Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa rumah sakit di Gaza berada di “ambang kehancuran” seiring invasi darat Israel yang semakin dalam ke Kota Gaza. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan serangan ini memicu gelombang baru pengungsian dan memaksa keluarga yang trauma menuju wilayah yang semakin sempit dan tidak layak huni. “Mereka yang terluka atau penyandang disabilitas tidak dapat menyelamatkan diri, nyawa mereka dalam bahaya besar. Kami menyerukan gencatan senjata segera,” katanya.
Saat ini, hanya dua rumah sakit di Kota Gaza, Al-Shifa dan Al-Ahli yang masih berfungsi sebagian. Sementara itu, ribuan warga sipil terus dipaksa mengungsi setiap hari akibat pengeboman tanpa pandang bulu. Banyak keluarga terpaksa berjalan kaki sejauh 22 km menuju zona yang disebut “aman” di Al-Mawasi. Namun, wilayah tersebut padat, miskin fasilitas, dan juga kerap diserang Israel. PBB menyatakan bahwa kondisi kemanusiaan di sana sangat mengenaskan, ditambah dengan penyebaran penyakit akibat sanitasi yang buruk.
Di lapangan, Israel memperhebat serangan dengan terus menghancurkan menara, gedung perumahan, sekolah, masjid, rumah sakit, hingga tenda pengungsi. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menyebut serangan ini ibarat “lava vulkanik yang membakar tanah dan segala yang ada di atasnya.” Pemerintah Gaza menegaskan bahwa pola serangan ini jelas merupakan upaya pemusnahan dan pemindahan paksa.
Meski demikian, lebih dari satu juta warga Palestina tetap bertahan di Gaza utara. Dari 1,3 juta penduduk Kota Gaza dan sekitarnya, sekitar 190 ribu mengungsi ke selatan, namun 15 ribu di antaranya kembali karena kondisi “zona aman” yang sama sekali tidak layak hidup. Otoritas lokal menilai Israel sedang berupaya memaksa 1,7 juta orang hidup berjejalan, terkonsentrasi di area yang hanya 12 persen dari luas Jalur Gaza. Secara singkat, praktik ini menyerupai “kamp konsentrasi.”
Serangan terbaru berlangsung bersamaan dengan laporan Komisi HAM PBB yang menegaskan Israel telah melakukan genosida di Gaza. Namun, di Israel, operasi militer ini justru dirayakan, bahkan Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut “Kota Gaza sedang terbakar.”








