Paus Leo XIV menyuarakan keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza, seraya mengkritik minimnya langkah efektif untuk meringankan penderitaan warga sipil, meskipun ada tekanan dari Amerika Serikat terhadap Israel.
“Meski ada tekanan dari Amerika Serikat, termasuk pernyataan yang sangat jelas dari Presiden Trump, belum terlihat respons nyata untuk menemukan cara efektif mengurangi penderitaan rakyat Gaza yang tak bersalah. Hal ini tentu sangat memprihatinkan,” ujar Paus dalam wawancara dengan Penguin Peru.
Ia menyoroti kebutuhan mendesak warga Gaza, khususnya anak-anak, yang sangat membutuhkan bantuan medis dan kemanusiaan guna menghadapi situasi yang disebutnya “sangat gawat.” Paus juga mengingatkan agar dunia tidak menjadi kebal rasa terhadap penderitaan ini. “Itu memang respons manusiawi, karena seseorang hanya bisa menanggung rasa sakit hingga batas tertentu,” tambahnya.
Terkait apakah situasi di Gaza dapat dikategorikan sebagai genosida, Paus menyatakan bahwa Takhta Suci belum dapat memberikan deklarasi resmi. “Ada definisi teknis tentang apa yang dimaksud dengan genosida, namun semakin banyak pihak yang menyoroti isu ini, termasuk dua kelompok HAM di Israel yang sudah menyatakannya,” jelasnya.
Sementara itu, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina baru-baru ini menyimpulkan bahwa pasukan Israel telah melakukan “empat dari lima” tindakan genosida sebagaimana didefinisikan dalam Konvensi Genosida 1948 yaitu membunuh anggota suatu kelompok, menyebabkan penderitaan fisik dan mental yang serius, dengan sengaja menciptakan kondisi kehidupan untuk menghancurkan kelompok tersebut, serta mencegah kelahiran.
Dalam wawancara itu, Paus Leo XIV juga menyinggung politik AS. Ia mengatakan bahwa latar belakangnya sebagai orang Amerika membantunya memahami konteks negara tersebut, meski ia menegaskan tidak akan terlibat dalam politik partisan. Paus mengakui bahwa Amerika Serikat merupakan pemain kekuatan global yang sering membuat keputusan lebih berdasarkan kepentingan ekonomi daripada martabat dan kemanusiaan. “Namun kita harus terus menantang dan mengajukan pertanyaan guna menemukan cara terbaik untuk merespons,” ujarnya.








