serta pejuang dari kelompok lain. Sebaliknya, lebih dari 9.500 korban jiwa akibat 3.500 serangan udara sejak Maret diyakini mayoritas adalah warga sipil.
Selain korban jiwa, kerusakan infrastruktur Gaza meningkat drastis. Antara 11 Agustus hingga 13 September, lebih dari 3.600 bangunan hancur total atau rusak berat di Kota Gaza, ditambah sekitar 13.000 tenda pengungsi yang musnah. Data lain menunjukkan lebih dari 230 gedung pemerintahan dihancurkan, sementara jaringan listrik, air, kesehatan, dan pendidikan juga mengalami kerusakan luas.
ACLED juga menyoroti tingginya jumlah warga sipil yang terbunuh saat mencari bantuan kemanusiaan. Dari akhir Mei hingga 12 September, lebih dari 1.300 orang terbunuh di sekitar pusat distribusi bantuan, sebagian besar akibat tembakan tentara Israel. Distribusi yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yaitu lembaga yang didukung AS dan Israel dinilai “kacau” karena hanya membuka akses sebentar dan menaruh bantuan di area terbuka, sehingga ribuan orang kelaparan berdesakan. Meski ada peningkatan penjarahan bantuan, ACLED tidak menemukan bukti bahwa Hamas secara sistematis menyelewengkan bantuan, seperti yang kerap dituduhkan Israel.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa sejak 18 Maret hingga pertengahan September, sebanyak 12.622 warga Palestina terbunuh dan 54.030 terluka, dengan hampir 2.000 korban berasal dari Kota Gaza dalam satu bulan terakhir.
Di sisi politik, ACLED menilai operasi Israel kini lebih digerakkan oleh motif domestik dan ideologis ketimbang tujuan realistis membebaskan tawanan atau menciptakan stabilitas jangka panjang. Israel juga dinilai menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai senjata, memperburuk penderitaan warga Gaza tanpa memaksa Hamas menyerah.
Sejak 7 Oktober 2023, agresi Israel telah membunuh lebih dari 65.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta memicu kelaparan yang merenggut ratusan nyawa. Gaza kini berada di ambang kehancuran total, sementara dunia internasional terus menyerukan akuntabilitas atas dugaan genosida dan kejahatan perang Israel.
Sumber:
MEMO, The New Arab








