Pada Selasa (16/9) lalu, serangan udara Israel menargetkan sebuah mobil yang membawa keluarga pengungsi dari Kota Gaza, membunuh sedikitnya lima warga Palestina, termasuk anak-anak. Kemudian pada Kamis, seorang perempuan pengungsi, Najwa Tanbura, yang mengungsi dari Beit Lahiya menuju Kota Hamad dekat Khan Younis, juga terbunuh akibat tembakan Israel di zona yang diklaim “aman”.
Ribuan warga Palestina terus dipaksa mengungsi setiap hari akibat pengeboman tanpa pandang bulu di Kota Gaza. Banyak keluarga bergerak ke selatan menuju zona al-Mawasi yang padat dan berulang kali diserang. Menurut sumber lokal, Kota Gaza sedang dikosongkan secara sistematis, gedung demi gedung, keluarga demi keluarga. Serangan Israel menghancurkan menara, gedung perumahan, sekolah, masjid, rumah sakit, dan tenda pengungsi, yang menurut Otoritas Media Pemerintah Gaza merupakan bagian dari “pemusnahan dan pemindahan paksa” warga.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menggambarkan serangan itu seperti “lava vulkanik yang membakar tanah dan segala isinya.” Sementara itu, Israel melanjutkan rencana okupasi Kota Gaza dan pembersihan etnis di bagian utara kota. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan dimulainya operasi militer “Gideon’s Chariots 2,” yang disambut dengan perayaan di Israel.
Meskipun mendapat ancaman pengungsian dan pengungsian yang tak henti, lebih dari satu juta warga Gaza utara tetap berdiri teguh di tanah mereka. Dari 1,3 juta penduduk di Kota Gaza dan sekitarnya, sekitar 190 ribu telah mengungsi ke selatan, sementara 15 ribu kembali ke utara karena kondisi “zona aman” yang tidak layak huni.
Otoritas Gaza menegaskan, taktik pemindahan paksa ini merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, jelas melanggar hukum internasional dan hukum humaniter.
Sumber:
Qudsnen








